Showing posts with label Domhnall Gleeson. Show all posts
Showing posts with label Domhnall Gleeson. Show all posts

Review: The Revenant [2015]


"I ain't afraid to die anymore. I'd done it already."

Setelah mencuri atensi sebagai Arnie Grape, kemudian menjadi Romeo, menjadi Jack yang rela mati tenggelam demi Rose, menjadi pilot, menjadi smuggler, menjadi investigator, berpura-pura menjadi penjahat, berpetualang dalam mimpi, hingga menjadi stockbroker Wall Street, akhirnya, Leonardo DiCaprio, dengan meraung dan bergulat bersama beruang kini berada di posisi di mana banyak orang mengatakan merupakan titik terdekatnya dengan piala Oscars yang belum pernah ia genggam. The Revenant, punya visual cantik, punya kinerja penuh komitmen dari Leonardo DiCaprio, 12 nominasi Oscars, Alejandro González Iñárritu's best movie since Birdman.

Movie Review: Star Wars: The Force Awakens (2015)


"Chewie, we're home."

Membangunkan kembali salah satu franchise paling terkenal di bumi setelah tertidur selama sepuluh tahun bukan pekerjaan yang sulit, namun jika disertai dengan kewajiban untuk memperbaiki citra atau image yang sempat dibawa turun satu level oleh tiga buah prekuel adalah bukan sebuah tugas yang mudah. Seperti judul yang ia gunakan, The Force Awakens merupakan upaya kebangkitan yang dilakukan oleh Star Wars, memberikan perputaran dan nafas yang baru dan segar dengan mencampur old and new, sebuah nostalgia penuh sukacita bagi fans yang tetap mampu membuat penonton baru untuk jatuh cinta. Star Wars: The Force Awakens, a new hope in a new start.

Review: Brooklyn (2015)


"I want you to stay here with me."

Menarik untuk membuka sebuah review dengan cara seperti ini, memberikan warning bahwa Brooklyn dari luar tampak sangat sederhana namun dibalik itu ia ternyata merupakan sebuah drama romance yang sangat “berbahaya”. Brooklyn berhasil membuat penontonnya tidak hanya merasakan cinta ketika ia hadir di hadapan mereka, kamu akan pulang bersama kehangatan cinta dengan kadar yang lebih besar, kamu akan pulang dengan keinginan yang juga tidak kalah besar untuk tenggelam lebih jauh di dalam cinta. In terms of romance this one not only a top-notch, it’s a killer!

Review: Ex Machina (2015)


"To erase the line between man and machine is to obscure the line between men and gods."

Perkembangan teknologi semakin hari sebenarnya bukan hanya semakin membantu dan memudahkan manusia dalam berbagai aktifitas yang mereka lakukan, karena disisi lain pertumbuhan mereka juga seperti spy atau bahkan alien yang sedang mengintai para manusia untuk suatu saat melakukan invasi dan berada di posisi yang lebih tinggi. Kecemasan pada digital dan teknologi itu yang coba digambarkan oleh Alex Garland dalam debutnya sebagai sutradara, Ex Machina, sebuah sci-fi thriller dengan ide dan materi yang sangat familiar namun sejak awal hingga akhir tidak pernah membuat penontonnya duduk tanpa ditemani provokasi yang bergelora. Well, it’ll leave you breathless.  

Movie Review: Unbroken (2014)


"If you can take it, you can make it."

Pernyataan terkait keinginannya untuk pensiun dari dunia film sebagai aktris tentu saja menjadikan kita semakin yakin bahwa Angelina Jolie sudah jatuh cinta untuk berkarya di balik layar sebagai sutradara, profesi yang sudah ia mulai tiga tahun yang lalu. Ada sebuah pertumbuhan yang menarik dari seorang Angelina Jolie di film keduanya sebagai sutradara ini namun sayangnya ibarat seorang pematung ia merupakan sosok yang mampu mengolah sebongkah kayu menjadi berbagai bentuk yang menarik tapi celakanya ia belum mampu memolesnya untuk tampak menarik dan memikat dalam jangka waktu yang lama. Unbroken, a stiff biography which can't toying his audience.

Movie Review: Frank (2014)


"Chinchilla! Chinchilla!"

Apa sih musik itu? Nada yang bisa membuat kamu bergoyang tanpa peduli jika suara vokal yang terselip disampingnya terasa mengganggu karena tidak sejalan dengan irama? Atau justru kumpulan nada yang membingungkan namun mampu menyentuh emosi pendengarnya? Apa sih musisi itu? Manusia dengan tampang menarik yang mudah meraih atensi sekalipun ia punya suara standard yang dimiliki banyak orang? Atau justru sosok dengan penampilan kurang menarik namun mampu membawa pendengar hanyut dalam lantunan suaranya yang merdu? Hal tadi merupakan perdebatan yang menarik, antara bisnis dan kenikmatan bermusik, Frank, clever satire whose lose their consistency.

Movie Review: Calvary (2014)


"Not everyone can carry the weight of the world!"

Selalu ada keunikan dari sebuah film yang di awal melemparkan sebuah konflik utama dan kemudian memberikan penontonnya banyak masalah-masalah skala kecil baru untuk datang menyokong atau menemani main issue tadi. Menjadi variatif dan berwarna, film ini mampu menghadirkan hal tersebut dalam sebuah petualangan sederhana yang sayangnya terasa sedikit “gemuk”. Calvary, haunting soul and faith destruction in a good & weird way.

Movie Review: About Time (2013)


“How long will I love you? As long as the stars are above you, and longer if i can.”

Setiap tahun anda pasti akan menemukan film dengan tipe seperti ini, bukan berbicara pada konteks genre melainkan sebuah film dimana anda tahu ia memiliki banyak celah meskipun tampil implisit tidak mampu menjauhkannya dari sorotan, kemudian mencoba tetap objektif dalam memberikan penilaian, namun disisi lain harus berhadapan dengan fakta anda merasakan sebuah kesulitan untuk menampik dan mengingkari bahwa setiap menit yang ia berikan merupakan sebuah enjoyment yang menyenangkan. About Time adalah contoh terbaru, ketika time travel hadir dalam sentuhan romance dan comedy yang klasik, sebuah kemasan guilty pleasure skala besar, really hard to dislike.   

Movie Review: Anna Karenina (2012)


Selalu menyenangkan ketika menyaksikan sebuah film yang menawarkan kisah perselingkuhan, latar waktu pada masa lampau, apalagi jika subjeknya adalah kaum bangsawan. Ada sebuah kenikmatan yang berbeda ketika menyaksikan mereka tetap mampu tampil elegan dan dewasa ketika menghadapi sebuah konflik klasik yang mungkin pada saat sekarang akan diselesaikan dengan penuh emosi fisik.