Showing posts with label Chris Pratt. Show all posts
Showing posts with label Chris Pratt. Show all posts

Movie Review: Thor: Love and Thunder (2022)

“Eat my hammer!”

Tidak terasa karakter superhero Thor kini tiba di film keempatnya, tapi menariknya dengan jumlah yang tergolong cukup banyak itu pesona Thor sendiri masih belum mampu untuk berdiri sejajar dengan karakter besar Marvel lain seperti Iron Man dan Captain America. Hal tersebut imbas dari perubahan yang coba dilakukan Marvel, awalnya didorong sebagai karakter yang condong serius dengan "dunia" yang kelam, di film ketiganya berpindah haluan dengan suntikan komedi ala Taika Waikiti. Image dan pesona Thor juga kena dampaknya, si tangguh yang super serius itu masih tetap tangguh namun kini cenderung lebih nyaman tampil sebagai superhero yang gemar bercanda, layaknya komika. Tapi bukankah beberapa temannya juga begitu? ‘Thor: Love and Thunder’: expensive sketch parade.


Movie Review: Jurassic World Dominion (2022)

"It's always darkest just before eternal nothingness."

Fair to say bahwa tujuh tahun lalu ‘Jurassic World’ muncul dan berhasil memenuhi ekspektasi mayoritas penonton, membuktikan bahwa beban berat yang sejak awal harus ia tanggung bukan sesuatu yang mustahil untuk diatasi. Membuka kembali gerbang menuju dunia para dinosaur, kala itu konsep yang coba didorong tergolong sukses walau memang hadir dengan pesona yang tidak sekuat the original. Ditunjang dengan visual yang menyenangkan ‘Jurassic World’ berhasil menjadi popcorn thriller yang menghibur dan tentu saja, mesin pencetak cuan, prestasi yang juga berhasil dilakukan pula oleh sekuelnya, ‘Jurassic World: Fallen Kingdom’ meski sayangnya not necessarily well received by critics. Tapi angka box office tetap besar, dan sekuel jelas potensi yang tidak boleh dibuang. ‘Jurassic World Dominion’: a tame finale.


Movie Review: The Tomorrow War (2021)

“We are fighting a war. Our enemy is not human.”

Kamu sepertinya tahu sebuah teori bahwa alien atau makhluk asing dari luar bumi saat ini sedang mencoba mendirikan atau membangun rumah baru mereka di bumi, yang bahkan katanya terdapat beberapa pihak manusia yang sadar akan hal tersebut. Teori yang tentunya lekat dengan kesan konspirasi tersebut digunakan sebagai dasar bagi konsep yang coba diusung oleh film ini, military science fiction about a crazy mission to save the human race. ‘The Tomorrow War’: a time-travel action sci-fi living on borrowed material.


Movie Review: Onward (2020)


‘We are going on a grand and glorious quest.’

Dengan berkembangnya teknologi secara pesat sekarang ini umat manusia seolah semakin dimudahkan kehidupannya, semua menjadi lebih simple dan lebih mudah. Namun di sisi lain ada dampak yang kurang baik dari hal positif tadi, terlupakannya berbagai hal istimewa yang tidak bisa diberikan oleh teknologi tersebut. Film terbaru dari Pixar ini mencoba bercerita tentang hal itu, menggunakan template layaknya Zootopia mencoba membawa penonton bermain dengan magic bersama para mythical creatures. ‘Onward’ : when Zootopia meet Coco, it’s a surprisingly moving adventure.

Review: Passengers (2016)


"It’s the greatest migration of human history."

Sejak tahun 2005 setiap tahun terdapat sebuah annual survey bernama The Black List berisikan daftar screenplay “most liked” yang belum diproduksi. Banyak di antara mereka yang berakhir menjadi film layar lebar, dua tahun yang lalu contohnya adalah John Wick, Me and Earl and the Dying Girl, dan Whiplash, sementara tahun lalu contohnya adalah The Revenant dan Spotlight. Bersama nama beken seperti Arrival, Hell or High Water, Manchester by the Sea, dan Jackie, film ini, sebuah romance berjudul Passengers, juga menjadi bagian dari The Black List. Tapi fakta menariknya adalah Passengers merupakan bagian dari Black List tahun 2007. Itu hampir satu dekade yang lalu. Mengapa sangat lama? Film ini berhasil menjadi jawaban yang efektif. It’s like ‘Titanic’ meets ‘Gravity’ in an imitation game.

Movie Review: The Magnificent Seven [2016]


"Every man got the right to choose where he dies."

