Showing posts with label Emma Stone. Show all posts
Showing posts with label Emma Stone. Show all posts

Movie Review: Cruella (2021)

“If you can dream it, I can dress it.”

Kisah tentang anjing-anjing Dalmatian telah diangkat menjadi sebuah film kartun dan sebenarnya juga sudah pernah diadaptasi ke dalam versi live-action sebanyak dua kali. Di tiga film tersebut karakter Cruella memegang peran sebagai antagonis, seorang wanita yang sangat terobsesi dengan fashion mantel dari bahan kulit para Dalmatian. Kali ini sosok “penjahat” itu justru menjadi sorotan utama, menyaksikan kisah hidup dari wanita cerdik yang siap melakukan aksi keji dan brutal demi meraih mimpi yang ia inginkan. ‘Cruella’ : overjoyed, overloved, overlong.


Movie Review: The Croods: A New Age (2020)

“It’s not the end. It’s just the beginning. Welcome to our Tomorrow!”

Hampir delapan tahun yang lalu saya menyebut film yang bercerita tentang keluarga di masa purbakala ini sebagai sebuah kisah yang enak di mata saja, karena memang kala itu ceritanya terasa biasa saja. Indah dari segi visual namun terasa cukup datar dari teknik penceritaan, begitu saya menyebut film ‘The Croods’ kala itu. Sebenarnya kisah Grug, Eep, Guy, dan anggota keluarga the Croods ini punya potensi yang oke dan untungnya kali ini mereka menemukan sosok yang tepat, seorang story artist bernama Joel Crawford yang mampu menutup minus di film pertama dan menggali serta memaksimalkan pesona the Croods secara besar-besaran. ‘The Croods: A New Age’ : it’s indeed a new age for the Croods.


Movie Review: La La Land (2016)


“City of stars, are you shining just for me?”

Drama, comedy, action, horror, romance, thriller, sci-fi, mungkin jika dibandingkan dengan genre-genre tadi musical dapat dikatakan tertinggal jauh dalam hal popularitas. Meskipun pernah berada di golden age kini musical genre lebih identik dengan film animasi, tetap berada di kategori “less mainstream” meskipun telah memiliki film-film seperti Moulin Rouge!, Chicago, Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street, Nine, dan Les Misérables sebagai anggotanya. Dapatkah musical genre mencuri atensi dalam skala besar? Of course, here's to the ones who dream, perpaduan contemporary, modern, fantasy, and reality bersama sweet tunes plus catchy dances. La La Land: a joyful ode to love and life, dreams and imagination.

Review: La La Land [2016]


"I just heard you play and I want to…"

Mungkin karena definisi dari kata cinta yang begitu beragam sehingga pada akhirnya terdapat begitu banyak rupa pendekatan yang dilakukan oleh filmmaker terhadap genre romance, dan tidak semua dari mereka berhasil tampil baik. Dengan konsep utama yang kerap terasa corny genre romance itu sebenarnya tidak ribet tapi dengan syarat filmmaker harus paham “peta” dari genre romance itu sendiri sehingga tahu “twist” semacam apa yang harus ia hadirkan ke dalam formula klasik dan klise tersebut. Sutradara ‘WhiplashDamien Chazelle paham pada "peta" tersebut dan tahu apa yang harus ia lakukan, mengolah kembali corny and classic concept tadi menjadi sebuah feel-good story yang menggabungkan kisah cinta dan musical. It’s like ‘Singin 'in the Rain’ meets ‘The Wizard of Oz’ with lovely modern twist.

Movie Review: La La Land [2016]


"Yes, all we're looking for is love from someone else."

Seorang wanita keluar dari mobilnya lalu kemudian bernyanyi. Tidak lama kemudian beberapa orang ikut bergabung dengannya, setelah itu yang terjadi adalah mereka menari bersama. Momen tersebut ditampilkan lewat visual di mana kamera berputar-putar seolah tanpa putus. Hey, bukankah itu spoiler? Mungkin iya, tapi menariknya sama sekali tidak akan merusak kenikmatan yang diberikan oleh film ini. From the director of ‘Whiplash’ please welcome ‘La La Land’, a lovely combination between  romance, musical, comedy, and drama. Surely one of the best films this year, it's 'Singin' in the Rain' for the 21st century. 

Review: La La Land (2016)


"Here’s to the ones who dream."

Film yang ia sutradarai memang baru berjumlah tiga buah tapi seperti tidak salah untuk memberikan label ahli dalam meramu film musical kepada sosok bernama Damien Chazelle. Setelah “whipping” and “splashing” penontonnya lewat aksi seorang drummer meraih mimpinya di ‘Whiplash’ kini ia menggeser fokusnya pada unsur romance tentang bagaimana mimpi dan cinta saling membantu satu sama lain. Funny, gorgeous, lovely, and romantic, ‘La La Land’ is a frisky musical, it’s achieve cult status similar to Baz Luhrman's ‘Moulin Rouge!’.

Review: Irrational Man (2015)


Apakah Woody Allen sudah lelah? Ketika Clint Eastwood di usianya yang ke 85 tahun masih mampu memberikan kita kekacauan di medan tempur yang menarik pada American Sniper, Allen justru tampak mulai terjebak dalam kejenuhan di sektor ide sebagai dampak dari upaya yang ia lakukan untuk menelurkan film setiap tahun. Harus diakui memang ketika karya Allen berhasil “bekerja”, maka hasilnya tidak pernah terasa setengah matang, selalu kuat, tapi saat yang terjadi sebaliknya, seperti yang terjadi pada Irrational Man, maka yang tersisa bagi penonton hanyalah sebuah senyuman pahit.

