Showing posts with label Mia Wasikowska. Show all posts
Showing posts with label Mia Wasikowska. Show all posts

Movie Review: Bergman Island (2021)

"He always said that death was just a light going out."

Mengarang sebuah cerita fiksi atau karya lainnya yang membutuhkan jalinan cerita bukanlah sebuah pekerjaan mudah, dan salah satu hal paling menakutkan bagi para penulis adalah writer's block, momen di mana mereka merasa stuck atau buntu untuk melanjutkan dan mungkin memoles cerita agar sesuai dengan yang mereka inginkan. Dan saya pernah membaca bahwa ada penulis lirik lagu yang bahkan mencoba untuk menjalin hubungan percintaan agar dapat merasakan sisi indah dari momen jatuh cinta, termasuk sisi kelam saat akhirnya memutuskan untuk mengakhiri hubungan yang sejak awal telah disengaja tersebut. Di film ini kamu coba dibawa masuk ke dalam pikiran seorang penulis. Bergman Island’ : an artful reflection on life and filmmaking.


Movie Review: Judy & Punch (2019)


“He won't be winning anymore because I'm going to kill him.”

Manusia tidak diciptakan untuk selalu hidup dengan rasa bahagia, ada perasaan lain yang juga eksis di sampingnya dan untuk mengatur semua itu kita dibekali dengan kemampuan mengelola impuls, emosi, dan perilaku yang disebut dengan self-control. Karena potensi hadirnya godaan serta dorongan hati yang dapat membawa manusia ke dalam masalah selalu ada dan di sana fungsi eksekutif tadi bekerja sebagai pengatur. Tampak berat? Tidak, justru pendekatan yang digunakan film ini terasa ringan, berawal dari pertunjukkan boneka hingga bertemu dengan tragedi ada amarah dan tawa di sana, semua dikemas simple dan tajam. ‘Judy & Punch’ : an effective punchy and smashy tragedy.


Movie Review: Blackbird (2019)

“You're here now, but tomorrow, you'll be dead. And we know.”

Mungkin akan terkesan aneh tapi di dunia ini eksis konsep yang mendasari bahwa manusia berhak mengakhiri hidupnya dengan menjalani eutanasia secara sukarela. Namanya hak untuk mati. Jika dipikir secara logika pasti akan terkesan aneh tapi jika ditelisik lebih jauh maka akan muncul perdebatan yang menarik. Hak tersebut tadi legal di beberapa negara seperti Australia, Belgia, Belanda, dan Kanada. Film ini mencoba menggunakan konsep tersebut sebagai kerangka utama cerita bagi berbagai isu dan pesan yang lebih luas dari sekedar praktik pencabutan nyawa manusia. ‘Blackbird’ : a quite meaningful and comprehensible drama.


Review: Alice Through the Looking Glass (2016)


"I will help my friends, no matter what."

Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari kisah klasik karya Lewis Carroll yang telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa "biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.

Movie Review: Maps to the Stars (2014)


"Where’d you coming from?" | "Jupiter."

We live in crazy world! Sebuah arena pertarungan milyaran manusia yang berlomba-lomba untuk berada di posisi tertinggi, semua akan dilakukan untuk meraih rasa bahagia, kekayaan yang menjadi sasaran utama dan membuat manusia mudah untuk lupa serta buta dengan hal-hal menjijikkan yang mungkin ada disekitar mereka, dari popularitas hingga keluarga, berhadapan dengan masalah untuk bertahan hidup di dunia yang sudah dipenuhi dengan masalah. Maps to the Stars, funny nightmare and bang bang Hollywood satire. 

Movie Review: The Double (2013)


"I'm like Pinocchio. I'm a wooden boy."

Keberhasilan itu datang dari usaha kita sendiri, bukan dari pemberian orang lain. Terkadang rasa ragu dan takut yang sering kali menjadi penghalang terwujud kalimat tadi, sikap tidak berani mengambil aksi yang justru menciptakan ruang dan kesempatan yang dapat dimanfaatkan oleh orang lain, dan memberikan dampak buruk bagi kita. Isu tersebut yang coba dibawa oleh film ini dengan mengandalkan mitologi doppelganger yang konon menjadi pertanda sebuah bad luck, dikemas dengan serius dan santai bersama komedi dan drama percintaan. The Double, a creepy and funny psychological (and maybe love) story.

Movie Review: Only Lovers Left Alive (2013)


Apa definisi vampire bagi anda? Makhluk yang tidak termasuk kategori manusia, punya gairah luar biasa dibalik kebutuhan akan darah untuk mempertahankan keabadian yang mereka miliki. Nah, bagaimana jika vampire justru dibentuk dalam cara berbeda dengan sedikit modifikasi kecil, masih mempunyai ketergantungan pada darah serta memiliki gairah luar biasa, namun kesehariannya berisikan kegiatan monoton dengan ekspresi gelap dan lesu. Only Lovers Left Alive, an unique and funny style over substance package about vampire in depression. It make vampire becomes an interesting creature.    

Movie Review: Stoker (2013)


Seseorang pernah berkata kepada saya, “selalu persiapkan dirimu dalam setiap detik yang kau lalui, karena kau tidak tahu apa yang mungkin terjadi padamu satu jam, satu menit, bahkan satu detik kemudian”. Well, sangat sangat benar. Jika anda ingin mencari pembuktian termudah, maka Stoker adalah pilihan yang sangat tepat, film berbahasa inggris pertama dari sutradara korea yang pernah menelurkan salah satu film asia terbaik yang pernah saya tonton, Oldboy.

Movie Review: Lawless (2012)


Mungkin anda sudah biasa mendengar orang berkata, “jaman sekarang hukum bisa dibeli”. Ternyata hal itu sudah terjadi sangat lama, bahkan sejak awal abad 20 lalu. Lawless, film dengan setting tahun 1931 di Franklin County, Virginia, menjadi salah satu contoh bagaimana hukum dapat dibeli, ketika seorang pejabat pemerintah berniat mengambil untung dari sebuah usaha illegal yang dilakukan oleh tiga bersaudara.