Antoine Fuqua merupakan sutradara yang senang bermain dengan “kemarahan”, menampilkan cerita dengan rasa slow-burn lalu kemudian menghajarnya dengan ledakan yang menciptakan kesan brutal, dari Training Day, Shooter, Olympus Has Fallen, The Equalizer, hingga Southpaw. Kali ini dia mencoba bermain dengan materi klasik, sebuah remake dari ‘The Magnificent Seven’ rilisan tahun 1960 yang dianggap sebagai salah satu film western terbaik yang pernah dibuat. Started with a bang, 'The Magnificent Seven' is when cowboy hang out and then playing with a gun while watching a cartoon.

Movie Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"We're the fricking Guardians of the Galaxy!"

Jika harus memilih studio di industri perfilman yang memiliki rasa percaya diri sangat tinggi sekarang ini, merupakan sebuah kesalahan besar jika tidak memasukkan Marvel Studios di dalamnya, sejak 2008 berhasil menjadikan Iron Man, Thor, dan Captain America begitu digilai oleh penonton tanpa harus kehilangan misi lain pada sisi finansial. Yap, dibawah komando Kevin Feige mereka kini telah menjadi  one to beat di sektor hiburan superhero yang mulai menjamur itu, dan film terbarunya ini kembali membuktikan serta memperkuat status tersebut. From the studio that brought you The Avengers, behold and please welcome, Guardians of the Galaxy, a Groot summer flick.

Review: Guardians of the Galaxy (2014)


"They call themselves the Guardians of the Galaxy. | What a bunch of a-holes."

Saat pertama kali Marvel mengumumkan akan hadirnya Guardians of the Galaxy yang terlintas di pikiran saya waktu itu adalah pertanyaan “untuk apa?” Mereka sudah punya The Avengers, empat diantara anggota tim itu bahkan sudah punya film mandiri masing-masing. Sempat pesimis pada film ini dengan penilaian ini hanya upaya Marvel untuk meraih keuntungan semata, tapi kalau kamu punya pemikiran yang sama segera buang jauh-jauh hal itu, karena dengan konsep yang jauh lebih ringan Guardians of the Galaxy berhasil menjadi film terbaik Marvel setelah The Avengers, bahkan nearly side by side. 

Movie Review: The Lego Movie (2014)


“Everything is awesome. Everything is cool when you’re part of a team.”

The easiest way to make yourself become a king: playing with Lego. Hal tersebut pernah saya rasakan dahulu, bermain dengan banyak balok kecil untuk menciptakan bentuk-bentuk unik, permainan penuh eksperimen yang menuntut kreatifitas dan imajinasi untuk membangun fantasi yang kita miliki, semua dilakukan dengan bebas karena mereka berada dibawah kendali kita. Sangat menyenangkan, dan semakin menyenangkan ketika bagian dari memori itu kini hidup dan bergerak, menyaksikan apa yang dahulu pernah kita lakukan. The Lego Movie, a very entertaining random satire parade in Lego World.

Movie Review: Her (2013)


"I'm yours and I'm not yours."

Apakah anda merupakan pengguna twitter? Apakah anda pernah menemukan sebuah halaman yang menyatakan bahwa twitter sedang kelebihan kapasitas ketika hendak mencoba sign in? Yap, semakin mudah memang untuk bercinta dengan teknologi di zaman yang serba menawarkan kemudahan seperti sekarang ini, banyak hal positif yang ia ciptakan, namun dibalik kenikmatan tersebut ikut pula eksis berbagai hal negatif yang berpotensi menghancurkan. Spike Jonze menghadirkan problema tersebut bersama balutan visi, ide, serta konsep yang tinggi dan berani, unik dan cantik. Her, a sweet and smart hyper intelligent love story.    

Movie Review: The Five-Year Engagement (2012)



Empat tahun yang lalu, kombinasi Nicholas Stoller dan Jason Segel sempat mencuri perhatian lewat Forgetting Sarah Marshall, sebuah komedi-romantis dengan kisah utama tentang Peter Bretter (Jason Segel), yang mengalami permasalahan dengan kekasihnya yang diperankan oleh Kristen Bell. Kali ini Stoller dan Segel kembali, dengan tema yang sama, namun dalam kemasan yang berbeda. Tom Solomon (Jason Segel), seorang chef sebuah restoran di San Fransisco, melamar kekasih yang telah bersamanya selama satu tahun, Violet Barnes (Emily Blunt), di situasi yang justru jauh dari kesan romantis.