29 June 2014

Review: The Fault in Our Stars (2014)


"I'm in love with you, and I'm not in the business of denying myself the simple pleasure of saying true things."

Ada sebuah rasa takjub ketika saya menutup lembaran terakhir novel karya John Green kala itu, bagaimana ketika sebuah hal sempit dan sederhana yang dimanipulasi sedemikian rupa membawa pembacanya hanyut kedalam sebuah kisah cinta serta perjuangan penyakit kronis yang mampu bermain-main dengan manis bersama realitas antara kehidupan serta kematian. Film ini berhasil mentransfer kenikmatan tadi ke dunia nyata, The Fault in Our Stars, a sweet and sour story about some infinities are bigger than other infinities. Pain demands to be felt. Always.

Tidak ada rasa jengkel dari wanita bernama Frannie Lancaster (Laura Dern) dari tingkah sarkastik anak perempuannya, Hazel Grace Lancaster (Shailene Woodley), karena dapat melihatnya tersenyum saja sudah menjadi sebuah kebahagiaan yang ingin Frannie nikmati sekecil apapun itu bersama suaminya Michael (Sam Trammell). Paru-paru Hazel telah berisikan sebuah kanker thyroid, aktivitas berat menjadi hal tabu, sebuah tangki oksigen menjadi benda wajib yang harus selalu ada disampingnya, dan rasa waspada akan datangnya kematian telah menjadi bagian dari keluarga Lancaster.

Namun dibalik keterbatasan tadi Frannie ingin agar putrinya itu dapat menikmati kehidupan normal dan keluar dari depresi miliknya, tertawa bahagia layaknya remaja 16 tahun, yang kemudian menjadikan Hazel dengan berat hati bergabung kedalam sebuah support group para penderita kanker. Disana ia bertemu dengan Patrick (Mike Birbiglia), Isaac (Nat Wolff), dan teman baru lainnya, namun pria muda bernama Augustus Waters (Ansel Elgort) memberikan impresi yang berbeda bagi Hazel, berawal dari oblivion, An Imperial Affliction, hingga Peter van Houten (Willem Dafoe), keduanya menemukan kebahagiaan yang selama ini absen dari kehidupan mereka.


Seperti yang telah disebutkan di versi pertama sulit untuk menampik bahwa The Fault in Our Stars memang tampak seperti service bagi penonton yang sebelumnya telah membaca novel karya John Green itu. Dari sinopsis hingga alur, ini terasa luas, terasa familiar, dari konflik dasar hingga menyentuh elemen detail lainnya tidak menyajikan sesuatu yang terasa baru dan segar lagi di dunia young adult, sebuah roman berisikan anak muda yang seolah terus mengemis simpati dari perjuangan mereka bertarung dengan penyakit kronis. Akan terasa biasa, tidak ada yang special dari kisah yang mereka bawa, mungkin terasa kosong, hambar, dan murahan bagi beberapa penonton, tapi hasil yang berbeda muncul jika berbicara tentang sisi lain dari sebuah drama tearjerker seperti ini: emosi.

Sebenarnya ada sedikit rasa jengkel ketika banyak kalimat-kalimat indah coba dimasukkan kedalam dialog hingga beberapa terkesan dipaksakan, tapi memang itu cara termudah untuk membangun set dari karakter hingga konflik, alasan utama mengapa TFIOS mampu mencengkeram atensi dengan cepat di awal dan mempertahankannya hingga akhir. Josh Boone ternyata tidak kalah cerdik dalam memutar-mutar naskah yang ditulis ulang oleh Scott Neustadter dan Michael H. Weber, ia tidak melepaskan cerita untuk menjadi objek liar yang menuntut penonton untuk berusaha sendiri ketika mengamati, dan memilih menggunakan cara mendongeng dimana membawa kita secara bertahap menelusuri kompleksitas perasaan dan jiwa manusia dengan fokus kuat pada the power of love.


