Showing posts with label Michael Peña. Show all posts
Showing posts with label Michael Peña. Show all posts

Movie Review: Moonfall (2022)

“We're not prepared for this.”

Masih ingatkah kamu dengan film ‘2012’? Rilis di tahun 2009 dan sukses memoles semakin mengkilap lagi fenomena 2012 yang ramai diperbincangkan kala itu, ‘2012’ mencatatkan kesuksesan komersial. Tidak heran memang karena saat itu isu bahwa pada tanggal 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat akibat disebut sebagai tanggal akhir Kalender Hitung Panjang bangsa Maya sukses menghebohkan banyak orang. Seolah melihat celah, the master of disaster Roland Emmerich menciptakan ‘2012’ dan menstimulasi sudut pandang penonton terhadap penggambaran hari kiamat, rangkaian peristiwa seperti megatsunami, gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir global. Kali ini dia kembali dan melibatkan salah satu teman baik bumi, yakni bulan. ‘Moonfall’: it’s on airplane mode.


Movie Review: Tom & Jerry (2021)


"We have a mouse problem."

Di era ketika semua hal tampak berkembang dengan sangat cepat sekarang ini tentu masih ada beberapa “hal manis” yang eksis sebelumnya dan mampu untuk tinggal serta menetap di dalam hati serta pikiran penonton. Salah satu di antara hal manis tersebut adalah dua karakter kartun di mana hubungan mereka kerap digunakan sebagai istilah dari sebuah pertarungan yang tiada akhir, seperti cat and mouse fight dengan bumbu “perang gerilya” yang menggelitik. Dan tentu di luar nalar manusia. Lalu apakah ketika Tom dan Jerry dimasukkan ke dalam sebuah live action film, apakah hal manis yang mereka punya kualitasnya akan tetap sama? ‘Tom & Jerry’ : an erratic comedy slapstick.


Review: Collateral Beauty (2016)


"It turns out death is an elderly white woman."

Ketika Will Smith berperan sebagai tokoh utama yang mencoba menjual kesan “badass” hasil akhir film yang tercipta kerap terasa oke, dari Bad Boys, Independence Day, Men in Black, Hancock, I Am Legend, dan well, Suicide Squad. Tapi hasil yang sama tidak selalu muncul ketika dia mencoba bermain di ranah drama sebagai karakter utama yang tampil “serius” dan menuntut emosi, The Pursuit of Happyness dan Concussion terasa oke tapi apa yang Will Smith tampilkan di After Earth sudah cukup menjadi sample paling efektif. Di film terbarunya yang juga dipenuhi bintang ternama ini, Collateral Beauty, Will Smith kembali mencoba “get serious”, sebuah drama yang ketika berakhir dapat membuatmu berkata “are you flipping serious?

Movie Review: The Martian (2015)


"So, technically, I colonized Mars. In your face, Neil Armstrong!"

Sebagian besar dari anda mungkin telah tahu bahwa salah satu dari sekian banyak hal menarik yang manusia lakukan sekarang ini bukan hanya berusaha saling menjatuhkan manusia lain, baik itu dengan cara yang bersih maupun kotor, namun juga berusaha mencari solusi ketika suatu saat semua manusia telah “jatuh”. Dimana? Salah satu targetnya adalah tetangga bumi, yaitu Mars. Apakah ada potensi kehidupan di Mars? Well, itu masih menjadi tanda tanya, namun yang menarik disini adalah pertanyaan tadi justru berhasil digunakan dengan baik oleh film ini untuk menyuguhkan space adventure yang menyenangkan. The Martian: a sweet tour on Mars.

Sebuah misi bernama Ares III yang beranggotakan Mark Watney (Matt Damon), Major Rick Martinez (Michael Peña), Beth Johanssen (Kate Mara), Dr. Chris Beck (Sebastian Stan), Dr. Alex Vogel (Aksel Hennie), dibawah komando Melissa Lewis (Jessica Chastain) sedang berupaya melakukan eksplorasi di Mars. Semuanya tampak akan berjalan dengan lancer hingga suatu ketika badai pasir skala besar hadir dan menerjang Ares III, yang pada akhirnya memang berhasil melepaskan diri dari terjangan badai tadi. Namun ada satu masalah yang tertinggal, Mark Watney tidak berhasil masuk kedalam pesawat dan tertinggal.

NASA dengan cepat mengambil teori bahwa dengan skala badai yang begitu besar probabilitas Mark Watney untuk dapat selamat dari tragedy tersebut sangat kecil, yang berujung pada pernyataan bahwa Mark Watney telah tewas di Mars. Menariknya yang sesungguhnya terjadi di Mars justru sebaliknya: Mark Watney selamat. Masalahnya adalah bagaimana cara mengembalikan Mark kembali ke bumi, misi berikutnya masih begitu lama, misi penyelamatan darurat memerlukan waktu yang cukup panjang untuk di bangun, dan Mark hanya ditemani peralatan serta persediaan makanan yang begitu terbatas untuk dapat memperpanjang masa hidupnya. At least di Mars.


