Showing posts with label Kaitlyn Dever. Show all posts
Showing posts with label Kaitlyn Dever. Show all posts

Movie Review: Rosaline (2022)

"One day, we will be together forever."

Pria dengan inisial “R” belakangan ini menjadi salah satu topik perbincangan yang hangat lewat beberapa kasus tentang cinta dan retaknya hubungan asmara. Tentu saja tidak bisa disamaratakan tapi jika ditarik jauh ke belakang pujangga kenamaan asal Inggris, William Shakespeare, seolah juga punya ketertarikan yang sama pada huruf “R’ itu, sehingga ia menamai karakter utama dari salah satu karyanya: Romeo. Orang awam pada umumnya mengenal Romeo sebagai seorang pria yang rela mati demi memperjuangkan cintanya pada Juliet, tapi sebelum Juliet ada Rosaline di hati Romeo yang sayangnya tak berbalas, asal mula yang pada akhirnya membuat Romeo berpaling. Jadi, semua karena Romeo? ‘Rosaline’ : a feisty alternative retelling.


Movie Review: Ticket to Paradise (2022)

“Being loved is not the same as loving.”

Pernikahan punya makna yang berbeda-beda bagi tiap orang. Ada yang menganggap seseorang sudah menjadi manusia dewasa ketika ia telah menikah, ada yang menilai itu sebagai ikatan suci yang dilakukan satu kali untuk selamanya, dan jika berbicara budaya Indonesia maka ada konsep bahwa menikah bukan hanya menyatukan dua manusia saja tapi juga dua keluarga besar mereka. Tapi apakah manusia yang sudah menikah pasti akan dewasa? Apakah jika kelak di tengah jalan muncul pertikaian opsi yang tersedia hanya bertahan meski terluka? Dan seberapa penting sebenarnya restu dari keluarga, terutama orangtua, pada sebuah pernikahan? Termasuk ego saat anak mengambil pilihan tidak seperti yang kamu harapkan. Semua itu hadir dalam bentuk romantic comedy yang terjadi di Bali ini. ‘Ticket to Paradise’ : a quite good traditional screwball comedy.


Movie Review: Dear Evan Hansen (2021)

"I wish everything was different. I wish I was different."

Spotlight akan sangat mudah tertuju pada film ini, sejak berita bahwa that Tony Award-Winning Musical akan mereka adaptasi ke dalam bentuk film pihak Universal Pictures selaku pembeli film rights tidak hanya sukses menggandeng penulis buku yang jadi dasar cerita musikalnya, begitupun songwriting duo di balik kesuksesan lagu-lagu di ‘La La Land’ dan ‘The Greatest Showman’ yang ikut bergabung untuk membantu membentuk kembali critical acclaim musical yang mereka tulis. Dan last but not least merekrut sutradara The Perks of Being a Wallflower untuk memvisualisasikan skenario dan memimpin tim untuk bekerja bagi Produser film-film seperti ‘Nine’, ‘Into the Woods, dan Mary Poppins Returns’, which is a musical films. ‘Dear Evan Hansen’ : turns out, this wasn’t an amazing day after all.


Review: Men, Women & Children (2014)


"Everyone's searching for a better connection."

Film ini bisa dikatakan menjadi salah satu film yang paling diantisipasi di tahun ini, dengan alasan utama tentu saja Jason Reitman. Oke, selain kegagalannya di Labor Day yang membosankan itu apa dihasilkan oleh Jason Reitman sebagai sutradara selalu terasa menarik, dari Thank You for Smoking, Juno, Up in the Air, hingga Young Adult. Ada satu kesamaan diantara mereka, teknik bercerita yang dingin. Hal itu kembali hadir di film terbarunya ini, Men, Women & Children, tapi sayangnya sedikit terlalu dingin.

Review: Laggies (2014)


“Growing up just isn't everybody's thing”

Ada yang bilang tingkat kedewasaan seseorang itu tidak sepenuhnya tergantung dengan umur mereka, bahkan beberapa diantara kita pasti pernah tanpa sadar telah melakukan tindakan dan penyesalan bodoh yang sebenarnya bisa saja dihindari jika kamu berpikir lebih matang sebelum bertindak. Laggies ingin membawa kita untuk berusaha menyaksikan mengapa menjadi dewasa itu tidaklah mudah, bersama seorang wanita yang kehidupannya dipenuhi rasa ragu-ragu. Stop lagging and start living. 

Movie Review: Short Term 12 (2013)


"Look into my eyes so you know what it's like."

Komunikasi adalah salah satu kunci utama bagi pertumbuhan manusia sebagai makhluk sosial. Ya, kita perlu interaksi dengan orang lain disekitar kita karena mereka punya sesuatu yang dapat membantu kita untuk semakin mempermudah proses berubah kearah yang semakin positif. Peran dari dua hal tersebut yang coba digambarkan oleh film ini, Short Term 12, silently haunting.