Showing posts with label Rebecca Hall. Show all posts
Showing posts with label Rebecca Hall. Show all posts

Movie Review: Passing (2021)

"I'm beginning to believe that no one is ever completely happy, free, or safe."

Bagian pembuka sebuah film, tentunya di luar opening credits yang berisikan daftar production companies dan anggota penting lain, merupakan “kata pengantar” film tersebut, bagian yang harus digunakan sebaik mungkin agar dapat meraih perhatian serta membuat penonton merasa tertarik, lalu ingin tahu dan penasaran seperti apa kelanjutan dari bagian pembuka tersebut. Film yang diproduksi dalam kurun waktu kurang dari satu bulan ini dapat dikatakan merupakan salah satu film di tahun 2021 dengan bagian pembuka paling menarik yang telah saya tonton sejauh ini, kemudian bergulir menjadi drama yang mempertahankan kesederhanaannya ketika berbicara tentang sesuatu yang tidak sederhana. Passing’ : an agile presentation about identity acceptance.


Movie Review: The Night House (2021)

“Do you guys believe in ghosts?”

Cukup sekitar tujuh menit buat film ini untuk membuat penontonnya merasa seperti akan terjadi suatu peristiwa aneh terhadap karakter utama, menempatkan kamu di dalam situasi hening yang dimainkan dengan manis temponya untuk kemudian disusul dengan bunyi ketukan yang menghentak dan memacu adrenalin. Saya rasa hal-hal seperti itu merupakan salah satu bagian penting dari sebuah sajian film horor dan di sini menjadi senjata yang baik untuk menggedor paranoia penontonnya yang dituntun ke dalam sebuah psychological struggle menarik yang sedang dihadapi karakter utama. The Night House’ : astounding psychological horror.


Movie Review: Godzilla vs. Kong (2021)

“The myths say that their ancestors fought each other in a great war.”

Setelah ‘Godzilla’, kemudian ‘Kong: Skull Island’ yang lantas disusul oleh ‘Godzilla: King of the Monsters’ yang menarik itu, tidak butuh waktu lama bagi penonton untuk dapat menyaksikan “pertunjukkan utama” yang tentu telah dinantikan sejak berita terbentuknya rencana membangun “MonsterVerse” muncul. Ya, masing-masing telah mendapatkan jatah film mereka sendiri dan kini saatnya mereka bertarung, seperti Batman melawan Superman tapi versi monster. Pertanyaannya ialah, mampukah sajian ini bersikap adil dan seimbang? ‘Godzilla vs. Kong’ : a lovely clash of the titans.


Review: Christine (2016)


"If it bleeds, it leads."

Dengan bantuan teknologi yang semakin canggih kamu kini dapat dengan mudah melihat berbagai aksi kejam dan tidak berperikemanusian yang dilakukan oleh manusia ke sesamanya manusia, rasa peduli dan saling menghargai serta saling menyayangi tidak lagi dijunjung tinggi lalu kemudian menjadi “buta” oleh praktik adu domba dan dengan bangga mencoba menyakiti sesamanya, baik secara eksplisit maupun secara implisit. Tapi sebenarnya hal tersebut sudah eksis sejak dulu kala, hal yang coba ditampilkan oleh film ini, Christine. Perpaduan ledakan implisit lewat depresi dan psikologis serta ledakan eksplisit lewat aksi “gila” pada sebuah siaran langsung televisi, it’s an intriguing and engaging drama-horror. 

Review: The BFG (2016)


"What kind of a monster are you?"

Setelah tahun lalu hadir dengan a very good spy thriller ‘Bridge of Spies tahun ini prolific filmmaker Steven Spielberg kembali dengan sebuah family-friendly fantasy adventure, The BFG. Bermain dengan fantasi sudah pernah Steven Spielberg lakukan di ‘E.T. the Extra-Terrestrial’, a near perfect and one of the best children's and family entertainment. Sentuhan Spielberg belum pudar di kisah persahabatan antara manusia dan raksasa ini, petualangan yang ramah bagi penonton muda dibalut dengan visual yang impresif dan cantik. Pertanyaannya adalah apakah ini sebuah petualangan fantasi yang luar biasa? It’s a good family movie from Steven Spielberg.

