23 April 2014

Movie Review: Locke (2013)


“You make one mistake, the whole world comes crushing down around you.”

No matter what the situation is, you can make it good. Bukankah kalimat tadi memberikan kesan yang sangat positif, seolah menjadi penggambaran lain dari bagaimana semua masalah yang tercipta sesungguhnya punya jalan keluar yang juga telah eksis dan menanti kita untuk menemukannya. Tapi tekanan terkadang yang menjadikan kalimat tersebut tidak semudah yang kita bayangkan, air berubah menjadi api, yang waras dapat menjadi gila. Penggabungan dua teori tersebut yang dihadirkan secara sederhana oleh film ini, Locke, bold and smart experimental character study about human vs trouble. The power of storytelling, Buried in a car.

Blogger Tricks

Movie Review: Blood Ties (2013)


"Some guys, the don't keep their promises." 

There’s no limit for family. Anda boleh bimbang ketika hendak melakukan sesuatu untuk kekasih anda, rasa ragu ketika akan memberikan pertolongan kepada sahabat terbaik anda, namun hal tersebut tidak boleh hadir jika sudah mengikut sertakan masalah terkait keluarga anda didalamnya. Ya, tidak ada kalimat “how far” dalam hubungan keluarga, help each other in sadness and happiness. Hal tersebut yang coba digambarkan oleh film ini, Blood Ties, dark and soft family story.   

20 April 2014

Movie Review: Le Week-End (2014)


"Love dies. Only if you kill it."

Bukankah sesuatu yang indah ketika melihat sepasang kakek dan nenek berjalan berdampingan sembari bergandengan tangan dengan mesra. Indah karena mereka dapat mempertahankan cinta yang mereka punya dalam jangka waktu lama, komitmen yang pernah mereka buat ketika mengucapkan janji suci, saling berkorban untuk menjadikan pernikahan itu terus bekerja dan tidak mati. Hal manis tadi digambarkan film ini dengan menggunakan gesekan menyenangkan, Le Week-End, a sweet and mature marriage dilemma. Before Midnight lite.    

18 April 2014

[Special Feature] Fargo, smart and funny morally ambiguous


"Some roads you shouldn't go down because maps used to say there'd be dragons there. Now they don't, but that don't mean the dragons aren't there."

Hype yang ia ciptakan memang tidak begitu besar, namun sejak tahun lalu Fargo telah menjadi bagian dari rorypnm’s most anticipated tv-series. Yap, Fargo yang itu, black-comedy crime pemenang Oscar tahun 1996, menjadi basic dari jagoan terbaru FX ini. Enam episode pertama berada dibawah kendali sosok berpengalaman yang telah bermain-main di berbagai tv-series seperti Californication, It's Always Sunny in Philadelphia, Parks and Recreation, The Office, Scrubs, 30 Rock, hingga Breaking Bad, dengan cerita disusun oleh novelis yang pernah berkontribusi di Bones, serta yang terpenting ikut melibatkan Coen Brothers, baik di bagian produksi hingga writing credit. So, is it that great? Not yet, but the first impression is absolutely impressive. It’ll be easy to love "Fargo" if you already love "Fargo".

Movie Review: Transcendence (2014)


"Humans are born, not programmed."

Anda pasti pernah mendengar prediksi yang mengatakan beberapa puluh tahun dari sekarang manusia tidak hanya akan bersaing dengan sesama manusia, melainkan juga teknologi yang mereka ciptakan. Positif dan negatif hadir pada obsesi manusia untuk terus bergerak maju, eksplorasi ilmu pengetahuan yang dapat menciptakan mahakarya namun dapat pula menghadirkan bencana. Isu tersebut yang dibawa oleh film ini, mempermainkan simbiosis antara manusia dan teknologi, seolah mengajak penonton untuk berseru “let’s set the limit.” Transcendence, clever ideas in tangled structure. It should be a love story.