Jika anda merasa Gravity yang hadir dua tahun lalu sebagai petualangan luar angkasa yang terlalu sederhana (yang notabene juga menandakan bahwa anda tidak begitu klik dengan sisi emosi yang ia tawarkan) dan disisi lain anda juga merasa bahwa Interstellar yang hadir tahun lalu sebagai petualangan luar angkasa yang terlalu kompleks, maka The Martian berpotensi besar untuk memberikan hit yang lebih besar dari dua film tadi. Ini seperti titik tengah diantara Gravity dan Interstellar, cerita yang di adaptasi dari novel karya Andy Weir dan di tulis ulang oleh Drew Goddard tidak melepas mau mengikat penonton secara berlebihan, karena The Martian dapat disebut sebagai tour ke Mars paling murah yang mungkin manusia dapat temukan.

Mengapa tur? Karena menyaksikan The Martian penonton seperti di tuntun dengan lembut oleh Ridley Scott, kita memperoleh kisah prosedurial namun disisi lain kita berjalan bersama Mark seperti tanpa memiliki jadwal yang padat, mengikat, dan menyiksa. Santai, itu adalah kesuksesan utama The Martian, bagaimana ia memainkan banyak isu sederhana dengan serius tapi santai, seperti will power misalnya, lalu don’t stop believing, hingga isu-isu lebih kompleks yang otomatis mengangkut masuk unsur politik. Hal tersebut merupakan hasil dari script yang oke, tanpa banyak memakan waktu Mark langsung dipisahkan dari kelompoknya, kemudian terjebak dan mencari solusi untuk keluar, terasa sederhana tentu saja namun kesan tersebut tidak mengganggu berkat senjata lain yang di miliki oleh The Martian, ia punya charm yang kuat.


Tidak butuh waktu lama penonton akan merasa seperti mereka sedang berada di samping Mark Watney, dan itu merupakan pencapaian yang sangat krusial untuk sebuah kisah tentang usaha survival. Plot bergerak bersama berbagai penjelasan terkait sains di dalamnya, namun cara ia tampil yang terasa begitu segar menjadikan proses yang berlangsung baik itu di Mars maupun di bumi yang faktanya mendominasi cerita tidak terasa melelahkan. Seperti hangout dengan pemandu tour, begitu penonton di posisikan oleh Ridley Scott disini, mengolah skenario bentukan Drew Goddard untuk menyajikan eksposisi terkait teknologi yang mudah di nikmati karena unsur fear and fun cerita begitu seimbang. Hasilnya besar, penonton benar-benar berinvestasi pada cerita.

Pencapaian tersebut memang mendapat pengaruh yang cukup signifikan dari script namun beberapa elemen lain punya kontribusi yang tidak kalah besar, sebut saja penggunaan GoPro yang terasa sangat cerdik itu. Novel The Martian pada dasarnya memiliki cerita yang begitu tricky, tipe first-person pov yang kemudian melahirkan pertanyaan apakah hal tersebut mampu di terjemahkan kedalam kedalam bentuk narasi film tanpa kehilangan kemampuan untuk menjaga atensi penontonnya sejak sinopsis hingga akhir. Hasilnya: ya! GoPro seperti penonton, narasi yang di sisi dengan video bergaya selfie tidak hanya sukses menjadi buddy yang menghindarkan Mark dan cerita dari situasi stuck dan monoton, ia juga berperan sebagai “pelembut” dalam memainkan tempo dan irama cerita, hal yang juga dilakukan dengan baik oleh soundtrack.


Petualangan luar angkasa ditemani lagu disco rock? Itu tricky, namun The Martian menyajikannya dengan manis, semua berkat editing yang terasa mumpuni. Kinerja editing The Martian begitu mudah di kagumi, ia mampu menyeimbangkan dua sisi dari cerita yaitu Mars dan bumi dengan baik, kombinasi diantara dua bagian tersebut terasa pas sehingga drama dan komedi dari masing-masing bagian berhasil menghadirkan thrill yang oke dan asyik. Hal menarik dari editing ia juga mampu membuat anda mengagumi kualitas visual milik The Martian dalam menampilkan Mars namun disisi lain tidak menjadikan mereka mencuri atensi secara berlebihan sehingga unsur dramatis dari plot tidak pernah kehilangan intimitas miliknya. Mix and match itu yang menjadi hal mencolok dari The Martian.

Bagaimana dengan kinerja cast? Matt Damon berhasil menjalankan tugas berat yang ia miliki, menjadikan aksi bertahan hidup Mark Watney tidak hanya bergerak tanpa hambatan tapi ikut meninggalkan berbagai punch kecil di setiap bagian. Sisi komikal Mark berhasil dimainkan dengan sangat baik oleh Matt Damon dan menariknya itu tidak mengganggu sisi serius dari usaha yang ia bangun untuk keluar dari Mars. Beberapa pemeran pendukung sukses mencuri perhatian, seperti Chiwetel Ejiofor dan Donald Glover, begitupula dengan chemistry tim Ares III walaupun memiliki porsi yang tidak begitu besar. Yang menganggu dari bagian ini adalah Jeff Daniels dan Kristen Wiig. Kontribusi Kristen Wiig diluar dugaan terasa kecil dan tidak berarti, dan Jeff berusaha menjadikan Teddy seperti Will McAvoy tapi sayangnya Harry Dunne seringkali mendominasi tampilan karakternya.



