Showing posts with label Ben Affleck. Show all posts
Showing posts with label Ben Affleck. Show all posts

Movie Review: The Way Back (2020)


I made a lot of bad decisions.

Selalu senang rasanya jika berhasil menemukan film yang berhasil membawa para penontonnya masuk ke dalam perjuangan yang sedang dihadapi oleh karakter di dalam cerita, lalu merasa terikat dan ikut larut di dalam perjuangan tersebut, merasakan berbagai ledakan emosi namun dengan cara yang halus. Hal terakhir tadi bukan hal yang mudah untuk dicapai, teriakan keras di sana-sini belum tentu membuat sebuah cerita memiliki kualitas emosi yang menarik. 'The Way Back' : Ben Affleck with his best ever performance.

Review: Live by Night (2016)


"We’re all going to hell."

Jika kamu masih ingat salah satu topik menarik di antara moviegoers pada tiga tahun yang lalu mengandung sutradara film ini di dalamnya, yaitu Ben Affleck. Saat itu Ben terpilih untuk memerankan Batman pada rencana besar DC membangun universe mereka dan kemudian hadir pertanyaan apakah Ben layak untuk memerankan tokoh ikonik tersebut. Tapi hal lain yang juga tidak kalah menarik adalah dengan terpilihnya dia sebagai Batman lalu bagaimana dengan kiprah karir Ben Affleck yang kala itu sedang mekar sebagai sutradara mengingat setahun sebelumnya ia memproduksi Argo. Now he’s back with ‘Live by Night’, but, yeah, he’s back.

Movie Review: The Accountant (2016)


"Who are you?"

Jika memperhatikan secara seksama poster di atas maka mungkin akan terasa aneh mendapati sebuah film dengan judul yang mengandung kata akuntan justru tampil dengan senjata dan mencoba menciptakan kesan “mematikan”. Faktanya hal tersebut bukan sebuah upaya “menipu” yang dilakukan oleh film ini, dua hal tadi mencoba bergabung untuk menciptakan sebuah puzzle penuh kerumitan, bermain dengan masalah keuangan dengan sedikit sentuhan studi karakter lalu membungkus mereka bersama rasa yang kerap kita temukan dari berbagai film superhero terlebih dengan karakter yang memiliki semacam “superpowers” menarik. Itu tadi merupakan sebuah kombinasi yang unik, namun menjadi unik bukan sebuah jaminan akan sepenuhnya berhasil menjadi hiburan yang menarik. The Accountant: when "Nemo" trying to look like a shark, it’s a robotic John Wick.

Movie Review: Suicide Squad (2016)


"I’m bored. Play with me!"

Akhirnya mereka tiba, salah satu dari sekian banyak highly anticipated film tahun ini, menilik teaser yang ia lempar juga menyandang status dan hype sebagai film pertama di DC Extended Universe yang mencoba sedikit menggeser serious stuff dari panggung utama untuk kemudian tampil a la sebuah pesta berisikan para kriminal “gila”. Lalu di mana pada akhirnya ia berdiri? Apakah ini tampil lebih baik dari “tawuran” yang inkoheren itu? Apakah ini menjadi sebuah “kekacauan” yang menghibur? Suicide Squad: a bumpy but catchy intro for DC anti-hero.   

Review: Batman v Superman: Dawn of Justice (2016)


"Tell me. Do you bleed?"

Warner Bros. (akhirnya) memulai shared fictional universe DC Extended Universe di tahun 2013 lewat film Superman dengan judul Man of Steel, sedangkan kompetitor mereka, You-Know-Who, memulai “dunia” milik mereka di tahun 2008 dan tahun ini akan merilis film yang ke-14. DC mencoba mengejar dengan menjadikan film ini sebagai reboot Batman, sekuel Superman, perkenalan musuh besar, dan perkenalan superhero baru. Usaha yang ingin “cepat” tadi memang menghasilkan presentasi yang terasa jam-packed namun di sisi lain Batman v Superman: Dawn of Justice berhasil mencapai tujuan utama mereka: menjadi sebuah kata pengantar yang oke bagi DC Extended Universe. The greatest gladiator match in the history of the world?

Review: Gone Girl (2014)


“You don't know what you've got 'til it's....”

“I think people are perverts,” begitu ucap David Fincher, yang juga ia sebut menjadi pondasi ketika ia berkarir. We're all perverts? Yeah, kita senang dengan hiburan yang bukan hanya membuat kita menangis ataupun tertawa, tapi kita juga ingin agar ada godaan dan rangsangan yang membuat hiburan itu semakin menarik. David Fincher merupakan salah satu jagoan dalam hal tersebut, uncompromising director yang selalu perfeksionis dalam mempermainkan penontonnya, komposisi yang ketat dan detail dengan tatanan yang mewah. Itu tidak hilang di Gone Girl, thriller lezat yang juga salah satu film terbaik tahun ini. 

Movie Review: Runner Runner (2013)


Apakah anda pernah mengalami hal ini, menyaksikan sebuah film yang di setiap adegan baru yang ia tampilkan selalu tersirat upaya untuk terus menerus menjadikan anda melihat ia sebagai sesuatu yang impresif, atau setidaknya menjadi semakin tertarik pada cerita yang ia bahas. Runner Runner masuk kejalur tersebut, namun celakanya justru terjerumus menuju arah negative dari upaya tadi yang ia coba terapkan, bekerja keras namun gagal, an uncompelling crime drama thriller.  

Movie Review: To The Wonder (2012)

 

Bagi saya, sebuah film yang mengandalkan bahasa visual adalah sebuah film yang egois. Bukan berarti ia punya tingkat kesulitan dalam cara pemahaman yang berbeda dari film pada umumnya (menurut saya itu sama saja), meskipun ketimbang dipadati dengan dialog-dialog untuk membawa penontonnya masuk dan berpetualang kedalam cerita, ia justru didominasi tampilan visual disertai dialog yang minim. Dampaknya, ia sangat sangat menuntut para penontonnya untuk harus berada dalam kondisi dimana mood mereka sedang baik agar dapat ikut menikmati semua pesan yang ia usung. Menyenangkan, sometimes.

Movie Review: Argo (2012)


Sekuat apapun seekor harimau, mencoba masuk kedalam sebuah kandang yang dipenuhi ribuan singa yang sedang mengaum kelaparan, tentu saja tetap sebuah pekerjaan yang sangat berat. Ya, impossible, jika ia tidak cerdik. Itu yang dimiliki Tony Mendez (Ben Affleck), seorang agen CIA yang diberi tugas oleh Direktur CIA, Jack O'Donnell (Bryan Cranston), untuk menyelamatkan enam staf kedutaan Amerika yang berhasil lolos dari serangan kelompok revolusi Iran ditahun 1979, dan berlindung di kediaman duta besar Kanada. Berawal ketika ia menonton Battle for Planet of the Apes bersama anaknya di TV, Mendez menyusun sebuah ide yang dianggap gila oleh pemerintah, Argo.