Showing posts with label Rachel Weisz. Show all posts
Showing posts with label Rachel Weisz. Show all posts

Movie Review: Black Widow (2021)

“Pain only makes us stronger.”

Sejujurnya buat saya kemunculan film ini terasa sedikit aneh, setelah sekian lama dinantikan film standalone bagi salah satu karakter wanita di ‘The Avengers’ itu justru hadir setelah penonton tahu bagaimana Natasha sacrifice herself di ‘Avengers: Endgamedan berujung kematian. Mengapa memberikan backstory yang tentunya akan berisikan eksplorasi terhadap masa lalu bagi karakter yang mungkin tidak akan lagi berpartisipasi dalam future films the Marvel Cinematic Universe dalam kapasitas yang penting? Well, tidak ada yang abadi dan Marvel Studios sangat paham akan hal itu, dan lewat film ini mereka justru membuka pintu baru bagi karakter Black Widow. ‘Black Widow’ : a cute family drama comedy.


Movie Review: Denial [2016]


"I think I called him a liar and also fire of history."

Salah satu hal yang menjadi bagian dari sejarah di masa lalu dan dapat kita temukan di kehidupan sekarang ini adalah mereka yang mencoba untuk “menolak” eksistensi dari berbagai peristiwa maupun aksi yang sebelumnya pernah terjadi. Memang ada arsip tapi hal tersebut tidak serta merta akan membuat opini dan ideologi dari semua orang otomatis akan sama sehingga akan selalu ada deniers di sana. Hal tersebut coba diceritakan oleh film ini, Denial, dengan menggunakan peristiwa Holocaust sebagai bahan utamanya dan berdasarkan dari sebuah kisah nyata yang berisikan moral integrity di dalamnya. It’s a compelling courtroom drama.

Review: The Light Between Oceans (2016)


"With love, forever, and ever, and ever, and ever."

Derek Cianfrance merupakan sutradara yang memiliki talenta ketika berurusan dengan materi yang mencoba menunjukkan emosi dan intimitas dari sebuah relationship, berusaha mencoba membuatnya tampak pure and looks like a real deal, Blue Valentine dan The Place Beyond the Pines, keduanya berhasil meninggalkan impresi yang begitu kuat. Kali ini ia kembali mencoba mengeksplorasi sebuah hubungan percintaan yang masih menggunakan isu sensitif tentang “kematian” dan ditampilkan dalam bentuk sebuah melancholic mournful, The Light Between Oceans. It’s an old-school and prestigious story about love and sorrowsEmotionally true, emotionally brutal. 

Review: The Lobster (2015)


"How much do you love her, on a scale of 1 to 15?"

Tentu saja kamu akan menemukan berbagai jawaban yang beragam ketika menanyakan apa arti dari cinta pada setiap orang yang kamu temui. Hal tersebut lahir dari konsep terhadap cinta yang tidak sama pada setiap manusia, ada mereka yang percaya menikah itu karena sudah saling mencintai, ada mereka yang percaya saling mencintai itu karena sudah menikah, dan lain sebagainya. Konsep tentang cinta itu yang coba digambarkan oleh The Lobster dengan menggunakan sebuah visi yang aneh bahkan mungkin gila: bagaimana jika suatu saat nanti orang dewasa diwajibkan tidak melajang, harus menemukan pasangan mereka dalam kurun waktu 45 hari, bagi mereka yang gagal dan masih melajang akan berubah menjadi binatang. Sounds crazy? Yeah, it’s a crazy play about life and love.

Review: Youth (2015)


"Intellectuals have no taste."

Meskipun memakai judul yang memiliki arti muda jangan kaget jika yang akan kamu temukan dari film ini justru sebuah observasi terhadap subjek yang tidak lagi muda. Niat Paolo Sorrentino di sini sangat menarik, baton dari The Great Beauty yang berhasil meraih Oscars dilanjutkan dengan baik oleh Youth dengan menjadi sebuah sajian studi karakter yang indah mencoba membawa kamu kedalam sebuah meditasi tentang menjadi tua dengan mencampur proses penuaan itu dengan persahabatan, kehilangan, rasa kecewa, rasa sakit, kebijaksanaan, hingga cinta.

Movie Review: Oz the Great and Powerful (2013)


Tiga bulan pertama di tahun 2013 ini anda akan menemukan tiga film yang diangkat dari dongeng yang telah terkenal. Hansel & Gretel: Witch Hunters mengawalinya di bulan januari, kemudian disusul Jack the Giant Slayer yang hadir di awal bulan maret, dan kini dilanjutkan oleh Oz: the Great and Powerful. Terlepas dari tujuan utama mereka yang mungkin saja berbeda-beda, menciptakan sebuah saga baru demi menciptakan lahan baru untuk meraup keuntungan besar pasti selalu menjadi pertimbangan utama. Berhasilkah itu dilakukan oleh Oz?

Movie Review: The Deep Blue Sea (2011)


Cinta itu buta. Anda pasti sangat familiar dengan kalimat tadi, sebuah penggambaran dimana sebuah rasa bernama “cinta” memiliki kekuatan yang sangat besar, yang jika tidak dapat dikontrol dengan baik dapat menuntun anda masuk kedalam sebuah masalah besar. Yha, suka dan duka adalah dua komponen yang tidak dapat terpisahkan dalam satu paket bernama cinta. Hal itu yang dialami oleh Hester Collyer (Rachel Weisz), istri dari Sir William Collyer (Simon Russell Beale), seorang hakim di London, yang terlibat sebuah kisah terlarang dengan Freddie Page (Tom Hiddleston), pilot RAF.

Movie Review: The Bourne Legacy (2012)



Sebagai informasi pembuka, The Bourne Legacy tidak akan mengajak anda untuk menyaksikan kelanjutan dari petualangan Jason Bourne. Anda memang masih akan menemukan Bourne yang diperankan oleh Matt Damon tetapi tidak dalam bentuk nyata. Sesuai judulnya yang jika diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia memiliki arti warisan Bourne, film ini akan membahas segala hal yang terjadi sepeninggal Jason Bourne. Berawal dari CIA yang mengambil keputusan untuk menghancurkan proyek rahasia yang telah mereka bangun. Kali ini muncul Aaron Cross (Jeremy Renner) sebagai masalah utama, seorang agent yang berhasil lolos dari jebakan yang dibuat CIA melalui pil berwarna biru dan hijau.

Movie Review: 360 (2011)



360?? Fernando Meirelles yang masuk nominasi Oscar lewat film City of God, sebenarnya telah memberikan anda gambaran yang sangat mudah dicerna lewat judul yang ia pilih tersebut. Sebuah lingkaran cerita, yang berisikan banyak permasalahan, saling terkait satu dengan yang lain, dan dipersenjatai dengan actor-aktor terkenal, seperti Jude Law, Anthony Hopkins, Rachel Weisz, dan Ben Foster, berpadu dengan actor yang kurang dikenal. Dibantu dengan skenario garapan Peter Morgan (Frost/Nixon, The Queen), jelas film ini layak mendapatkan atensi di summer time kali ini.