Showing posts with label Ken Jeong. Show all posts
Showing posts with label Ken Jeong. Show all posts

Movie Review: Tom & Jerry (2021)


"We have a mouse problem."

Di era ketika semua hal tampak berkembang dengan sangat cepat sekarang ini tentu masih ada beberapa “hal manis” yang eksis sebelumnya dan mampu untuk tinggal serta menetap di dalam hati serta pikiran penonton. Salah satu di antara hal manis tersebut adalah dua karakter kartun di mana hubungan mereka kerap digunakan sebagai istilah dari sebuah pertarungan yang tiada akhir, seperti cat and mouse fight dengan bumbu “perang gerilya” yang menggelitik. Dan tentu di luar nalar manusia. Lalu apakah ketika Tom dan Jerry dimasukkan ke dalam sebuah live action film, apakah hal manis yang mereka punya kualitasnya akan tetap sama? ‘Tom & Jerry’ : an erratic comedy slapstick.


Movie Review: Over the Moon (2020)


“Cherish life and everything you love.”

Mungkin kamu sudah tidak asing lagi dengan salah satu pola yang digunakan oleh film-film animasi, yaitu di samping tampil dengan menyajikan visual cantik yang dipenuhi berbagai warna-warni menarik mereka juga mencoba melakukan tackle dengan menggunakan isu kesedihan yang dialami oleh karakter di dalam cerita. Karakter utama yang mayoritas merupakan anak-anak harus kehilangan orangtua atau mungkin sosok yang sangat ia cintai, lalu kemudian mencoba melawan rasa sedih dan berusaha “menemukan” kembali bahagia. Terasa familiar? Ya, tapi tidak masalah jika mampu dikemas dengan baik, seperti yang dilakukan oleh film ini. ‘Over the Moon’ : a dashingly cute, catchy, and confident animation.


Movie Review: Scoob! (2020)


“Scoob. You're the best friend I could ever ask for.”

Selain Detektif Conan masa kecil saya dahulu juga diisi serial animasi yang juga mengusung konsep memecahkan misteri namun dengan cara yang lebih santai dan cenderung “konyol”, yaitu Scooby-Doo. Kala itu Mystery, Inc. seolah menjadi sebuah tim yang sangat memikat berkat keahlian mereka, sedangkan mengemban tugas sebagai sumber utama lelucon dan komedi karakter Shaggy serta Scooby-Doo adalah dynamic duo yang memiliki charm unik dan menarik. Mereka sudah punya ciri khas yang terasa klasik dan film ini mencoba untuk melakukan sedikit modifikasi dan juga meremajakan karakter-karakter klasik tersebut tadi. Scoob! : soulless but on target mystery comedy.

Movie Review: Crazy Rich Asians (2018)


“Only a fool folds a winning hand.”

Rumit mungkin adalah satu dari banyak kalimat yang dapat digunakan untuk mengartikan makna dari kata cinta. Dari individu, sesama, kemudian jalinan asmara, bahkan ketika akan melangkah ke jenjang selanjutnya yaitu pernikahan, cinta seperti menjadi “spotlight” yang sulit untuk digeser dari barisan terdepan. Dibalik harta dan juga tahta, masihkah kekuatan “cinta” berada di posisi pertama? ‘Crazy Rich Asians’: a lovely and light-hearted love story.

Review: Ride Along 2 (2016)


"My nerves is bad, man! Oh my God! Here, zombie! Headshot, Walking Dead!"

Dua tahun lalu Ride Along kala itu berhasil meraih rekor sebagai the highest domestic opening weekend gross di bulan Januari, dan dengan modal $25 juta berhasil meraih pencapaian box office sebesar $154.5 juta, enam kali lipat dari budgetnya. So, dengan kesuksesan tersebut sekuel tentu menjadi sesuatu yang sangat sulit untuk dihindari karena secara tidak langsung Ride Along telah berhasil menjadi sebuah mesin pencetak keuntungan yang menjanjikan. Tapi bukannya dirawat mesin itu justru menemukan kendala besar di sekuelnya, yang tentu saja tidak tampil dengan nama berbeda, Ride Along 2.

Review: The DUFF (2015)


"Every DUFF has their day."

Kamu pasti tahu dengan kalimat-kalimat berikut ini, dari “jika ingin terlihat atau menjadi pintar maka bertemanlah dengan orang-orang pintar” atau “jika ingin menjadi terkenal maka bertemanlah dengan orang-orang yang terkenal”. Tapi ada satu kata yang terhitung cukup sulit untuk dirangkai menggunakan pola tadi, yaitu cantik. Yang terjadi dengan kata cantik justru sebaliknya, “jika ingin terlihat cantik maka bertemanlah dengan orang-orang yang tidak cantik”, dan The Duff berhasil mengolah konsep tersebut menjadi sebuah komedi dangkal yang manis, dari The Breakfast Club, kemudian Mean Girls, hingga Easy A.

Movie Review: Penguins of Madagascar (2014)


"You just mermaid my day."

Ketika saya mencoba mengajak beberapa rekan untuk nonton bersama film ini jawaban dari mereka mayoritas punya satu inti yang serupa: malas, ada yang mengatakan kurang menarik, bahkan ada pula yang mengatakan ini hanya akan mengikuti jejak Planes sebagai sebuah spin-off yang tidak menghibur. Memang sebuah pemikiran yang sangat wajar mengingat Madagascar yang menjadi induk awalnya juga sudah kurang menarik, tapi rasa pesimis itu pula yang menjadikan apa yang diberikan oleh film ini terasa mengejutkan. Penguins of Madagascar, stupid, silly, & satisfying spin-off scooter.

Movie Review: Turbo (2013)

 

“No dream is too big, and no dreamer is too small.”

There can be miracles when you believe. DreamWorks kembali membuktikan makna dari nama yang mereka pakai, salah satu studio animasi yang mampu membawa para penontonnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Kali ini mereka menggunakan para siput, hewan yang dikenal memiliki gerak yang sangat lambat, dan memasukkan mereka kedalam dunia balap mobil Indy 500. Sederhana, predictable, manis, dengan eksekusi yang tidak sebesar ambisi.

Movie Review: Despicable Me 2 (2013)


Tiga anak perempuan sibling yatim piatu, di adopsi oleh seorang pria botak berhidung mancung yang berupaya mencuri bulan bersama sekumpulan makhluk aneh berbentuk banana. Despicable Me, sebuah hit di tahun 2010 yang memang tidak dapat mengguncang keperkasaan Toy Story 3, namun dengan sangat mudah berhasil meninggalkan sebuah kenangan impresif bagi penontonnya, mereka fokus, menggemaskan, menyentuh, dan tampil lucu lewat tingkah konyol. Despicable Me 2, lucu, namun kehilangan beberapa materi dari kenangan tadi.

Movie Review: The Hangover Part III (2013)


Sebuah film yang menarik tentu merupakan dambaan setiap elemen industri film, mulai dari penonton hingga sutradara film tersebut. Namun selalu ada dampak negatif yang film tersebut berikan dari kesuksesan yang ia raih, terlebih pada calon penerusnya. Ini yang dialami The Hangover franchise, dimana kegemilangan luar biasa dari apa yang The Hangover capai ikut menambah beban yang semakin berat pada film keduanya, yang faktanya berakhirnya buruk. The Hangover Part III, an epic finale?