Showing posts with label Lindsay Duncan. Show all posts
Showing posts with label Lindsay Duncan. Show all posts

Movie Review: Blackbird (2019)

“You're here now, but tomorrow, you'll be dead. And we know.”

Mungkin akan terkesan aneh tapi di dunia ini eksis konsep yang mendasari bahwa manusia berhak mengakhiri hidupnya dengan menjalani eutanasia secara sukarela. Namanya hak untuk mati. Jika dipikir secara logika pasti akan terkesan aneh tapi jika ditelisik lebih jauh maka akan muncul perdebatan yang menarik. Hak tersebut tadi legal di beberapa negara seperti Australia, Belgia, Belanda, dan Kanada. Film ini mencoba menggunakan konsep tersebut sebagai kerangka utama cerita bagi berbagai isu dan pesan yang lebih luas dari sekedar praktik pencabutan nyawa manusia. ‘Blackbird’ : a quite meaningful and comprehensible drama.


Movie Review: Birdman (2014)


“It's like a candle burning on both ends, but it's beautiful.”

Jujur saja sangat sulit menyembunyikan senyuman ketika kami berbicara tentang Birdman, bukan karena ia memiliki kekurangan yang mengganggu tapi justru sebaliknya dimana ia berhasil memberikan sebuah petualangan yang sejak awal bertemu hingga ketika harus berpisah terus mengisi penontonnya dengan senyuman karena caranya mempermainkan imajinasi dengan cara yang unik dan lezat. Tanpa sedikitpun rasa ragu Birdman adalah film yang langka bagi saya, ia seperti Gravity dengan drama yang lebih berisi layaknya Biutiful, menjadikannya sebuah kemasan lengkap yang akan memberikan anda pernikahan yang sangat harmonis antara style dan substance. Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance): what we talk about when we talk about life. What a strange magic!

Review: Birdman (2014)


“Popularity is the slutty little cousin of prestige.”

Birdman ini ibarat 4D experience, kita hanya duduk di sebuah kursi menggunakan sebuah kacamata tapi apa yang kita saksikan terasa sangat nyata, membuat kamu seolah misalnya berada di sebuah rollercoaster dengan lintasan yang gila dan penuh liku-liku, akan membuat kamu teriak sangat kencang ketika ia tiba-tiba naik atau turun lalu setelah itu tertawa ketika ia sejenak bergerak tenang untuk memberikan kamu kesempatan bernafas. Itu yang saya rasakan dari Birdman or (The Unexpected Virtue of Ignorance), ia punya isu dan karakter yang menghasilkan empati dan simpati, ia punya komedi yang membuat kamu tertawa geli, bercerita dengan liar bahkan cenderung sinting, sebuah studi karakter dengan rasa meta yang lezat. A fantastic typhoon.

Movie Review: Le Week-End (2014)


"Love dies. Only if you kill it."

Bukankah sesuatu yang indah ketika melihat sepasang kakek dan nenek berjalan berdampingan sembari bergandengan tangan dengan mesra. Indah karena mereka dapat mempertahankan cinta yang mereka punya dalam jangka waktu lama, komitmen yang pernah mereka buat ketika mengucapkan janji suci, saling berkorban untuk menjadikan pernikahan itu terus bekerja dan tidak mati. Hal manis tadi digambarkan film ini dengan menggunakan gesekan menyenangkan, Le Week-End, a sweet and mature marriage dilemma. Before Midnight lite.    

Movie Review: About Time (2013)


“How long will I love you? As long as the stars are above you, and longer if i can.”

Setiap tahun anda pasti akan menemukan film dengan tipe seperti ini, bukan berbicara pada konteks genre melainkan sebuah film dimana anda tahu ia memiliki banyak celah meskipun tampil implisit tidak mampu menjauhkannya dari sorotan, kemudian mencoba tetap objektif dalam memberikan penilaian, namun disisi lain harus berhadapan dengan fakta anda merasakan sebuah kesulitan untuk menampik dan mengingkari bahwa setiap menit yang ia berikan merupakan sebuah enjoyment yang menyenangkan. About Time adalah contoh terbaru, ketika time travel hadir dalam sentuhan romance dan comedy yang klasik, sebuah kemasan guilty pleasure skala besar, really hard to dislike.