Showing posts with label Patrick Wilson. Show all posts
Showing posts with label Patrick Wilson. Show all posts

Movie Review: Moonfall (2022)

“We're not prepared for this.”

Masih ingatkah kamu dengan film ‘2012’? Rilis di tahun 2009 dan sukses memoles semakin mengkilap lagi fenomena 2012 yang ramai diperbincangkan kala itu, ‘2012’ mencatatkan kesuksesan komersial. Tidak heran memang karena saat itu isu bahwa pada tanggal 21 Desember 2012 akan terjadi kiamat akibat disebut sebagai tanggal akhir Kalender Hitung Panjang bangsa Maya sukses menghebohkan banyak orang. Seolah melihat celah, the master of disaster Roland Emmerich menciptakan ‘2012’ dan menstimulasi sudut pandang penonton terhadap penggambaran hari kiamat, rangkaian peristiwa seperti megatsunami, gempa bumi, letusan gunung berapi, dan banjir global. Kali ini dia kembali dan melibatkan salah satu teman baik bumi, yakni bulan. ‘Moonfall’: it’s on airplane mode.


Movie Review: The Conjuring: The Devil Made Me Do It (2021)

“Leave him alone and take me.”

Ketika berbicara tentang film horror maka yang banyak penonton paling nantikan adalah kemampuannya dalam membuat detak jantung menjadi tidak teratur, dari bagaimana membangun atmosfir menyeramkan, lantas menghadirkan keheningan sebagai jeda yang membuatmu sejenak menunggu untuk kemudian menghujammu dengan kejutan. Terlepas dari kualitasnya film-film The Conjuring berhasil membuat penontonnya bermain dengan ciri khas “kejutan” mereka, yang kembali ditampilkan oleh film ini. Pertanyaannya adalah bagaimana kualitasnya kali ini? ‘The Conjuring: The Devil Made Me Do It’ : a well composed horror film.


Movie Review: The Assistant (2020)


“First one in. Last one out.”

Sangat mudah menemukan para pekerja yang menggunakan waktu istirahat makan siang mereka untuk berdiskusi masalah pekerjaan, dari Boss yang sebenarnya salah namun tidak terima bahwa ia salah, data rumit baru diberikan pagi namun dokumen harus siap dua jam kemudian, hingga bekerja lembur tanpa memperoleh bayaran. Ya, jauh lebih mudah menemukan di antara mereka yang membahas bagaimana “kerasnya” tempat kerja mereka. Memang semua akan bergantung pada kualitas pekerja itu sendiri, namun sistem yang diterapkan juga punya andil besar dalam terciptanya kondisi tersebut, sistem yang mungkin menjurus ke arah abusive dan memaksa para pekerja tersebut untuk belajar menjadi seorang “penyihir”. ‘The Assistant’ : quiet but speak louder, it’s popping with calm.

Movie Review: Aquaman (2018)


“Atlantis has always had a king. Now it needs something more.”

Warner Bros. pada awalnya seolah merasa "gengsi" untuk membuat DC Extended Universe mereka keluar dari tone “dark” yang sedari awal diusung. Namun menariknya di ‘Wonder Woman’ justru hadir sedikit pergeseran tone yang membuahkan hasil sangat positif. Beban kemudian berpindah ke pundak Aquaman dengan tantangan utama yang masih sama: mampukah film selanjutnya di DC Extended Universe tidak hanya sekedar meneruskan kesuksesan ‘Wonder Woman’ meraih cinta dari penonton, namun juga menjadi an engaging superhero movie with more “good” fun? Aquaman: a wild and weird rollercoaster.

Review: The Founder (2017)


"McDonald’s can be the new American church"

Dalam the list yang dirilis oleh Forbes selain Apple, Google, Coca-Cola, dan Facebook, terdapat nama McDonald's di bagian sepuluh teratas terkait status "The World's Most Valuable Brands". Tidak heran memang, restoran cepat saji yang akrab dengan singkatan McD itu seolah telah menjadi bagian dari budaya di bidang makanan. Proses berdirinya McD coba diceritakan oleh film ini, The Founder, ditangani oleh John Lee Hancock (The Blind Side, Snow White and the Huntsman) coba menunjukkan sisi kompleks dan kontroversial yang terdapat dari kisah sukses yang “didirikan” oleh Ray Kroc itu. It’s extra crispy good biography drama.

