Showing posts with label Toni Collette. Show all posts
Showing posts with label Toni Collette. Show all posts

Movie Review: Nightmare Alley (2021)

"Sometimes you don't see the line until you cross it."

Brainwashing mungkin bukan kata yang asing buat mayoritas dari kamu, aksi cuci otak yang mencoba membentuk ulang tata berpikir, perilaku dan juga kepercayaan berlandaskan konsep bahwa pikiran milik manusia dapat diubah atau dikendalikan dengan teknik psikologis tertentu. Cuci otak berawal dari mengurangi kemampuan berpikir mandiri seseorang dan ketika pintu telah terbuka maka dimasukkan pikiran dan ide baru untuk mengubah sikap, nilai, dan keyakinan orang tersebut memakai taktik koersif dan persuasi. Aksi manipulasi tersebut digunakan oleh film ini untuk membawamu masuk ke dalam sebuah pertunjukan aneh yang berisikan lingkaran setan dan bermain dengan ilusi. Nightmare Alley’: the world of the freak. 


Movie Review: Stowaway (2021)

“What we need is oxygen.”

Dapatkah Mars menjadi pengganti Bumi? Colonization of Mars, sebuah gagasan yang jawabannya saat ini semakin gencar ditelusuri oleh para ahli di bidang astronomi. Sesuatu yang tidak heran memang jika pada akhirnya manusia mulai berusaha untuk mencari “rumah baru” di luar bumi, terlebih dengan ditunjang teknologi yang terus berkembang pesat. Tapi tentu di balik penelitian dan percobaan yang dilakukan oleh space agencies seperti NASA, ESA, hingga SpaceX, ada trial and error di dalam proses menemukan jalan terbaik mencapai kolonisasi di mars. ‘Stowaway’ : a vanilla sci-fi. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Movie Review: I'm Thinking of Ending Things (2020)

"Sometimes the thought is closer to the truth, to reality, than an action.”

I'm thinking of ending things. Once this thought arrives, it stays. It sticks, it lingers, it dominates. There's not much I can do about it, trust me. It doesn't go away. It's there whether I like it or not. It's there when I eat, when I go to bed. It's there when I sleep, when I wake up. It's always there. Always. I haven't been thinking about it for long. The idea is new. But it feels old at the same time. When did it start? What if this thought wasn't conceived by me, but planted in my mind, pre-developed? Is an unspoken idea unoriginal? Maybe I've actually known all along. Maybe this is how it was always going to end. ‘I'm Thinking of Ending Things’: a mischievous and screwy psychological horror. (Warning: this review contains major spoilers).


Movie Review: Knives Out (2019)


“It's a weird case from the start. A case with a hole in the center. A donut.”

Setelah berhasil mengemas kisah petualangan luar angkasa yang melegenda itu, Star Wars, menjadi sebuah opera dengan berbagai kejutan manis di dalam cerita, kini sutradara Rian Johnson (Looper, Star Wars: The Last Jedi) mencoba membawa penonton ke dalam sebuah drama misteri yang kembali ia kemas dengan berbagai kejutan menarik, membawa penonton bertanya-tanya sedari awal hingga akhir cerita. ‘Knives Out: a slick and neat classic whodunit.’

Review: xXx: Return of Xander Cage [2017]


"Damn, it feels good to be back."

Ketika ia membintangi ‘XXX’ hampir satu setengah dekade yang lalu mungkin karakter Xander Cage tampak kurang potensial sehingga tidak berada di dalam daftar prioritas yang Vin Diesel miliki. Alhasil pada sekuel yang rilis pada tahun 2005 karakter Xander Cage tidak kembali di mana posisi Vin digantikan oleh Ice Cube. Ya, mungkin setelah posisinya yang kini dapat dikatakan sedang hot setelah sukses besar Fast & Furious dan menjadi bagian dari Marvel Cinematic Universe Vin Diesel kemudian berpikir untuk kembali mencoba peruntungannya dengan karakter Xander Cage. Hasilnya, the return of Xander Cage! Pertanyaannya adalah is there still some magic left with xXx franchise?

