Showing posts with label Matthias Schoenaerts. Show all posts
Showing posts with label Matthias Schoenaerts. Show all posts

Review: A Bigger Splash [2015]


"We're all obscene. Everyone's obscene. That's the whole point."

Konsep koleksi, seleksi, dan resepsi dalam hubungan asmara mungkin memang sulit untuk diterima oleh banyak orang tapi sesungguhnya itu merupakan sesuatu yang baik. Ya, selalu akan ada rumput tetangga yang lebih “hijau” dari rumput milikmu, dan tugas kamu adalah tetap teguh untuk yakin bahwa rumput yang kamu punya adalah yang terbaik untukmu. Dasar dari sistem rumput yang lebih hijau tadi digunakan oleh A Bigger Splash, di bawah kendali sutradara I Am Love (io sono l'amore) menggambarkan persaingan cinta yang dingin dan hangat, lucu dan sensual. Lord Voldemort tampil rock 'n' roll di sini.

Review: The Danish Girl (2015)


"And it was the strangest thing. It was like kissing myself."

Jika harus digambarkan dengan menggunakan pengandaian, The Danish Girl ibarat sebuah daging kualitas sangat baik yang dapat dimasak hingga matang namun akhirnya disajikan kepada konsumen dalam kondisi setengah matang. Bukan, bukan karena ia tidak punya api untuk memasak daging tersebut hingga matang tapi karena koki yang merasa ragu atau cemas daging menjadi gosong dan memilih bermain aman. Seperti itu The Danish Girl, sama seperti Trumbo ini merupakan sebuah film biografi yang understated, tapi hasil akhirnya membuat penonton bergumam I like it, but I don’t love it.

Review: The Loft (2015)


"The right place to do wrong."

Salah satu kondisi menjengkelkan dalam movie experience adalah ketika kamu dibuat oleh film tersebut untuk berada dalam kondisi menunggu sesuatu yang sesungguhnya tidak kamu nantikan dengan begitu antusias. Ya, saya sangat benci dengan film yang mencoba tampil pintar dengan cara yang tidak pintar, menjadikan penontonnya terombang-ambing bersama materi yang perlahan tidak lagi menarik untuk di ikuti. Penyakit yang fatal itu dimiliki oleh The Loft. What a dicky thriller.

Review: The Drop (2014)


There are some sins that you commit that you can't come back from, no matter how hard you try.”

Mungkin poster yang ia tampilkan itu menjadi salah satu boomerang bagi The Drop, karena dengan keberadaan tangan yang sedang menggenggam pistol ekspektasi yang penonton ciptakan adalah ini akan menjadi film crime dan drama dalam oktan tinggi, penuh adegan action dan ledakan yang menegangkan. The Drop memang pada akhirnya justru tampil sebaliknya, namun apa yang ia berikan berhasil menjadikannya salah satu drama menegangkan bertemakan kejahatan terbaik di tahun ini. 

Movie Review: Blood Ties (2013)


"Some guys, the don't keep their promises." 

There’s no limit for family. Anda boleh bimbang ketika hendak melakukan sesuatu untuk kekasih anda, rasa ragu ketika akan memberikan pertolongan kepada sahabat terbaik anda, namun hal tersebut tidak boleh hadir jika sudah mengikut sertakan masalah terkait keluarga anda didalamnya. Ya, tidak ada kalimat “how far” dalam hubungan keluarga, help each other in sadness and happiness. Hal tersebut yang coba digambarkan oleh film ini, Blood Ties, dark and soft family story.   

Movie Review: Rust and Bone (2012)


Air dan api sesungguhnya adalah kombinasi yang sangat baik, karena mereka saling melengkapi. Hal tersebut juga terjadi ketika anda membangun hubungan asmara. Perpaduan antara kekurangan serta kelebihan yang anda dan pasangan anda miliki akan menghasilkan kombinasi yang kuat dalam hubungan anda. Alain van Versch (Matthias Schoenaerts), seorang pengangguran yang bersama anaknya keluar dari Belgia, jatuh cinta kepada seorang wanita yang justru memiliki minus yang besar pada fisiknya.