Ya, ketika anda dengan mudah memaafkan cara bermain standard dan klise yang ia terapkan anda akan dengan mudah pula terjebak kedalam sebuah petualangan singkat terkait kekuatan cinta yang bekerja pada jiwa-jiwa yang terisolasi itu. Ada percintaan remaja yang dibentuk dengan menggunakan formula standard namun mampu memperlakukan materinya dengan bijaksana, selalu mampu untuk menghindar dari kemungkinan jatuh terlalu mellow dan murahan, dari penggunaan kata cantik, kemudian tatapan mata dan senyum yang sederhana, hingga tangga curam di Anne Frank House yang mampu membuat perasaan terenyuh, ada mix yang manis dimana ia dengan berani untuk tampil klise tapi turut pula memberikan isi yang kuat didalamnya sehingga menyeimbangkan kesan palsu bersama kejujuran dan juga ketulusan.

The Fault in Our Stars bukan film yang hanya akan memberikan kesenangan bagi remaja tapi disisi lain akan terasa menjengkelkan bagi orang dewasa, karena ada jembatan yang menghubungkan keduanya untuk berkombinasi. Point of view adalah alasannya, ada jiwa cukup dewasa didalam karakter remaja, menjadikan mereka bukan hanya terlihat sebatas seperti boneka yang hanyut terombang-ambing dalam masalah dan cinta super klise, tapi seorang manusia berharga dengan masalah yang tanpa kesan membebani mampu membuat penonton merasa terlibat didalamnya. Hal yang paling dicemaskan pada kemungkinan minimnya unsur keluarga didalam cerita bahkan tidak terjadi, dengan gairah yang sama kuatnya turut sukses menghantarkan makna cinta dan kehidupan dengan baik.


Tidak ada hal yang mengganggu? Diluar rasa kesal pada salah satu bagian terbaik di Oranjee yang nyatanya di shoot indoor tanpa pohon elm, The Fault in Our Stars punya satu kekurangan lainnya: tidak megah. Keindahan asam dan manis yang mengandalkan sensitifitas terkait perjuangan pada hidup itu memang menciptakan rasa puas dengan paduan warna-warni materi yang menarik, namun mereka hanya mencapai kaki bukit, bukan titik puncaknya. Alur cerita hingga humor yang terbentuk dengan baik serta dialog cerdas yang terbentuk dengan tajam, mereka tidak mampu mendongkrak nilai sisi drama untuk menjadi kesatuan yang dapat membuat penontonnya memikirkan kembali kisah mereka lagi dan lagi setelah selesai.

Bukan berarti buruk, takdir yang menyakitkan itu juga tetap berhasil digambarkan dengan baik serta mudah diikuti dan dipahami, tapi rasa takjub seperti yang disinggung di awal tadi tidak ada disini. Dan ini yang terasa aneh karena TFIOS bergabung dengan TheSpectacular Now & Divergent, film dimana Shailene Woodley tampil memikat namun tidak punya power yang sangat kuat untuk mencapai potensinya sebagai kemasan yang memorable seperti The Descendants. Ansel Elgort juga mampu menjadi penyeimbang suka dan duka yang dibawakan oleh Shailene Woodley dengan lembut, ada chemistry yang baik meskipun kerap terasa dipaksakan. Tapi anehnya dibalik aksi saling goda dua karakter kehadiran scene stealer tidak dapat terelakkan, dan dia adalah Laura Dern dengan senyum penuh kepedihan itu.


Overall, The Fault in Our Stars adalah film yang memuaskan. Dengan cara klasik dan klise Josh Boone berhasil membawa kisah percintaan itu menjadi sebuah petualangan singkat yang dipenuhi dengan gairah cinta yang manis dan menyenangkan serta melodrama yang dibentuk dengan berani seolah tidak tahu malu namun dalam komposisi yang sangat pas. Tidak ada super special dari akting, cerita, hingga cara ia dibangun, dan akan sedikit mengecewakan bagi mereka yang menaruh ekspektasi tinggi, tapi ketika bersatu mereka punya apa yang kita harapkan dari drama tearjerker seperti ini: emosi yang mempesona. Manis. Segmented.







0 komentar :

Post a Comment