28 March 2015

PnM Music Chart - 032815


Komentar "siluman" dari rorypnm


Pada awalnya saya beranggapan hal ini merupakan sesuatu yang tidak akan menjadi begitu besar ketika mengetahui bahwa ada satu akun yang “mengatasnamakan” dirinya sebagai rorypnm untuk kemudian memberikan komentar yang “menyerang” dan “menyudutkan” penulis di sebuah tulisan dengan judul “Bisakah Senyap Dipercaya?” pada website bernama cinemapoetica.com. Namun ketika saya kembali ke tulisan tersebut satu hari (28/3) setelah mengetahui “kasus” tersebut saya terkejut karena menemukan dua hal: yang pertama image buruk terhadap rorypnm telah terbentuk, berikutnya ada akun baru yang kali ini menggunakan nama saya dan kemudian tanpa tahu malu justru mencoba meminta maaf atas komentar dari rorypnm di bagian awal. Oh my God!!! 

27 March 2015

Review: Tracers (2015)


"It's not a crime if they can't catch you."

Ketika dua rekannya sesama jebolan “Akademi Twilight” perlahan namun pasti mulai membuka mata dunia bahwa mereka tidak menarik di film vampire tersebut bukan berarti kualitas akting mereka yang buruk, Taylor Lautner justru masih terus berusaha untuk menemukan jalan agar dapat mengikuti jejak serupa dengan Robert Pattinson dan Kristen Stewart. Masalah utama bagi Lautner adalah ia belum memperoleh proyek yang menantang, jika tidak mengandalkan fisik (Valentine's Day, Grown Ups 2) karakter yang ia mainkan selalu berlari, dari Abduction, kemudian yang terbaru ini Tracers, bahkan proyek selanjutnya punya potensi tampil serupa. Good luck for you Taylor Lautner.

26 March 2015

Review: Kidnapping Mr. Heineken (2015)


"It was the perfect crime until they got away with it."

Semua genre film memiliki sesuatu yang sensitif dimana jika hal tersebut tidak dapat ia olah dengan baik dan benar maka dampak yang akan ia peroleh akan besar. Apakah dampaknya seburuk itu? Memang jika hal sensitif tadi bersifat minor ia bisa saja tidak akan menghasilkan masalah yang begitu berarti, namun bagaimana jika bersifat major? Contoh terbarunya adalah film Kidnapping Mr. Heineken, karya terbaru dari sutradara The Girl Who Played with Fire dan The Girl Who Kicked the Hornets' Nest, sebuah film yang seharusnya memberikan penonton sajian crime drama namun justru berubah menjadi sebuah piknik atau tamasya yang dilakukan sekelompok pria. The boys who rob like a picnic. 

Review: The Cobbler (2015)

 

"Leave your life in someone else's shoes.”

Mungkin teka-teki apakah Adam Sandler masih punya starpower sekarang sama menariknya dengan misteri apakah segitiga Bermuda benar-benar punya kekuatan magis, bahkan jika harus dibandingkan dengan pertanyaan apakah alien itu ada? Alasannya adalah karena Adam Sandler seperti perahu yang terombang-ambing di lautan lepas dan terus berhadapan dengan terjangan ombak besar tapi anehnya ia masih tetap bisa berlayar. Hal pertama yang terlintas setiap kali hendak menyaksikan film terbarunya (termasuk The Cobbler) adalah apakah film tersebut mampu membawa Adam Sandler keluar filmography monoton miliknya yang semakin lesu dalam hal kualitas? Impresi awal yang sangat menyedihkan.

22 March 2015

Review: It Follows (2015)


“It could look like someone you know, or it could be a stranger in a crowd, whatever helps it get close to you.”

Hype itu sebenarnya sebuah kata yang manis tapi juga pahit dalam movie experience dan dampak yang ia hasilkan kerap begitu besar terutama pada genre horror dimana range antara ekspektasi dan hasil dilapangan yang tercipta dapat dengan mudah tampil begitu ekstrim. Contohnya seperti Insidious, dan saya juga semakin waspada apakah Sinister 2 dapat mencapai level yang sama dengan pendahulunya. Horor Indie berjudul "It Follows" ini juga punya potensi besar untuk membuat kamu terjebak kedalam hype, they even called it “one of the most striking American horror films in years.” Apakah itu benar? Absolutely yes. It Follows is one of the “sweetest” horror in a decade who can still be delicious one maybe even two or more decades from now. This thing, it's going to follow you!!