Showing posts with label David Yates. Show all posts
Showing posts with label David Yates. Show all posts

Movie Review: Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore (2022)

“There’s nothing you can do to stop me.”

Harry Potter dan teman-temannya memang telah mengakhiri petualangan mereka sekitar satu dekade yang lalu di media film, tapi jelas petualangan itu membekas di hati para penonton dan tentu saja penggemarnya. Tidak heran banyak pihak yang menginginkan lebih, berharap agar dibuatkan kelanjutan. Potensi besar tersebut tentu saja tertangkap radar milik Warner Bros., tidak heran selang dua tahun dari rilis film ‘Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2’ proyek the Fantastic Beasts film series pun digaungkan, jadi bagian ‘The Wizarding World’ dan mencoba memperluas dunia sihir yang telah dimulai oleh Harry Potter dan juga teman-temannya. Film pertama, appealing start. Film kedua, low-stakes entertainment. Film ketiga? ‘Fantastic Beasts: The Secrets of Dumbledore’: sometimes imaginative, often struggles to juggle.


Movie Review: Fantastic Beasts and Where to Find Them [2016]


"I want to be a wizard."

Setelah kesuksesan yang luar biasa dari Harry Potter film franchise tidak heran jika J. K. Rowling ingin kembali “mencoba” mengulangi hal tersebut. Tapi yang mengejutkan adalah ketimbang melanjutkan kisah Harry Potter dia justru mencoba untuk membawa ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’ ke layar lebar, buku tipis yang sebenarnya merupakan supplement to the Harry Potter series. There was still money to grab dan dengan J. K. Rowling sebagai screenwriter tentu terlalu berlebihan untuk pesimis pada ‘Fantastic Beasts and Where to Find Them’, pertanyaannya adalah seberapa jauh “detours” ini sukses mengekspansi Wizarding World itu? It’s ‘Before Harry Potter’.

Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2 (2011)


"Always."

Peter Jackson memiliki tempat special dengan The Lord of the Rings film series, and of course you can’t beat James Bond and Star Wars, namun Harry Potter film series berhasil menjadi bagian dari "big giants" itu dengan cara yang tidak kalah special: mereka merupakan kumpulan film di mana penonton ikut bertumbuh bersama karakter dan juga konflik, tidak peduli di usia berapa penonton memulainya. Film ini berhasil menjadi penutup yang manis dari petualangan panjang selama satu dekade itu. It all ends here, berikut adalah film kedelapan dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 2: an exciting and emotional closure.

Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 (2010)


"I must be the one to kill Harry Potter."

Keputusan memecah novel terakhir dari petualangan Harry Potter dan teman-temannya di dunia sihir menjadi dua bagian film sebenarnya memiliki dampak positif dan juga negatif. Positifnya adalah dengan begitu terdapat kesempatan yang lebih besar bagi materi dari novel untuk hadir di layar lebar, namun dari sana pula dampak negatif kemudian dapat lahir, jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik salah satu dari dua part tersebut punya potensi besar untuk kurang berhasil menjadi sebuah sajian yang padat. The beginning of the end, berikut adalah film ketujuh dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1, another puzzle solving journey with accio and one cute but depressing little dance.

Movie Review: Harry Potter and the Half-Blood Prince (2009)


"Avada Kedavra!"

Novel Harry Potter and the Half-Blood Prince dapat dikatakan merupakan salah satu novel terbaik dari tujuh Harry Potter novels, setup yang telah coba dibentuk pada lima film sebelumnya kini naik ke tahap selanjutnya di mana sisi protagonist dan antagonis mulai melancarkan “ledakan” satu sama lain, dari "the special one" Harry kini sadar bahwa ia juga merupakan "the chosen one". Menjadi jembatan bagi dua film terakhir berikut adalah film keenam dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Half-Blood Prince: half for romance, half for the prince.

Movie Review: Harry Potter and the Order of the Phoenix (2007)


"You're a fool, Harry Potter."

Dua film pertama sangat faithful terhadap sumber cerita, kemudian dua film selanjutnya berhasil untuk tidak berakhir dengan status yang sama seperti dua film pertama, dan film kelima ini take the liberties naik satu level lebih tinggi terhadap petualangan Harry Potter pada media film, hal yang kemudian membuat respon terhadap output yang ia hasilkan menjadi split terutama pada lovers of the book yang kecewa karena berbagai “aspek” di dalam novel tidak hadir di dalam film. Berikut adalah film kelima dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Order of the Phoenix, a darker and better metaphors about a growing up hero.

Movie Review: The Legend Of Tarzan [2016]


"He is no normal man."

Jika kamu tanya Google berapa banyak film Tarzan yang telah diproduksi maka kamu akan menemukan jumlah yang terhitung besar, dari fitur layar lebar, film animasi, hingga parodi. Pertanyaannya bukan apakah penting atau tidak untuk memproduksi kembali film pahlawan hutan yang dibesarkan oleh para kera yang sudah dilakukan berulang kali namun apakah produk yang dihasilkan tersebut mampu memberikan penonton pengalaman berpetualang bersama Tarzan yang terasa menyenangkan. Ya, sesederhana itu. The Legend of Tarzan, the most recent edition of the apeman adventure with hazy and gloomy swing.