Showing posts with label Helen Mirren. Show all posts
Showing posts with label Helen Mirren. Show all posts

Movie Review: F9 (2021)

“Be precise in life.”

Saya merupakan salah satu penggemar franchise ini dan menganggap bahwa film ke enam merupakan puncak terbaik mereka, yang tentunya akan terasa manis jika niat closing di film ketujuh yang lalu itu benar-benar terjadi. Tapi sayangnya sejak itu muncul jargon “one last ride” yang lantas menjadi titik awal berkembangnya the Fast & Furious franchise jadi semakin luas dan besar. Secara komersial kesuksesan masih konsisten diraih, film ketujuh bahkan sempat menempati posisi empat dalam daftar film dengan penghasilan kotor tertinggi sepanjang masa, tapi jika berbicara tentang kualitas resep baru justru membuat aksi yang dipimpin Dominic Toretto itu menjadi semakin absurd. F9 : an overstep quasi-superhero blockbuster.


Review: Collateral Beauty (2016)


"It turns out death is an elderly white woman."

Ketika Will Smith berperan sebagai tokoh utama yang mencoba menjual kesan “badass” hasil akhir film yang tercipta kerap terasa oke, dari Bad Boys, Independence Day, Men in Black, Hancock, I Am Legend, dan well, Suicide Squad. Tapi hasil yang sama tidak selalu muncul ketika dia mencoba bermain di ranah drama sebagai karakter utama yang tampil “serius” dan menuntut emosi, The Pursuit of Happyness dan Concussion terasa oke tapi apa yang Will Smith tampilkan di After Earth sudah cukup menjadi sample paling efektif. Di film terbarunya yang juga dipenuhi bintang ternama ini, Collateral Beauty, Will Smith kembali mencoba “get serious”, sebuah drama yang ketika berakhir dapat membuatmu berkata “are you flipping serious?”

Review: Eye In the Sky (2016)


"Dozens of lives are at stake if these men leave."

Apakah tidak lama lagi peran manusia akan mulai digantikan oleh robot-robot serta teknologi canggih? Ya, perdebatan terkait masalah tersebut memang sangat menarik, perkembangan teknologi yang begitu pesat mungkin akan memudahkan hal tersebut untuk tercapai yang secara logika memang akan semakin “membantu” manusia, namun apakah robot dan drone itu mampu menggantikan peran manusia seutuhnya, menjadi makhluk yang punya hati bukan sekedar berpikir dan bertindak sesuai program yang ditanamkan kepadanya? Hal tersebut digunakan sebagai dasar utama oleh Eye in the Sky, sebuah drama thriller yang tidak hanya tajam ketika menyajikan thrill namun juga ketika menggambarkan dilema moral tentang menjadi manusia.

Review: Trumbo (2015)


"When they tried to silence him, he made the world listen."

Tugas dari sebuah film biografi bagaimana ia secara komprehensif mencoba menceritakan kembali kisah kehidupan seseorang atau setidaknya bagian paling historis atau penting dari kehidupan mereka. Ia tidak boleh hanya sekedar "menghidupkan kembali" tokoh utama tapi ia juga harus membawa penonton masuk kedalam mode mengamati karena mayoritas dari mereka merupakan sebuah character study. Hanya itu? Tidak, karena seberapa kuat dampak yang hasilkan setelah menyaksikan kehidupan tokoh yang ia gambarkan juga punya peran penting. Semua hal itu dilakukan oleh Trumbo dengan aman. 

Review: The Hundred-Foot Journey (2014)


"Life's greatest journey begins with the first step."

Kamu pasti akan menemukan film yang identik dengan apa yang diberikan oleh The Hundred-Foot Journey, dimana kamu tertarik pada premis awalnya, kemudian setelah ia mulai bercerita hadir sedikit rasa kecewa, namun dengan penampilan yang baik dari elemen pembentuk film seperti plot cerita, akting, hingga gambar-gambar yang memanjakan mata, worth watching menjadi jawaban bagi film ini, food movie yang diproduksi oleh Steven Spielberg bersama Oprah Winfrey.   

Movie Review: Red 2 (2013)


RED (Retired, Extremely Dangerous), merupakan sebuah kejutan yang hadir tiga tahun lalu. Masuk dalam nominasi Golden Globes, meraih pendapatan tiga kali lipat dari budget, namun disisi lain tidak mendapatkan respon positif dari banyak kritikus. RED 2 berupaya untuk meneruskan “kesuksesan” yang telah diciptakan pendahulunya tersebut, masih dengan formula yang sama bersama unsur kejutan yang sangat jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan berita kehadirannya dua tahun lalu.

Movie Review: Monsters University (2013)

 

"If you’re not scary, what kind of a monster are you?"

Dibalik rasa bahagia dengan kembali hadirnya dua karakter monster yang telah menjadi bagian masa kecil bersama Woody & Buzz cs, timbul pula sebuah pertanyaan dari keputusan Pixar untuk menghidupkan kembali kesuksesan yang pernah mereka raih 12 tahun lalu. Sudah tertidur begitu lama, satu dekade lebih, apa yang ingin mereka sampaikan lewat Monsters University, apalagi dengan label prequel yang dibawa? Apakah mereka sudah kehabisan ide, mencoba mengulang kesuksesan Toy Story 3, atau sebatas pembuktian rasa penasaran dari kegagalan Cars 2? Ya, sometimes, legend doesn't need to be touched again, just leave them sleep forever.