Showing posts with label Rosemarie DeWitt. Show all posts
Showing posts with label Rosemarie DeWitt. Show all posts

Movie Review: La La Land (2016)


“City of stars, are you shining just for me?”

Drama, comedy, action, horror, romance, thriller, sci-fi, mungkin jika dibandingkan dengan genre-genre tadi musical dapat dikatakan tertinggal jauh dalam hal popularitas. Meskipun pernah berada di golden age kini musical genre lebih identik dengan film animasi, tetap berada di kategori “less mainstream” meskipun telah memiliki film-film seperti Moulin Rouge!, Chicago, Sweeney Todd: The Demon Barber of Fleet Street, Nine, dan Les Misérables sebagai anggotanya. Dapatkah musical genre mencuri atensi dalam skala besar? Of course, here's to the ones who dream, perpaduan contemporary, modern, fantasy, and reality bersama sweet tunes plus catchy dances. La La Land: a joyful ode to love and life, dreams and imagination.

Review: La La Land [2016]


"I just heard you play and I want to…"

Mungkin karena definisi dari kata cinta yang begitu beragam sehingga pada akhirnya terdapat begitu banyak rupa pendekatan yang dilakukan oleh filmmaker terhadap genre romance, dan tidak semua dari mereka berhasil tampil baik. Dengan konsep utama yang kerap terasa corny genre romance itu sebenarnya tidak ribet tapi dengan syarat filmmaker harus paham “peta” dari genre romance itu sendiri sehingga tahu “twist” semacam apa yang harus ia hadirkan ke dalam formula klasik dan klise tersebut. Sutradara ‘WhiplashDamien Chazelle paham pada "peta" tersebut dan tahu apa yang harus ia lakukan, mengolah kembali corny and classic concept tadi menjadi sebuah feel-good story yang menggabungkan kisah cinta dan musical. It’s like ‘Singin 'in the Rain’ meets ‘The Wizard of Oz’ with lovely modern twist.

Movie Review: La La Land [2016]


"Yes, all we're looking for is love from someone else."

Seorang wanita keluar dari mobilnya lalu kemudian bernyanyi. Tidak lama kemudian beberapa orang ikut bergabung dengannya, setelah itu yang terjadi adalah mereka menari bersama. Momen tersebut ditampilkan lewat visual di mana kamera berputar-putar seolah tanpa putus. Hey, bukankah itu spoiler? Mungkin iya, tapi menariknya sama sekali tidak akan merusak kenikmatan yang diberikan oleh film ini. From the director of ‘Whiplash’ please welcome ‘La La Land’, a lovely combination between  romance, musical, comedy, and drama. Surely one of the best films this year, it's 'Singin' in the Rain' for the 21st century. 

Review: La La Land (2016)


"Here’s to the ones who dream."

Film yang ia sutradarai memang baru berjumlah tiga buah tapi seperti tidak salah untuk memberikan label ahli dalam meramu film musical kepada sosok bernama Damien Chazelle. Setelah “whipping” and “splashing” penontonnya lewat aksi seorang drummer meraih mimpinya di ‘Whiplash’ kini ia menggeser fokusnya pada unsur romance tentang bagaimana mimpi dan cinta saling membantu satu sama lain. Funny, gorgeous, lovely, and romantic, ‘La La Land’ is a frisky musical, it’s achieve cult status similar to Baz Luhrman's ‘Moulin Rouge!’.

Review: Men, Women & Children (2014)


"Everyone's searching for a better connection."

Film ini bisa dikatakan menjadi salah satu film yang paling diantisipasi di tahun ini, dengan alasan utama tentu saja Jason Reitman. Oke, selain kegagalannya di Labor Day yang membosankan itu apa dihasilkan oleh Jason Reitman sebagai sutradara selalu terasa menarik, dari Thank You for Smoking, Juno, Up in the Air, hingga Young Adult. Ada satu kesamaan diantara mereka, teknik bercerita yang dingin. Hal itu kembali hadir di film terbarunya ini, Men, Women & Children, tapi sayangnya sedikit terlalu dingin.

Review: Kill the Messenger (2014)


"Can you keep a national secret?"

Drama thriller yang berada dibawah kendali sutradara yang pernah diberikan kepercayaan untuk memimpin beberapa episode tv-series Dexter dan Homeland ini memang berhasil menciptakan kesempatan bagi Jeremy Renner untuk memberikan penampilan terbaiknya setelah The Hurt Locker, tapi dominasi kesan ambigu pada materi yang Kill the Messenger punya ternyata juga ikut hadir pada rasa yang ia hasilkan bagi penontonnya.

Movie Review: Promised Land (2012)


Jangan memberikan hadiah ulang tahun yang memiliki nilai terlalu tinggi pada lawan jenis anda jika maksud dan tujuan utama anda hanyalah sebatas sebagai ucapan selamat, karena jika dia salah dalam melakukan persepsi dari apa yang anda berikan hasilnya bisa saja justru akan menjadi boomerang bagi anda. Apa hubungannya dengan Promised Land? Yak, itu yang dialami oleh film ini, sebuah film drama dengan coba menghadirkan sebuah konflik dan pesan yang cukup serius.

Movie Review: The Odd Life of Timothy Green (2012)


Akan ada banyak ujian yang anda hadapi dalam menjalani kehidupan didunia ini, dan banyak pula cara agar anda dapat belajar bagaimana menghadapi masalah tersebut. Salah satu contohnya adalah Jim Green (Joel Edgerton) dan Cindy Green (Jennifer Garner), pasangan yang divonis tidak dapat memiliki anak. Ya, hancur memang, karena memiliki anak pasti menjadi sebuah mimpi terindah yang dimiliki semua pasangan suami istri. Begitupula Jim dan Cindy, mereka putus asa, frustasi, dan memutuskan untuk melupakan hal tersebut dengan berkhayal, menuliskan semua yang mereka impikan dari anak mereka. Abracadabra, semua itu menjadi nyata.

Movie Review: Your Sister's Sister (2011)


Jika kau cinta, katakan cinta. Terlalu jauh bermain dengan perasaan, saling menunggu satu sama lain, jelas akan menciptakan sebuah ruang bagi pihak lain untuk masuk kedalam kisah yang sedang dibangun. Jack (Mark Duplass), tampak sangat berat untuk mencoba lepas dari bayang-bayang adik laki-lakinya yang meninggal setahun lalu. Atas saran sahabatnya Iris (Emily Blunt), Jack pergi kesebuah pondok ditengah hutan, milik keluarga Iris, sendiri. Ternyata tanpa mereka ketahui seseorang telah datang terlebih dahulu, yang menciptakan sebuah masalah emosi yang kompleks.