06 February 2016

Review: The Finest Hours (2016)


"We all live or we all die."

Apakah kamu ingin menciptakan sebuah disaster drama? Caranya gampang, masukkan karakter kedalam masalah, berikan mereka tantangan di dalam masalah, up and down sembari tetap ciptakan impresi bahwa ada celah kecil yang harus mereka ubah menjadi besar untuk dapat selamat. Terkesan gampang memang dan faktanya memang gampang jika kamu hanya sebatas ingin menciptakan produk yang formulaic, sebuah produk yang tidak ingin mencoba menjadi sebuah disaster drama yang berbeda dari film-film lain yang telah mencoba melakukan hal serupa. The Finest Hours seperti itu, ia bahagia menjadi kemasan yang biasa.

Blogger Tricks

05 February 2016

Review: The Priest [2015]


Menemukan film misteri dan horror yang mampu membuat penontonnya kaget atau terkejut itu sangat mudah, yang tidak mudah adalah menemukan yang tidak cuma sekedar mampu mencengkeram penonton namun juga menyuntikkan rasa realisme sehingga perlahan berhasil membuat penonton merasa yakin bahwa ada hantu atau setan di dalam cerita. Film supernatural thriller asal Korea ini berhasil melakukan hal tersebut, The Priest (Geomeun Sajedeul), sebuah treatment yang manis dan efektif terhadap isu dan genre dengan menggunakan aksi pengusiran setan sebagai senjata utamanya.

03 February 2016

Review: Dirty Grandpa (2016)


"Party 'till you're pregnant!"

Jika para aktor dan aktris yang telah berlaga di berbagai penghargaan film, bahkan mereka yang telah berhasil memenangkan posisi tertinggi diberikan pertanyaan apa yang mereka cari dari pekerjaan sebagai aktor dan aktris, maka akan lebih mudah menemukan mereka yang menjawab uang sebagai pilihan utama. Jennifer Lawrence telah menggenggam Oscars namun meraih uang dengan di The Hunger Games serta X-Men, bahkan Leonardo DiCaprio yang mungkin soon-to-be Oscars winner mengatakan “I don’t rule out anything” untuk role di film superhero. Strategi dalam memilih film merupakan sesuatu yang sangat krusial, sayangnya Robert DeNiro kurang tepat dalam mengatur strategi dan memilih tampil di film ini, an autopilot disaster.

31 January 2016

Movie Review: Surat Dari Praha (2016)


"Lebih baik katakan apa adanya bila memang rindu."

Ini merupakan satu pertanyaan klasik yang pasti akan selalu menimbulkan perasaan bingung serta jawaban yang beragam:  apa makna cinta bagi anda? Apakah cinta harus memiliki, menuntut usaha dan totalitas untuk diraih karena waktu takkan mampu berpihak pada perasaan yang meragu dan mencoba menunggu? Atau apakah cinta tidak harus memiliki, sebatas bahagia melihat yang anda cintai bahagia bersama yang lain meskipun kemudian anda harus berteman sepi dan berkawan kelam karena percaya bahwa daun saja tidak sia-sia jatuh ke bumi? Pertanyaan tadi yang “dipermainkan” dengan manis oleh film ini, Surat Dari Praha, an understated love story.

Review: Kung Fu Panda 3 (2016)


"If you only do what you can do, you'll never be better than what you are."

Rentang waktu lima tahun memang tidak singkat, namun tidak seperti Sherk yang perlahan mulai kehilangan pesona di sekuel yang silih berganti hadir film ketiga dari Kung Fu Panda ini justru berhasil melakukan hal sebaliknya. Kung Fu Panda 3 merupakan kelanjutan penuh “respect” kepada Po dan keluarga panda serta teman-teman binatangnya itu, masih dengan karakter yang memiliki pesona serta humor yang penuh energy berhasil menjadi sebuah animasi yang tidak hanya memperdaya penonton lewat visual namun juga cerita yang mengandalkan isu sikap positif. We missed you, Po. Welcome back.

Review: The Revenant [2015]


"I ain't afraid to die anymore. I'd done it already."

Setelah mencuri atensi sebagai Arnie Grape, kemudian menjadi Romeo, menjadi Jack yang rela mati tenggelam demi Rose, menjadi pilot, menjadi smuggler, menjadi investigator, berpura-pura menjadi penjahat, berpetualang dalam mimpi, hingga menjadi stockbroker Wall Street, akhirnya, Leonardo DiCaprio, dengan meraung dan bergulat bersama beruang kini berada di posisi di mana banyak orang mengatakan merupakan titik terdekatnya dengan piala Oscars yang belum pernah ia genggam. The Revenant, punya visual cantik, punya kinerja penuh komitmen dari Leonardo DiCaprio, 12 nominasi Oscars, Alejandro González Iñárritu's best movie since Birdman.

Review: The Dressmaker [2015]


"I'm back, you bastards."

The Dressmaker seperti sebuah pizza dengan topping yang beraneka ragam. Dari judulnya hal pertama yang terlintas di pikiran kamu mungkin adalah tentang fashion yang memang menjadi pusat utama cerita namun materi itu tidak sendirian, kamu akan menemukan komedi dengan nada hitam, sebuah misteri tentang pembunuhan, hingga kisah asmara yang sensual. Tapi menariknya film yang juga mengusung kisah balas dendam ini walaupun bermain dengan ledakan tetap terasa hangat, seorang wanita yang menggunakan pendirian kerasnya ingin membantu orang-orang di sekitarnya untuk berubah menjadi lebih baik. Ini seperti Chocolat yang menikah dengan fashion dan menjadi liar.