Showing posts with label Steve Carell. Show all posts
Showing posts with label Steve Carell. Show all posts

Movie Review: Minions: The Rise of Gru (2022)

“Even the smallest are capable of great things.”

Bicara kualitas tentu saja ‘Toy Story’ dan beberapa nama lain jelas berada di atas mereka, tapi dengan jumlah film yang sama ‘the Despicable Me franchise’ sejauh ini berhasil mengungguli petualangan Woody, Buzz Lightyear, dan teman-temannya itu dalam hal angka box office. Gru dan para Minions andalannya saat ini menyandang status the highest-grossing animated franchises and film series mengalahkan Toy Story, Shrek, Ice Age, serta Frozen. Itu bukti bahwa sejak pertama kali muncul di tahun 2010, Gru terutama para Minions telah sukses meraih hati banyak penonton dengan tingkah lucu dan konyol mereka, dan studio Illumination belum berhenti mengeksploitasi ladang emas itu meskipun dengan cara “memutar-mutar” cerita. Apakah strategi itu kembali berhasil? Minions: The Rise of Gru’: repetitively funky.


Review: Cafe Society (2016)


“Life is a comedy, written by a sadistic comedy writer.”

Saya telah menulis dua review di blog ini untuk film yang disutradarai oleh Woody Allen, dan pembuka dua review itu kurang lebih identik, yaitu rasa kagum pada “dedikasi” tinggi Woody Allen terhadap industri film. Tetap berusaha untuk menulis sendiri naskah dari film yang ia sutradarai tentu merupakan sebuah effort yang patut diapresiasi namun akibatnya hasil yang dicapai film-film Woody Allen kerap hit or miss, hollywood "fantasy" hingga romance patah hati dengan dialog “sinis” yang terasa elegan namun ada pula yang terasa outdated. Di mana CafĂ© Society berdiri? Sebuah omong kosong yang ompong atau sebuah tragicomedy yang mumpuni?

Review: The Big Short (2015)


Tell me the difference between stupid and illegal and I'll have my wife's brother arrested.”

Saya merasa tertipu oleh The Big Short, hasil akhir yang ia berikan tidak sesuai dengan ekspektasi saya. Apakah saya yang salah menaruh ekspektasi? Mungkin, sebelum menonton saya tahu ini merupakan sebuah drama komedi namun hasil akhir yang ia berikan ternyata jauh lebih menghibur dari apa yang saya harapkan terhadap sebuah film dengan krisis finansial sebagai konflik utamanya. The Big Short merupakan salah satu film komedi terlucu tahun ini, The Wolf dari Wall Street bertemu dengan Margin Call, seperti Spotlight dengan bumbu komedi, cocky but funny.

Review: Foxcatcher (2014)


"Coach is the father. Coach is a mentor. Coach has great power on athlete's life."

Jika diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia judul film ini memiliki arti penangkap rubah, dan menariknya judul tersebut ternyata juga dapat jadi penggambaran secara garis besar apa yang akan kamu dapatkan dari film ini. Kita berada di posisi sebagai penangkap dan cerita yang berisikan percakapan dan kejahatan penuh ketenangan menjadi rubah yang terus bergerak dengan lincah. Paranoia hingga obsesi, berisikan kesedihan sampai kejahatan, bisnis penuh persaingan dan misteri sampai character study, ia punya thriller tapi juga cengkeraman layaknya sebuah horror, Foxcatcher adalah hiburan dua jam yang memukau.

Review: Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day (2014)


"One day can change everything."

Tidak seperti judulnya yang punya empat suku kata dengan makna buruk, film produksi Disney ini secara mengejutkan justru tidak memberikan pengalaman yang begitu buruk bagi penontonnya. Memang bodoh, dangkal, klise, apapun itu sebutan untuk sesuatu yang tidak baru dan standard, tapi dengan berbagai pengulangan yang di eksekusi dengan berani itu Alexander and the Terrible, Horrible, No Good, Very Bad Day justru mampu memberikan hiburan yang manis, hiburan konyol yang tidak serta merta benar-benar kosong tanpa memberikan sesuatu yang penting bagi penontonnya.   

Movie Review: Anchorman 2: The Legend Continues (2013)


"Who the hell is Julius Ceasar? You know I don't follow the NBA!"

Untuk dikenang dalam waktu lama sebuah film bukan hanya harus mampu mencapai standar memuaskan di bagian cerita, akting, sutradara, dan juga hal teknis lainnya, namun mereka harus memiliki sebuah keunikan yang sanggup menjadi kenangan yang sulit terlupakan. Komedi ringan dan absurd penuh punchline menarik? News teams fight in multiple-way? That’s Anchorman: The Legend of Ron Burgundy. Tertidur selama hampir satu dekade, empat sekawan yang aneh itu kembali, yang sayangnya harus terjerat dalam penyakit dari sebuah sekuel. Anchorman 2: The Legend Continues, still random, still silly, but has a lot of flaws in many area.

Movie Review: The Way Way Back (2013)


“You’ve got to go your own way.”

Tentu ada alasan dibalik banyak pernyataan yang mengatakan bahwa setiap manusia pada level usia berapapun itu punya arti bagi orang lain disekitarnya. Orang dewasa menjadi patokan para remaja untuk bertumbuh, sedangkan remaja menjadi objek yang menjadi alarm bagi kaum dewasa untuk mempertahankan kualitas kedewasaan mereka. Ya, itu siklus yang berlandaskan pemahaman untuk terus membawa setiap manusia bertumbuh. Secara sederhana dan efektif itu coba digambarkan oleh The Way Way Back, coming-of-age dengan kombinasi putih dan hitam yang memikat, bersinar sejak awal hingga akhir.

Movie Review: Despicable Me 2 (2013)


Tiga anak perempuan sibling yatim piatu, di adopsi oleh seorang pria botak berhidung mancung yang berupaya mencuri bulan bersama sekumpulan makhluk aneh berbentuk banana. Despicable Me, sebuah hit di tahun 2010 yang memang tidak dapat mengguncang keperkasaan Toy Story 3, namun dengan sangat mudah berhasil meninggalkan sebuah kenangan impresif bagi penontonnya, mereka fokus, menggemaskan, menyentuh, dan tampil lucu lewat tingkah konyol. Despicable Me 2, lucu, namun kehilangan beberapa materi dari kenangan tadi.

Movie Review: The Incredible Burt Wonderstone (2013)

 

Seperti judulnya, film ini seperti memberikan anda sebagai calon penonton sebuah ekspektasi dari pertunjukan sulap yang incredible, menyajikan pertarungan antara dua jago komedi di barisan depan, Carell vs Carrey, serta dibantu dengan kombinasi pendukung yang tidak kalah terkenal dari Steve Buscemi, Alan Arkin, James Gandolfini, hingga si cantik Olivia Wilde. Namun Don Scardino seperti mendapatkan sebuah boomerang dari salah satu line dialog yang hadir pada film ini, If you don't believe what you're doing, how are they gonna believe?

Movie Review: Hope Springs (2012)


Mempertahankan sesuatu akan selalu lebih sulit daripada ketika anda meraihnya. Begitupula dengan cinta, dimana awalnya pasti akan sangat indah, namun belum tentu dapat berakhir dengan indah, apalagi ketika telah berjalan selama 31 tahun. Hal tersebut dialami oleh sepasang suami istri yang telah berada diusia senja mereka, Arnold (Tommy Lee Jones), dan Kay (Meryl Streep), telah tidur di ranjang yang berbeda, dan kamar yang berbeda pula, dalam periode yang cukup panjang, akibat gairah cinta yang telah hilang.