Showing posts with label EOS. Show all posts
Showing posts with label EOS. Show all posts

Movie Review: Official Competition (2021)

“We're going to make a f**king great film.”

Tahukah kamu bahwa scene paling populer di ‘Basic Instinct’ ternyata direkam tanpa knowledge dari sang Aktris, Sharon Stone, yang merasa ditipu oleh Paul Verhoeven, hal yang kemudian dibantah oleh sang Sutradara. Aktor berkelahi dengan Sutradara, atau dengan sesama Aktor, atau Sutradara yang justru bersitegang dengan para crew memang bukan hal baru pada proses produksi sebuah film, karena film sendiri pada dasarnya merupakan sebuah kumpulan ide yang lantas berkombinasi setelah saling mencocokkan satu sama lain. Itu mengapa dibutuhkan tahap persiapan yang sangat matang baik dari sisi teknis hingga tentu saja para Aktor yang akan menjalani proses rehearsal terlebih dahulu. Apa jadinya jika proses development sebuah film sudah dilanda banyak masalah? ‘Official Competition (Competencia oficial)’: a clever look at the vanity in the film business.


Movie Review: Paris, 13th District (2021)

“You're in love. I'm not. This can’t go on.”

Cinta kadang bekerja di luar nalar dan logika, misterius dan membuatmu merasakan keindahannya lewat sebuah proses yang tidak kamu pernah duga. Memang ada yang jalannya lurus dari awal, tapi tidak sedikit pula yang bertemu jalan bergelombang, atau bahkan mengambil jalan memutar ketika sadar bahwa jalan yang sedang dirinya tempuh akan membawanya ke destinasi akhir yang tidak sesuai dengan harapannya. Apalagi di era modern seperti sekarang ini, era di mana komitmen kehilangan nilai dan kalah dari friends with benefits yang semakin populer karena tampak menarik dan menyenangkan. They have fun, but they're not a couple. Are friends with benefits a good idea? ‘Paris, 13th District’: a sneaky rom-com about millennial love.


Movie Review: I'm Your Man (2021)

“Tom is programmed to fulfill my needs.”

Mayoritas orang berharap pasangan hidupnya akan sesuai dengan kriteria yang ia inginkan. Ya, itu sebenarnya semakin mudah untuk terjadi saat ini, manusia semakin dimudahkan untuk “menemukan” sosok yang ingin dipilih sebagai pasangan hidup berkat sosial media dan online dating platforms di mana kamu dapat menentukan kriteria tertentu yang harus sesuai dan juga terpenuhi oleh calon pasanganmu tersebut, mencoba menemukan pasangan yang “tepat” dan telah diperhitungkan menggunakan algoritma. Bagaimana jika pasangan paling tepat dapat “diciptakan” oleh teknologi penuh rumus agar sesuai dengan keinginan kamu? Sebuah ide cerita yang menarik dan dikembangkan menjadi sebuah sci-fi romance manis oleh film dari Jerman ini. I'm Your Man’ : a charming and thought-provoking screwball comedy.


Movie Review: Titane (2021)

“I don’t care who you are. You’re my son.”

Mungkin suatu saat nanti akan hadir robot yang diciptakan memiliki kemampuan untuk menghasilkan sperma, tapi untuk saat ini mengatakan bahwa seorang wanita hamil karena telah dibuahi oleh benda mati seperti mesin merupakan sesuatu yang terasa sangat mustahil, cenderung gila. Tahun 2012 yang lalu sebuah film berjudul Electrick Children sudah mencoba bermain dengan ide gila itu, karakter utamanya dikatakan hamil setelah mendengarkan sebuah lagu rock dari kaset, menuduh lagu yang berasal dari kaset tersebut telah membuahi rahimnya. Di sini ceritanya serupa tapi tak sama, ada seorang wanita yang merasa janin di dalam perutnya adalah hasil hubungan seksual yang ia lakukan dengan sebuah mobil. Sure, sex in the car, but sex with a car? ‘Titane’ : a crazy body horror, stranger things happen here.


Movie Review: The Mad Women's Ball (2021)

“Why is it acceptable to believe in God and not in spirits?”