Review: The Conjuring 2 [2016]


"This is my home. Get out now!"

Harapan dari semua penikmat film dari sebuah sekuel mayoritas sama, kita ingin sebuah kelanjutan yang lebih ambisius dari pendahulunya dan tentu saja menawarkan sesuatu yang lebih segar di dalamnya. Dua musim panas telah berlalu dan kali ini pria yang on-the-right-way to be master of modern horror, James Wan, mencoba untuk kembali “menghangatkan” summertime kita dengan jeritan dan paranoia. Ini tidak lebih ambisius dari The Conjuring, namun dengan cermat dalam menerapkan aturan dasar genre horror The Conjuring 2 berhasil memberikan pengalaman “mulanya biasa saja, akhirnya datang juga” seperti “haunted house" di taman bermain. Its good plays with your fears.

Movie Review: The Conjuring 2 [2016]


This one still haunts me.”      

Tiga tahun lalu James Wan berhasil menciptakan salah satu film horror yang memiliki kualitas pengarahan serta teknik bercerita lewat narasi dan visual yang terasa cantik, tidak hanya sebagai satuan elemen namun ketika bergabung menjadi sebuah kemasan mereka terasa padat dan menyeramkan. The Conjuring, mencetak kesuksesan di box office sehingga kehadiran sekuel tentu menjadi hal yang lumrah, namun pertanyaannya adalah apakah penerusnya ini mampu membawa penonton ke level yang lebih tinggi atau setidaknya mampu memberikan sebuah petualangan supernatural yang sama menyeramkan seperti yang dilakukan pendahulunya? The Conjuring 2, a haunting but ain't terrific supernatural horror.

Movie Review: Insidious: Chapter 2 (2013)


"In my line of work things tend to happen when it gets dark."

Berhasil meraih pendapatan 60 kali lipat dari budget yang ia miliki, hanya orang bodoh dalam dunia industri perfilman yang tidak mau meneruskan film tersebut, dengan opsi lain ia mungkin sudah kehilangan cinta. Yap, mungkin ini adalah alasan dimana Paranormal Activity series yang selalu sukses melakukan sulap tersebut memutuskan absen tahun ini, mereka sudah mulai kehilangan cinta dari penonton, memberikan ruang atau mungkin menyerahkan tongkat estafet kepada Insidious: Chapter 2, another financial success, tidak berhasil mengulangi apa yang pendahulunya pernah lakukan dalam hal kualitas.

Movie Review: The Conjuring (2013)


“The devil exists. God exists. And for us, as people, our very destiny hinges upon which one we elect to follow.”

Ada satu fenomena menarik ketika menyaksikan The Conjuring, dimana studio/theater hampir terisi penuh, namun uniknya bangku di posisi kolom terluar mayoritas kosong. Hal tersebut lazim terjadi pada film horror, genre dengan tingkat kesuksesan yang ditentukan dari kemampuannya untuk menjadikan penonton merasa gelisah, bergidik kejut, dan merasa waspada terhadap lingkungan sekitar mereka, termasuk dengan bangku kosong disebelahnya. The Conjuring, not as great as what they said through the hype, but succeed becomes an effective package. 

Movie Review: Young Adult (2011)


Everyone gets old. Not everyone grows up. 

Yap, film ini bercerita tentang Mavis Gary (Charlize Theron), mantan prom queen dari kota Mercury, Minnesota. Wanita berusia 37 tahun dengan kehidupan monoton yang hanya ditemani anjing kesayangannya ini berprofesi sebagai ghost writer untuk serial remaja Waverly Pep. Mavis gagal di pernikahan pertamanya. Suatu ketika ia menerima email yang berisikan foto bayi dari mantan pacarnya Buddy Slade (Patrick Wilson), hasil pernikahannya dengan Beth (Elizabeth Reaser). Mendadak ia galau, dan memutuskan kembali ke Mercury dengan tujuan utama merebut kembali Buddy, dari Beth. Menurut saya, ini alasan mengapa film ini diberi judul Young Adult, ketika orang dewasa masih terbelenggu sifat ketika ia remaja. :)