Showing posts with label Rhys Ifans. Show all posts
Showing posts with label Rhys Ifans. Show all posts

Movie Review: The King's Man (2021)

“Let's end this as gentlemen! After all, manners maketh man.”

Istilah dalam bahasa Inggris kuno “Manners Maketh Man” melambung tinggi ketika diucapkan oleh karakter Harry Hart di film Kingsman: The Secret Service, ia pakai untuk menunjukkan kepada beberapa orang anak muda London pelajaran tentang bagaimana cara bersikap sebagai seorang gentlemen. Momen tersebut terasa sangat berkesan karena hadir dalam bentuk adegan action yang mempertontonkan pesona posh British yang lantas berkembang menjadi sajian action spy comedy stylish serta lucu meskipun di beberapa bagian terasa sedikit over-the-top. Dan yang terpenting adalah film itu sukses secara komersial, and what is profitable must be exploited, that's how Hollywood wants it. Back story sounded like a good idea, which always comes with a certain risk. The King's Man’ : a concentrated nonsense.


Movie Review: Harry Potter and the Deathly Hallows - Part 1 (2010)


"I must be the one to kill Harry Potter."

Keputusan memecah novel terakhir dari petualangan Harry Potter dan teman-temannya di dunia sihir menjadi dua bagian film sebenarnya memiliki dampak positif dan juga negatif. Positifnya adalah dengan begitu terdapat kesempatan yang lebih besar bagi materi dari novel untuk hadir di layar lebar, namun dari sana pula dampak negatif kemudian dapat lahir, jika kesempatan itu tidak dimanfaatkan dengan baik salah satu dari dua part tersebut punya potensi besar untuk kurang berhasil menjadi sebuah sajian yang padat. The beginning of the end, berikut adalah film ketujuh dari Harry Potter film series, Harry Potter and the Deathly Hallows – Part 1, another puzzle solving journey with accio and one cute but depressing little dance.

Review: Snowden (2016)


"Are they watching us?"

Pada tahun 2013 pria bernama Edward Snowden yang merupakan mantan karyawan CIA dan mantan kontraktor pemerintah USA menciptakan sebuah kehebohan skala besar: membocorkan informasi rahasia serta progam yang dimiliki oleh National Security Agency bersama Five Eyes Intelligence Alliance. Semenjak itu pria yang mengatakan tempat ia kini berada adalah di internet itu tidak hanya menjadi salah satu “most wanted person” bagi pemerintah USA namun juga berhasil menciptakan perdebatan terhadap status yang ia miliki, apakah dia seorang pahlawan, patriot, whistleblower, atau pengkhianat? ‘Snowden’ is a “love story” for Edward Snowden.

Review: Alice Through the Looking Glass (2016)


"I will help my friends, no matter what."

Di tahun 2010 Tim Burton menciptakan versinya dari kisah klasik karya Lewis Carroll yang telah berulang kali diadaptasi ke dalam bentuk hiburan visual, Alice in Wonderland, sebuah petualangan fantasi dengan presentasi visual dan kostum yang begitu memikat meskipun terasa "biasa" di bagian cerita. Menghasilkan lebih dari $1 Milyar yang sempat membawanya menempati peringkat kelima highest-grossing film of all time kehadiran sekuel bukan merupakan sebuah kejutan. Pertanyaannya kembali sama, apakah ini mampu mengulangi kesuksesan sembari memperbaiki minus yang dihasilkan oleh film pertamanya? Visually enchanting, Alice Through the Looking Glass is a needless sequel, a tasteless candy.

Review: Serena (2014)


“Our love began the day we meet, nothing that happen before even exist.”

Serena ibarat seperti orang yang sedang olahraga tapi hingga ia selesai tidak mengeluarkan keringat sedikitpun, atau mungkin pasangan yang sedang bercinta tapi tidak menghasilkan sedikitpun suara. Tujuan yang ingin ia raih memang tercapai, tapi tidak ada sensasi yang benar-benar besar yang tertinggal bagi penontonnya, dan itu mengecewakan karena Serena sebenarnya punya tiga senjata yang sangat kuat untuk dapat menjadi drama yang memikat, Susanne Bier, Bradley Cooper, dan and maybe Hollywood's , America’s, and everbody’s newest sweetheart, Jennifer Lawrence.

Movie Review: The Five-Year Engagement (2012)



Empat tahun yang lalu, kombinasi Nicholas Stoller dan Jason Segel sempat mencuri perhatian lewat Forgetting Sarah Marshall, sebuah komedi-romantis dengan kisah utama tentang Peter Bretter (Jason Segel), yang mengalami permasalahan dengan kekasihnya yang diperankan oleh Kristen Bell. Kali ini Stoller dan Segel kembali, dengan tema yang sama, namun dalam kemasan yang berbeda. Tom Solomon (Jason Segel), seorang chef sebuah restoran di San Fransisco, melamar kekasih yang telah bersamanya selama satu tahun, Violet Barnes (Emily Blunt), di situasi yang justru jauh dari kesan romantis.

Movie Review: The Amazing Spider-Man (2012)


Reboot,adalah kata kunci dari film ini. Ibarat ketika anda mematikan (reboot) computer yang sudah anda gunakan sebelumnya, anda secara otomatis harus menghentikan semua aplikasi yang sudah anda nyalakan, kemudian memulai kembali dari awal. Begitupula dengan The Amazing Spider-Man. Ini bukan Spider-Man 4 dengan nama yang berbeda. Yang pertama kali anda lakukan adalah mencoba menghapus sejenak semua memori yang telah diciptakan oleh Sony Pictures sejak kemunculan manusia laba-laba ini sepuluh tahun  yang lalu, dan memulai kisah baru.