Overall, The Martian adalah film yang memuaskan. Pada dasarnya The Martian bukan merupakan sebuah rollercoaster dimana anda akan dibawa naik dan turun dalam alur lintasan yang tajam, karena Ridley Scott tampak berupaya menjadikan ini aksi survival dengan cita rasa tur. Keputusan aneh? Ya, jika tidak di bentuk dengan tepat, hal yang tidak dialami oleh The Martian. Script yang ketat menjadikan karakter, cerita, dan tujuan utama berdiri kokoh di bagian awal, setelah itu ia diwarnai dengan visual yang manis, ketegangan dalam komposisi yang pas, sisi emosi dan dramatisasi yang tidak berlebihan, performa cast yang oke, dan dilengkapi elemen fun yang terasa tajam, semuanya bersatu dan saling bantu mencuri atensi dibawah kendali padat Ridley Scott. A feel-good movie. (rp)






Review: Ant-Man [2015]


"This is not some cute tech like the Iron Man suit!"

Kehadiran Ant-Man ini sebenarnya cukup unik bukan hanya karena wujud superhero itu sendiri yang akan membuat kita bertanya-tanya tapi juga karena status Ant-Man juga tidak sembarangan, ia melanjutkan baton dari Avengers: Age of Ultron dan kemudian menjadi penutup fase dua dari Marvel Cinematic Universe. Keputusan yang unik dan berani karena dengan Avengers sendiri memiliki tim yang tidak sembarangan lantas mengapa Marvel justru memilih pahlawan berukuran semut ini? Sama seperti dua tahun sebelumnya ternyata Marvel ingin sebuah keseimbangan, dan Ant-Man berhasil masuk secara halus kedalam dunia mereka.

Movie Review: Fury (2014)


“Best job I ever had"

Menciptakan sebuah film action yang berisikan aksi tembak disana-sini dan kemudian menghasilkan kehancuran skala besar itu sekarang ini terasa sangat mudah, terlebih dengan teknologi yang semakin berkembang. Yang sulit adalah bagaimana jika mereka dikemas sama menariknya namun juga memberikan hiburan yang bukan hanya sekedar lewat, hiburan yang unforgettable, tampil elegan dengan sedikit kesan misterius, meskipun ikut memberikan tugas yang jauh lebih besar untuk mereka kendalikan dan selesaikan. Fury, understated raw action flick.

Movie Review: American Hustle (2013)


"People are always conning each other to get what they wanted."

Banyak jalan untuk mencapai kebahagiaan, yang harus dilakukan hanyalah dengan mengambil sikap berani kemudian dilengkapi bersama strategi mumpuni. Ya, berani gagal, berani mengambil resiko, termasuk didalamnya berani untuk berubah dan keluar dari zona nyaman yang kita miliki. Hal tersebut coba diceritakan oleh American Hustle, caper movie in sexy and stylish way.  

Movie Review: Turbo (2013)

 

“No dream is too big, and no dreamer is too small.”

There can be miracles when you believe. DreamWorks kembali membuktikan makna dari nama yang mereka pakai, salah satu studio animasi yang mampu membawa para penontonnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Kali ini mereka menggunakan para siput, hewan yang dikenal memiliki gerak yang sangat lambat, dan memasukkan mereka kedalam dunia balap mobil Indy 500. Sederhana, predictable, manis, dengan eksekusi yang tidak sebesar ambisi.

Movie Review: Gangster Squad (2013)


Saya melangkah ringan menuju pintu keluar sembari bergumam dalam hati “Hey, lihat, saya orang pertama yang keluar dari studio ini”. No, saya tidak walkout dari Gangster Squad, sebuah karya yang tertunda dari Warner Bros., dengan  dibawah pimpinan seorang Ruben Fleischer. Tapi ketika wajah Sean Penn telah rusak di akhir cerita, maka semua selesai, karena saya hanya ingin tahu seperti apa semua kekonyolan itu diselesaikan.

Movie Review: End of Watch (2012)


Jangan menilai buku dari sampulnya. Jika anda melihat Brian Taylor (Jake Gyllenhaal), dan Mike Zavala (Michael Peña), tentu penilaian pertama anda mereka adalah dua polisi muda yang tidak pernah serius dalam melakukan tugasnya. Senang menjaili temannya sesama polisi, selalu tampak santai dan kurang serius ketika mendapat teguran dari pimpinan, dan percakapan konyol yang mereka lakukan ketika berpatroli, tentu saja penilaian anda tadi sangat wajar. Namun, dibalik itu mereka telah menjadi target utama sebuah kartel narkoba paling berbahaya di USA.