Showing posts with label Bella Heathcote. Show all posts
Showing posts with label Bella Heathcote. Show all posts

Review: Fifty Shades Darker (2017)


"I don't know whether to worship at your feet or spank you."

Sulit untuk menampik bahwa ‘Fifty Shades of Grey’ merupakan sebuah erotic romantic drama film yang terasa medioker meskipun ia berhasil meraup $571 juta, lebih dari sepuluh kali lipat dari budget yang ia punya. Hingga ketika review ini ditulis penerusnya, ‘Fifty Shades Darker’ ternyata telah menjadi “follow-up” yang baik bagi ‘Fifty Shades of Grey’ di box office, namun pertanyaannya adalah bagaimana dengan kualitas yang ia punya? Apakah saga berisikan jeratan asmara di antara Mister Grey dan Anastasia yang dipenuhi BDSM itu berkembang ke arah yang lebih baik ketimbang kontes saling bertatap mata di antara dua jiwa yang “rusak” untuk kemudian diselesaikan dengan having sex?

Review: The Neon Demon (2016)


"You’re a dangerous girl."

Setelah berhasil meraih atensi penonton luas lewat sebuah kemarahan yang dikemas ramping, Drive, lalu kemudian memperoleh track sedikit menurun lewat Only God Forgives, sutradara Nicolas Winding Refn kembali mencoba bermain nakal dengan sinematik ekstrim di fitur terbarunya ini, The Neon Demon. Ini seperti usaha yang "lebih gila" dan sedikit lebih besar, mencoba menampilkan berbagai ide lewat obsesi seksual dan dunia modelling dalam sebuah psychological horror yang abstrak. Apakah ini melanjutkan baton dari Drive, atau baton dari Only God Forgives? Sadistic "pleasure" under the guise of art, The Neon Demon is an underbaked, flimsy, but glossy nonsense. It's like "confused Malick" have fun at discotheque.

Review: Pride and Prejudice and Zombies [2016]


"Daughters do not dance well with masticated brains."

Ide dari novel Pride and Prejudice and Zombies yang mencoba menulis ulang kisah klasik karya Jane Austen dengan modifikasi kecil berupa menambahkan zombie ke dalam cerita merupakan sebuah tindakan yang walaupun kamu tidak pernah membacanya pasti akan menimbulkan rasa penasaran yang begitu besar. Apa yang akan dilakukan oleh para zombie di dalam kisah yang berasal dari sebuah novel of manners yang mencoba membawa pembacanya lebih ke arah berpikir serta menghargai isu tentang kelas sosial? Manusia vs zombie? Ya, benar, Pride and Prejudice and Zombies merupakan panggung sandiwara antara zombie dengan manusia.

Review: The Rewrite (2014)


Film terbaru dari penulis Miss Congeniality ini adalah sebuah hiburan yang licik, ia seperti tahu apa saja materi yang dapat ia manfaatkan untuk menarik perhatian penonton, kemudian mempertahankan atensi mereka, semua untuk melindungi berbagai kelemahan yang ia miliki. Hasilnya tidak begitu buruk, ia standard bahkan terasa sangat lunak, tapi at least The Rewrite mampu memberikan sebuah rom-com klise dan klasik yang cukup menghibur di beberapa bagian kecil.

Movie Review: Not Fade Away (2012)


Faktor utama yang menjadikan film yang mengusung tema coming-of-age tampil menarik adalah ketika ia mampu menghadirkan kisah yang sebenarnya sederhana, namun mampu membuat anda yang menyaksikannya seolah merasa menjadi karakter dalam film tersebut. Not Fade Away, film layar lebar pertama dari David Chase (The Sopranos), sebuah film yang mampu sejenak menggoyang hype dari The Perks of Being a Wallflower di ingatan saya pada kategori ini.