Showing posts with label Gary Oldman. Show all posts
Showing posts with label Gary Oldman. Show all posts

TV Series Review: Slow Horses - Part 1

"Moscow rules, watch your back. London rules, cover your arse."

Para "anjing buangan” mungkin julukan yang tepat disematkan pada sebuah divisi administratif milik MI5 yang mereka gunakan untuk melatih para agent yang gagal dan menyandang status rejects. Satu orang agent kembali harus rela menyandang status tersebut, gagal di sebuah misi pria yang dijuluki “slow horses” itu bergabung dengan lima orang lainnya yang sudah lebih dahulu bekerja bagi pimpinan mereka yang eksentrik, pria tua doyan alkohol yang ingin agar anak buahnya berdiam di kantor dan tidak melakukan apapun, ia ingin mereka berhenti karena bosan dan frustrasi. Pekerjaan di divisi “api penyucian” itu memang seperti tanpa tujuan dan terasa membosankan, hingga suatu hari muncul kasus penculikan yang terindikasi ikut melibatkan permainan politik kotor di dalamnya.


Movie Review: The Woman in the Window (2021)

“Stop watching our house or I'll call the police.”

Apakah layak melabeli seseorang gila ketika dia sedang berupaya untuk lepas dari permasalahan mental? Tentu tidak, justru yang harus kita lakukan adalah memberi bantuan terutama secara psikis agar ia dapat segera lepas dari situasi yang kerap membuat penderitanya merasa cemas hingga takut berlebihan, merasa tidak tenang seolah akan terjadi sesuatu yang buruk di sekitarnya serta pada dirinya. Karakter di film ini mengalami itu, ia cemas akan terjadi hal buruk terhadap tetangga barunya yang ia intip dari kaca jendela. Premis yang cukup menarik, bukan? ‘The Woman in the Window’ : an unprepared ambition.


Movie Review: Mank (2020)

“This is a business where the buyer gets nothing for his money but a memory.”

Sebuah film hitam putih yang berkisah tentang proses pembuatan film Hollywood dengan setting tahun 1940-an? Well, adalah sesuatu yang wajar jika banyak dari penonton yang merasa “kurang tertarik” dengan film ini, sekalipun berkisah tentang proses dibalik terbentuknya script film Citizen Kane (1941), salah satu film yang sering mengisi baris atas “best film of all time” di berbagai survey dan list. Tapi ada nama David Fincher sebagai Sutradara, mastermind di balik ‘The Social Network’ dan ‘Gone Girl’ yang, fun fact, tidak pernah menulis screenplay film yang ia sutradarai. ‘Mank’ : a good story of a very good story.


Movie Review: Harry Potter and the Prisoner of Azkaban (2004)


"Lumos Maxima!"

Di dua film pertamanya salah satu minus yang dihasilkan oleh petualangan Harry Potter adalah meskipun dengan baik dan understated berhasil menerjemahkan isi novel karya J. K. Rowling ke dalam bentuk presentasi visual namun di sisi lain mereka kurang berhasil menghasilkan “punch” yang sangat kuat dan sangat berkesan. Perubahan visi dilakukan di entri selanjutnya dan menghasilkan output yang sama seperti tags yang film ini bawa: everything will change. Berikut adalah film ketiga dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, a pure and lovely magic.

Review: Criminal (2016)


"They stuck your husband in my head."

Jika kesuksesan sebuah film hanya ditentukan dari seberapa menarik dan kuat ide cerita maka Criminal akan berada di baris terdepan dan bertarung menjadi yang terbaik. Sayangnya faktor yang menentukan kesuksesan sebuah film ini tidak sesederhana itu, ide menarik harus mampu dieksekusi dengan menarik, jika ia merupakan sebuah film action thriller maka harus mampu menggoda penonton dengan berbagai pukulan yang energik serta menghasilkan sensasi yang "meledak" dan tidak generik. Memiliki banyak pemeran berbakat film ini coba melakukan eksekusi pada ide menarik yang ia miliki, Criminal, when Green Lantern marries Wonder Woman, seperti Face/Off bertemu Bourne dan berisikan lebih dari satu “Nicolas Cage”.

Review: Child 44 (2015)


Mengubah novel menjadi sebuah film dengan durasi kisaran dua jam tentu saja bukan sebuah pekerjaan yang mudah, tapi disisi lain bukan pula pekerjaan yang susah. Ada yang menyebut mereka sebagai sesuatu yang tricky, ketika penulis dan sutradara tidak perlu lagi memikirkan bagaimana menciptakan bahan dan bentuk bagi cerita yang ingin mereka sampaikan, tapi disisi lain ia juga punya tugas agar bahan yang telah tersedia tadi dapat di bentuk atau dimasak menjadi sebuah hidangan yang pas, hidangan yang “tepat”. Child 44 bertemu dengan ambisi yang besar dalam hal tadi, yang sayangnya menghasilkan boomerang baginya.

Movie Review: Dawn of the Planet of the Apes (2014)


"Apes do not want war!"

Dawn of the Planet of the Apes menjadi bukti terbaru bagaimana sebuah film dengan status blockbuster yang hadir di periode summertime tetap mampu atau dapat memberikan hiburan yang menyenangkan tanpa harus secara total mengesampingkan substance demi style, tanpa perlu mengorbankan dirinya untuk tampil kelewat “bodoh” agar dapat menyenangkan penontonnya.  Tidak perlu penjelasan panjang lebar di paragraf pembuka ini, it’s surely this year one of the best so far. Welcome to “modern” blockbuster era btw. Dawn of the Planet of the Apes, a very good humanity message from simple friction between humans and speaking monkeys. Engaging.

Movie Review: RoboCop (2014)


"Dead or alive, you are coming with me!"

In my opinion RoboCop karya Paul Verhoeven merupakan satu dari sekian banyak film abad 20 yang belum layak untuk di daur ulang pada fase awal era millennium ini. Ia klasik, ia sebuah kenangan yang masih meninggalkan bekas manis, itu mengapa ketika berita remake muncul ada sebuah perasaan mix, antusiasme tentu saja hadir namun ikut disertai dengan rasa pesimis yang juga eksis karena sebuah pertanyaan sederhana, “apakah sudah perlu?” RoboCop, another great classic icon who become a victim of Hollywood ambition.

Movie Review: Lawless (2012)


Mungkin anda sudah biasa mendengar orang berkata, “jaman sekarang hukum bisa dibeli”. Ternyata hal itu sudah terjadi sangat lama, bahkan sejak awal abad 20 lalu. Lawless, film dengan setting tahun 1931 di Franklin County, Virginia, menjadi salah satu contoh bagaimana hukum dapat dibeli, ketika seorang pejabat pemerintah berniat mengambil untung dari sebuah usaha illegal yang dilakukan oleh tiga bersaudara.

Movie Review: The Dark Knight Rises (2012)


Batman (Christian Bale) memang telah pensiun dari tugasnya menjaga kedamaian kota Gotham, namun masih dianggap sebagai penyebab utama kematian jaksa Harvey Dent. Karena itu Bruce Wayne lebih memilih berdiam diri di kediamannya bersama pelayan setianya Alfred (Michael Caine). Namun itu semua berubah setelah kedatangan Bane (Tom Hardy), mantan rekan Ra's Al Ghul (Liam Neeson), bersama pasukannya melancarkan terror brutal ke kota Gotham yang telah aman sepeninggal Joker dan Two Face.