Movie Review: Birdman (2014)


“It's like a candle burning on both ends, but it's beautiful.”

Jujur saja sangat sulit menyembunyikan senyuman ketika kami berbicara tentang Birdman, bukan karena ia memiliki kekurangan yang mengganggu tapi justru sebaliknya dimana ia berhasil memberikan sebuah petualangan yang sejak awal bertemu hingga ketika harus berpisah terus mengisi penontonnya dengan senyuman karena caranya mempermainkan imajinasi dengan cara yang unik dan lezat. Tanpa sedikitpun rasa ragu Birdman adalah film yang langka bagi saya, ia seperti Gravity dengan drama yang lebih berisi layaknya Biutiful, menjadikannya sebuah kemasan lengkap yang akan memberikan anda pernikahan yang sangat harmonis antara style dan substance. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance): what we talk about when we talk about life. What a strange magic!

Review: Birdman (2014)


“Popularity is the slutty little cousin of prestige.”

Birdman ini ibarat 4D experience, kita hanya duduk di sebuah kursi menggunakan sebuah kacamata tapi apa yang kita saksikan terasa sangat nyata, membuat kamu seolah misalnya berada di sebuah rollercoaster dengan lintasan yang gila dan penuh liku-liku, akan membuat kamu teriak sangat kencang ketika ia tiba-tiba naik atau turun lalu setelah itu tertawa ketika ia sejenak bergerak tenang untuk memberikan kamu kesempatan bernafas. Itu yang saya rasakan dari Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance), ia punya isu dan karakter yang menghasilkan empati dan simpati, ia punya komedi yang membuat kamu tertawa geli, bercerita dengan liar bahkan cenderung sinting, sebuah studi karakter dengan rasa meta yang lezat. A fantastic typhoon.

Review: Magic in the Moonlight (2014)


"I believe that the dull reality of life is all there is but you are proof that there's more, more mystery, more magic."

Tahukah kamu kalau dalam 49 tahun karirnya di dunia film sebagai sutradara dan penulis hanya lima tahun Woody Allen absen, tahun 1967, 68, 70, 74, 81, dan sejak tahun 1981 itu pula ia punya satu film setiap tahunnya, dengan cerita yang ia tulis sendiri. Mudah sekali memberikan "wow", tiga dekade tanpa putus, tapi tidak sama halnya jika dinilai dari segi kualitas yang sejak era millennium selalu muncul "not good" or "just okay" sebagai jembatan diantara film-film "good" dan “memorable” milik Woody Allen dengan magic yang minim. Ups, bukankah "good" terakhir itu tahun lalu? Magic in the Moonlight?
 

Movie Review: The Amazing Spider-Man 2 (2014)


I like to think Spider-Man gives people hope.

Di edisi pertama reboot miliknya dua tahun lalu itu superhero jenius dengan gerak cepat dan refleks yang memikat ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak menjadi sesuatu yang totally useless ketika kembali beraksi bersama tubuh dibalut latex ketat itu hanya lima tahun setelah ia melakukan aksi terakhirnya. Sukses menampar sikap pesimis, beban yang sedikit berkurang, edisi kedua ini berhasil tampil lepas untuk menawarkan kembali cerita familiar itu dalam sebuah petualangan yang menyenangkan masih dengan aksi terbang dan melayang di antara gedung pencakar langit kota New York. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, when music and action sequence kill a bit draggy story minus. I'll simply say it's on again, it's on again. 

Movie Review: The Croods (2013)


The Croods dapat dikatakan menjadi kelinci percobaan dari Dreamworks Animation, sekaligus film yang membuka jalan untuk mewujudkan ambisi mereka. Daftar panjang film yang telah menanti untuk dirilis dalam tiga tahun kedepan memaksa studio ini untuk merubah pattern yang selalu menjadi favorit mereka (mungkin juga karena kerjasama baru dengan 20th Century Fox), merilis film pertama di tahun tersebut pada kisaran bulan mei hingga juli, dan merilis film berikutnya di paruh kedua. Antara menjadi seperti How to Train Your Dragon, atau Madagascar. Are you really need to see this?

Movie Review: Gangster Squad (2013)


Saya melangkah ringan menuju pintu keluar sembari bergumam dalam hati “Hey, lihat, saya orang pertama yang keluar dari studio ini”. No, saya tidak walkout dari Gangster Squad, sebuah karya yang tertunda dari Warner Bros., dengan  dibawah pimpinan seorang Ruben Fleischer. Tapi ketika wajah Sean Penn telah rusak di akhir cerita, maka semua selesai, karena saya hanya ingin tahu seperti apa semua kekonyolan itu diselesaikan.

Movie Review: The Amazing Spider-Man (2012)


Reboot,adalah kata kunci dari film ini. Ibarat ketika anda mematikan (reboot) computer yang sudah anda gunakan sebelumnya, anda secara otomatis harus menghentikan semua aplikasi yang sudah anda nyalakan, kemudian memulai kembali dari awal. Begitupula dengan The Amazing Spider-Man. Ini bukan Spider-Man 4 dengan nama yang berbeda. Yang pertama kali anda lakukan adalah mencoba menghapus sejenak semua memori yang telah diciptakan oleh Sony Pictures sejak kemunculan manusia laba-laba ini sepuluh tahun  yang lalu, dan memulai kisah baru.