Review: Tumbledown (2016)


"Turn the page, start a new chapter."

Cinta memang memiliki kekuatan dan kemampuan yang luar biasa, ia tidak hanya mampu membuat kamu menjadi positif dari posisi awal positif, cinta juga mampu mengubah kamu yang awalnya negatif menjadi positif. Fungsi klasik cinta itu yang coba digambarkan oleh film ini, Tumbledown, si wanita terjebak masa lalu, si pria menolong untuk move on, berpadu dengan humor dan hati menjadi sebuah rom-com yang tidak menyengat.

Review: The Gift (2015)


"You think you've done with the past, but the past did not done with you. "

Tentu saja ada alasan kenapa saat persidangan pengacara selalu mencoba menyerang saksi kubu lawan dengan berbagai pertanyaan secara bertubi-tubi, karena ketika berada di medan perang salah satu cara mudah untuk menang adalah dengan mengganggu bahkan merusak kestabilan emosi sang lawan. Emosi itu sangat sensitif, kamu bisa menjadikan sosok idaman kamu jatuh cinta padamu dengan mengaduk-aduk emosinya lewat persembahan indah, tapi disisi lain kamu juga dapat membuat tetanggamu cemas hingga takut dengan menebar terror psikologis seperti misalnya memberikan hadiah misterius secara periodik. The Gift menggambarkan hal tersebut, sebuah psychological thriller efektif yang “mengganggu”.

Movie Review: Transcendence (2014)


"Humans are born, not programmed."

Anda pasti pernah mendengar prediksi yang mengatakan beberapa puluh tahun dari sekarang manusia tidak hanya akan bersaing dengan sesama manusia, melainkan juga teknologi yang mereka ciptakan. Positif dan negatif hadir pada obsesi manusia untuk terus bergerak maju, eksplorasi ilmu pengetahuan yang dapat menciptakan mahakarya namun dapat pula menghadirkan bencana. Isu tersebut yang dibawa oleh film ini, mempermainkan simbiosis antara manusia dan teknologi, seolah mengajak penonton untuk berseru “let’s set the limit.” Transcendence, clever ideas in tangled structure. It should be a love story.

Movie Review: Iron Man 3 (2013)


Selain menciptakan sebuah standar baru bagi film yang mengusung tema super hero, kesuksesan yang diraih The Avengers tahun lalu ikut memberikan dampak positif bagi beberapa karakter yang ia miliki yang menurut saya kurang begitu megah ketika ia berdiri sendiri, seperti Captain America dan Hulk. Namun timbul satu pertanyaan, bagaimana nasib dari karakter yang telah terkenal, apakah mereka masih mampu tampil memikat ketika kembali menjalankan tugasnya masing-masing? Salah satunya adalah leader The Avengers dalam hal popularitas, Iron Man

Movie Review: Vicky Cristina Barcelona & Two Lovers




Vicky Cristina Barcelona (2008)

Film arahan Woody Allen ini bercerita tentang dua sahabat, Vicky (Rebecca Hall) dan Cristina (Scarlett Johansson) yang menghabiskan liburan di kediaman orang tua Vicky, Mark (Kevin Dunn) dan Judy (Patricia Clarkson) di Barcelona. Vicky adalah wanita yang sangat tertarik dengan seni, sedangkan Cristina di bidang fotografi. Ketika menyaksikan pameran lukisan, muncul seorang pria berbaju merah yang menarik perhatian mereka, Juan Antonio (Javier Bardem). Pria inilah yang membawa Vicky dan Cristina “berpetualang” di masa liburan mereka.

Movie Review: The Awakening (2011)


Florence Cathcart (Rebecca Hall), mungkin sedikit berbeda dari kebanyakan wanita di tahun 1921. Wanita yang berprofesi sebagai penulis ini sangat menjunjung tinggi sains, tidak percaya pada hal-hal yang berhubungan dengan mistis seperti hantu. Itu berubah ketika seorang pria bernama Robert Malory (Dominic West) datang kepadanya meminta bantuan untuk memecahkan kasus munculnya hantu dengan wujud anak kecil yang berkaitan dengan kematian salah satu dari muridnya.