Ketika mendengar kata “orang gila” kesan pertama yang muncul di dalam pikiran banyak orang tentu saja adalah sosok yang menakutkan, sama halnya ketika ada teman atau keluarga bahkan yang berkata padamu bahwa mental atau jiwa mereka sedang tidak sehat maka lebih mudah memberi respon negatif kepada mereka ketimbang positif. Stigma bahwa orang-orang yang mengalami gangguan kesehatan jiwa atau mental adalah sosok yang berbahaya dan harus dijauhi adalah salah, penilaian yang digunakan oleh film ini untuk berbicara tentang pentingnya edukasi terkait mental health secara luas dan tepat. Konflik yang digunakan sederhana, ada seorang wanita yang menyebut dirinya dapat berbicara dengan orang yang telah meninggal dunia. ‘The Mad Women's Ball’ : uniquely eerie story about mental health. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Movie Review: Becoming Mona (2020)

“You’re too good for this world.”

Gejolak emosi itu memang melelahkan. Tekanan ekstra yang muncul di dalam sistem emosimu dapat menyebabkan timbulnya berbagai masalah, tentu di antara mereka mayoritas berupa penyakit seperti sakit kepala misalnya hingga insomnia, sesuatu yang jika dibiarkan tetap eksis tanpa upaya untuk dilawan atau diubah maka suatu saat rasa sakit emosional itu perlahan akan mengikis tidak hanya energi fisikmu saja namun juga energi mental, membuat benteng pertahananmu perlahan goyah dan puncaknya “ledakan emosi” yang membuatmu jatuh menyerah. Karakter utama film ini dipaksa untuk melayani ego orang lain, hence she becomes a monster. ‘Becoming Mona (Kom hier dat ik u kus)’ : Curb Your Emotions.


Movie Review: I Never Cry (2020)

“You have to bring him home.”

Ketika telah menjadi orangtua maka di situlah kamu lebih mudah untuk menghargai perjuangan yang pernah dan masih dilakukan oleh orangtuamu untuk mendidik dan membesarkanmu. Karena terkadang hidup dapat berjalan tidak sesuai dengan yang kamu harapkan, ketika kecil dulu kamu akan marah jika permintaanmu tidak dapat dipenuhi oleh orangtuamu, beranjak remaja menuju dewasa semakin mudah bagimu yang kini mulai merasakan kebebasan berekspresi itu untuk merasa benci dengan orangtua yang tentu tetap ketat mengawasi langkahmu. But no one told you life was easy. ‘I Never Cry’ : sometimes it takes a death to understand a life.


Movie Review: A Perfectly Normal Family (2020)

“I wish my dad was dead.”

Makna dari kata “normal” tentu saja berbeda-beda di setiap keluarga, ada yang biasa saja ketika sang anak melakukan aksi teasing kepada orangtuanya karena itu telah mereka anggap sebagai bentuk sayang, tapi ada pula keluarga yang sangat formal di mana ketika sedang makan tidak boleh terdengar suara saat alat makan bergesekan dengan piring misalnya. Di film ini ada sebuah keluarga yang tampak normal tentu sesuai standar yang mereka terapkan, seorang Ayah, seorang Ibu, dan juga dua orang anak perempuan, tapi hal yang membuat mereka menjadi “perfectly normal” adalah fakta bahwa keempat anggota keluarga tersebut memiliki jenis kelamin yang sama, yakni wanita. ‘A Perfectly Normal Family’ : cause he need “permission” to change.


Movie Review: The Audition (2019)

“What counts is hearing the notes before you play them.“

Setiap orang memiliki mimpi, ambisi, dan obsesi mereka masing-masing, tapi kadang hidup tidak memberimu jalan yang mudah untuk dapat mewujudkan ketiga hal itu. Kerena ketika mereka menjadi tidak terkendali maka tantangan yang kamu jalani akan bertemu dengan tekanan dalam berbagai bentuk, salah satunya gejolak emosi. Di film ini seorang guru musik menemukan talenta yang ia anggap sebuah permata yang harus ia poles agar dapat semakin bersinar, celakanya itu ternyata pintu masuk bagi berbagai masalah muncul di dalam hidupnya setelah selama ini bersembunyi. ‘The Audition (Das Vorspiel)’ : a Whiplash with violin.