Showing posts with label Ben Foster. Show all posts
Showing posts with label Ben Foster. Show all posts

Movie Review: Leave No Trace (2018)


“I don't have the same problem you have.”

Sebagai seorang anak sudah menjadi tanggung jawab kita untuk membuat Orangtua bahagia, tapi apakah itu harus dengan membatasi kesempatan kita untuk bahagia dengan pilihan kita sendiri? Di sisi lain, Orangtua tentu ingin agar sang anak tumbuh dengan baik di bawah bimbingan mereka, tapi apakah itu dapat menjadi alasan untuk bersikap egois dan membatasi anak untuk menentukan pilihannya sendiri? Simple case tadi menjadi selimut manis dari berbagai isu lain dalam kisah tentang “rediscover” ini. Leave No Trace: a subtle dan soulful drama about human, humanity, and humanism.

Movie Review: Inferno (2016)


"We're a minute to midnight."

Jika berbicara tentang petualangan Professor Robert Langdon baik itu di novel maupun dua film sebelumnya, ‘The Da Vinci Code’ serta ‘Angels & Demons’ maka lukisan dan kanvas kosong merupakan dua hal paling identik dengannya, dari misteri, simbol, dan tentu saja Langdon serta karakter lainnya, mereka ibarat kuas dan warna yang digunakan untuk mencoba memberi “kehidupan” pada kanvas yang kosong tadi. Hal tersebut kembali coba dilakukan Langdon di film ini, ‘Inferno’, sebuah usaha mewarnai kanvas kosong dengan berbagai misteri di mana kali ini dia dihadapkan pada sebuah problema yang dapat menciptakan sebuah malapetaka besar. Inferno: a floating, frenetic, plus fun seek and find.

Review: Hell or High Water (2016)



"Little brother, let’s go get that money."

Berbicara tentang isu yang ia miliki heist crime film berjudul ‘Hell or High Water’ ini mungkin tidak akan berbeda dari berbagai drama dengan konflik utama serupa, seperti apa yang akan kamu lakukan untuk keluargamu serta apakah untuk meraih kebahagiaan kamu rela melakukan apapun termasuk merampok bank? Klasik memang tapi thoughtful story seperti tadi berhasil diolah dan dibentuk kembali menjadi sajian yang segar oleh film ini, menggabungkan crime bersama drama, thriller, hingga comedy yang membuatnya terasa seperti film Coen brothers yang tidak disutradarai dan ditulis oleh Coen brothers. From the director of ‘Starred Up’ and the writer of ‘Sicario’, one of the best drama films this year so far, ‘Hell or High Water’. 

Movie Review: Warcraft [2016]


"Our hope is destroyed, there is nothing to go back to. Is war the only answer?"

Apakah kamu tahu salah satu hal paling berbahaya di dunia ini? Merasa sepi di tengah keramaian. Hal tersebut yang berhasil diberikan oleh film ini, Warcraft: The Beginning, film adaptasi dari video game online populer. Film yang mengambil dasar dari video game punya sejarah yang kurang manis namun hype cukup tinggi diperoleh Warcraft dengan harapan untuk akhirnya mampu mematahkan apa yang mereka sebut sebagai “kutukan” bagi film yang diadaptasi dari video game. Hasilnya? Kutukan itu masih berlanjut. Warcraft: The Beginning adalah sebuah perang yang ompong. 

Review: The Program [2015]


"Attack without mercy, keep your head down and don't look back."

Dari kesuksesan mengalahkan kanker ganas hingga menjadi juara dunia balap sepeda dengan pencapaian tujuh gelar bergengsi Tour de France secara berturut-turut, sulit untuk tidak mengagumi sosok bernama Lance Armstrong, ikon besar di dunia balap sepeda yang sama seperti Michael Phelps di olahraga renang prestasi yang ia capai begitu mudah meninggalkan impresi “too good to be true” bagi penonton dan mulai mempertanyakan bakat miliknya. The Program mencoba menggambarkan sosok yang berhasil mengubah rasa kagum menjadi shock besar di tahun 2012 yang lalu ini, saint to sinner, sebuah "kecurangan" besar dalam sejarah olahraga.

Review: The Finest Hours (2016)


"We all live or we all die."

Apakah kamu ingin menciptakan sebuah disaster drama? Caranya gampang, masukkan karakter kedalam masalah, berikan mereka tantangan di dalam masalah, up and down sembari tetap ciptakan impresi bahwa ada celah kecil yang harus mereka ubah menjadi besar untuk dapat selamat. Terkesan gampang memang dan faktanya memang gampang jika kamu hanya sebatas ingin menciptakan produk yang formulaic, sebuah produk yang tidak ingin mencoba menjadi sebuah disaster drama yang berbeda dari film-film lain yang telah mencoba melakukan hal serupa. The Finest Hours seperti itu, ia bahagia menjadi kemasan yang biasa.

Movie Review: Kill Your Darlings (2013)


"To be reborn, you have to die first." 

Terkadang revolusi lahir dari sesuatu yang tidak berada dalam cakupan luas, tidak megah, tidak krusial bahkan, hanya mengandalkan semangat kecil yang kemudian berkombinasi membentuk sebuah kesatuan besar yang berani namun juga terkendali. Ya, kontrol, hal kecil yang mampu menghasilkan masalah besar, isu yang coba dibawa oleh film ini, coming-of-age bertemakan obsesi dengan nafas LGBT. Kill Your Darlings, a movie which will make Voldemort smile very wide.  

Movie Review: Lone Survivor (2013)


Sebenarnya sebuah film yang bermain di medan peperangan tidak selamanya harus tampil megah dipenuhi dengan ledakan. Zero Dark Thirty membuktikan itu dua tahun lalu hanya dengan menampilkan sebuah proses, bahkan The Hurt Locker enam tahun lalu berhasil terus memaku atensi hingga akhir hanya menggunakan kisah dari para tim penjinak bom, ya walaupun sebenarnya hal tersebut juga menuntut karakter yang kuat. Hal tersebut yang tidak dimiliki oleh film ini, sekalipun ia pandai dalam bercerita, Lone Survivor.

Movie Review: Ain't Them Bodies Saints (2013)


Kalimat dengan inti seperti ini pasti sudah sering anda temukan pada banyak film, “tunggu aku, aku pasti kembali untukmu.” Kalimat yang sangat singkat itu justru punya power yang begitu besar untuk menggambarkan bagaimana sebenarnya kekuatan yang dimiliki oleh cinta, berawal dari kisah yang manis, kemudian hadir masalah, berkorban, dan akhirnya berjuang untuk kembali ke titik awal. Ain't Them Bodies Saints coba mengolah sistem tersebut, lewat kisah kejahatan klise penuh gambar cantik.

Movie Review: 360 (2011)



360?? Fernando Meirelles yang masuk nominasi Oscar lewat film City of God, sebenarnya telah memberikan anda gambaran yang sangat mudah dicerna lewat judul yang ia pilih tersebut. Sebuah lingkaran cerita, yang berisikan banyak permasalahan, saling terkait satu dengan yang lain, dan dipersenjatai dengan actor-aktor terkenal, seperti Jude Law, Anthony Hopkins, Rachel Weisz, dan Ben Foster, berpadu dengan actor yang kurang dikenal. Dibantu dengan skenario garapan Peter Morgan (Frost/Nixon, The Queen), jelas film ini layak mendapatkan atensi di summer time kali ini.