Showing posts with label Jamie Bell. Show all posts
Showing posts with label Jamie Bell. Show all posts

Review: Fantastic Four (2015)


"You've opened a door you don't know how to close. You don't know anything about what's coming."

Cukup sulit untuk sebuah film sci-fi apalagi jika ia membawa tema superhero sebagai jualan utamanya untuk mendapatkan respon negatif baik itu dari para pengamat film maupun penonton umum. Fantastic Four telah memperoleh buzz negatif jauh sebelum ia menyapa penontonnya akibat masalah internal, bahkan sebuah berita mengatakan bahwa para cast utamanya belum menyaksikan Fantastic Four satu minggu sebelum ia di rilis. Apakah buzz negatif itu benar adanya? Apakah Fantastic Four benar-benar sekacau itu? Change is (not) coming.

Movie Review: Nymphomaniac: Volume II (2014)


"Human qualities can be expressed in one word: Hypocrisy."

Sebut saja film ini merupakan korban yang tercipta dari hasrat luar biasa milik Lars von Trier pada topik kecanduan seks yang ingin ia angkat, begitu banyaknya materi yang ingin disampaikan hingga harus memecahnya menjadi dua bagian untuk menghindar dari salah satu kemungkinan terburuk yang dihasilkan oleh durasinya yang sangat gemuk. Yap, sebuah kisah berisikan tragedi pada seks ini masih bermain di pattern yang sama dengan babak pertamanya, lebih eksplisit, namun sayangnya tidak lebih baik. Nymphomaniac: Volume II, a frustrating sexual frustration(Warning: review contains (probably) strong image).

Movie Review: Filth (2013)


"There's something seriously wrong with me."

Ada banyak cara untuk bertemu dengan solusi ketika kita harus dihadapkan pada masalah yang berasal dari lingkungan sekitar kita. Namun hal sebaliknya terjadi ketika masalah itu bersumber dari diri kita sendiri, bahkan ia punya power yang lebih besar untuk memberikan dampak destruktif skala ekstrim. Masalah, tekanan, dan mental, hal tersebut dibawa oleh Filth, diadaptasi dari novel ketiga creator Trainspotting, self destruction adventure with a good surprise.

Movie Review: Snowpiercer (2013)


"I belong to the front, you belong to the tail."

Orang kaya bertindak sebagai penguasa, sedangkan kaum miskin berperan sebagai penderita. Kejam? Sebenarnya tidak, faktanya simbiosis tersebut kini tidak lagi menjadi sesuatu yang aneh, perlahan tampak seperti sebuah trend bahkan kewajiban yang berlaku pada banyak ekosistem masyarakat, karena kini melakukan tindakan humanisme sudah jauh dari kesan membanggakan. Hal tersebut akan anda temukan pada karya terbaru dari Bong Joon-Ho, salah satu sutradara terbaik yang dimiliki Korea Selatan. Snowpiercer, sebuah kritik implisit menggunakan bencana apokaliptik yang menakjubkan.