Review: Imperium (2016)


"For evil to triumph, it only takes good men to do nothing."

Ketika berbicara tentang aksi terorisme fokus kita kerap selalu mengarah pada arah yang sama, baik itu yang melibatkan kelompok, negara, dan yang paling gila mengikutsertakan agama. Namun sesungguhnya aksi terorisme dapat lahir dalam berbagai bentuk dan dari berbagai arah, salah satunya dari “dalam” setiap negara. Mereka yang merasa ditindas serta diabaikan oleh negara mereka sendiri itu dapat menghasilkan kekacauan atau mimpi buruk yang lebih besar dari apa yang diperoleh suatu negara dari serangan negara lain. Itu yang diceritakan oleh ‘Imperium’ dengan cara yang efektif, aksi menyusup dan rasa cemas, when Harry Potter shaving his hair and doing undercover mission as a Nazi skinhead.

Review: Krampus [2015]


"Saint Nicholas is not coming this year. Instead, a much darker, ancient spirit."

Krampus ini seperti sebuah biscuit berbentuk bola yang tampak biasa namun setelah kamu mengunyahnya ternyata terdapat cokelat di bagian dalamnya yang akan meledak di dalam mulut. Ide yang digunakan sederhana, sebuah mitologi, keluarga disfungsional, lalu terjebak dan bertahan hidup, namun lewat kepanikan yang memadukan horror, komedi, drama, dan fantasi, Krampus berhasil menjadi sebuah sajian yang klise, standar, namun efektif dalam menyampaikan pesan kasih yang dibawa dalam setiap perayaan natal.

Review: Miss You Already (2015)


"When life falls apart, friends keep it together."

Menciptakan sebuah film yang jualan utamanya berupa komedi tapi menggunakan tema gelap yang lebih cenderung dibentuk menjadi drama serius, seperti kematian misalnya, merupakan tugas yang tricky. Iya, tricky, bukan mustahil. Yang pertama terlintas di pikiran dari kombinasi tadi adalah 50/50, Adam mengidap penyakit dengan kemungkinan sembuh dan tidak di posisi sama besar, kemudian Adam dibantu oleh teman disekitarnya berjuang untuk mendapatkan hasil terbaik. Seperti itu pula konsep Miss You Already, drama-comedy dari sutradara Twilight.

Review: Tammy (2014)


"She hit the road. The road hit back."

Melissa McCarthy ternyata masih belum bosan berperan sebagai wanita menjengkelkan, setelah mencuri identitas Jason Bateman di Identity Thief, kemudian menjadi rekan yang menyusahkan Sandra Bullock di The Heat, kali kini Melissa kembali membuat kekacauan yang sayangnya justru menciptakan jalur rollercoaster baru pada filmography wanita yang pernah bertarung di ajang Oscar ini. 

Movie Review: Enough Said (2013)


"I'm tired of being funny."

Selesaikan masalah secepat mungkin, karena tidak peduli seberapa besar keuntungan yang kelak mungkin ia hasilkan tindakan mengabaikan sejenak suatu permasalahan pada akhirnya akan selalu didominasi kekuatan yang menarik anda menuju garis finish pada sebuah sisi gelap. Hal umum tesebut menjadi tema dari permainan cinta yang ditawarkan oleh Enough Said, kombinasi manis, pahit, dan asam dalam kemasan yang kompleks namun ringan.

Movie Review: The Way Way Back (2013)


“You’ve got to go your own way.”

Tentu ada alasan dibalik banyak pernyataan yang mengatakan bahwa setiap manusia pada level usia berapapun itu punya arti bagi orang lain disekitarnya. Orang dewasa menjadi patokan para remaja untuk bertumbuh, sedangkan remaja menjadi objek yang menjadi alarm bagi kaum dewasa untuk mempertahankan kualitas kedewasaan mereka. Ya, itu siklus yang berlandaskan pemahaman untuk terus membawa setiap manusia bertumbuh. Secara sederhana dan efektif itu coba digambarkan oleh The Way Way Back, coming-of-age dengan kombinasi putih dan hitam yang memikat, bersinar sejak awal hingga akhir.