Showing posts with label Bill Murray. Show all posts
Showing posts with label Bill Murray. Show all posts

Movie Review: Ghostbusters: Afterlife (2021)

“Take a little advice. Don't go chasing ghosts.”

Fungsi film ini mengingatkan saya pada Star Wars: Episode VII - The Force Awakens yang kala itu hadir membuka kisah baru setelah ‘Prequel trilogy’ dianggap kurang mampu menyamai kualitas ‘Original trilogy’. ‘Ghostbusters II’ tentu saja sangat jauh dari kata buruk tapi jelas ada penurunan kualitas dibandingkan dengan film pertama yang tidak hanya sukses di box office saja tapi juga mendapat pujian dari penonton serta kritikus, perpaduan komedi, aksi, dan horor yang berhasil menjadi cultural phenomenon sampai saat ini. Bringing back a popular franchise jelas bukan sebuah pekerjaan mudah dan film ini memberanikan diri to travel back in time and connect directly to the originals serta “melanjutkan” kisah yang dimulai oleh tiga Professor doyan hantu itu. ‘Ghostbusters: Afterlife’: timeless classics updated and handover.


Movie Review: The French Dispatch (2021)

“All grand beauties withhold their deepest secrets.”

Tidak mudah jika berbicara tentang film karya Sutradara Wes Anderson, beberapa menyukai gaya visual yang telah menjadi ciri khasnya dengan komposisi dan detail yang cantik berpadu bersama karakter yang unik, tapi tidak heran jika di sisi lainnya ada yang tidak suka dengan gaya bercerita Wes Anderson yang terkesan egois serta terlalu mementingkan diri sendiri sehingga menilai apa yang coba ia sajikan terasa sebagai sesuatu yang dangkal. Kali ini Si Pencerita ulung itu mencoba justru semakin jauh mengeksplorasi elemen khas miliknya yang stylish and whimsical, homage yang lebih kompleks dari gaya formulanya selama ini dan punya potensi jauh lebih mudah untuk membuatmu lost in translation di dalam a love letter to journalism and the world. ‘The French Dispatch’ : another cosmos from the puppet-playing maestro.


Movie Review: On the Rocks (2020)

“Can a man ever be satisfied with one woman?”

Sofia Coppola movies are always tricky. Wanita ini memiliki keunikan tersendiri pada pendekatan yang ia terapkan pada tiap isu yang coba ia sajikan, tampak terlalu biasa sudah menjadi pemandangan yang lazim dari fillm-filmnya. Namun tampak biasa bukan berarti tidak luar biasa. Di film terbarunya ini Sofia Coppola tidak menyajikan konflik tingkat tinggi, kita bertemu dengan seorang wanita yang menjadi mayoritas wanita pada umumnya, menggunakan perasaan mereka ketimbang logika kemudian hanyut di dalam aksi overthinking. Oh, no! ‘On the Rocks’ : a beauty in minor key.


Review: Ghostbusters [2016]


"Don't piss off the ghost."

Rasa kaget yang begitu besar muncul ketika melihat gelombang “menolak” yang hadir di trailer reboot Ghostbusters empat bulan yang lalu, hingga review ini dirilis telah mendapat 930.000+ dislike. Kita tahu betapa besar cinta yang diperoleh versi original Ghostbusters tapi apakah menolak secara frontal untuk sebuah “pembaharuan” yang bahkan kita belum tahu baik dan buruknya merupakan sebuah tindakan yang sehat? Memberikan kegembiraan yang jauh lebih besar dari sekuel versi original, ‘Ghostbusters (2016)’ berhasil memberikan punch begitu kuat untuk kaum pesimistis tadi, a bigger and bustier re-imagining to the classic film. Not super legit but pleasantly solid.

Review: The Jungle Book (2016)


"The jungle is no longer safe for you."

The Jungle Book merupakan kumpulan cerita yang timeless, cerita yang ketika kamu baca kembali masih akan terasa menarik dan semakin tinggi jenjang usia ketika kamu membacanya maka akan semakin luas pula kerangka acuan serta perspektif yang akan kamu temukan dan rasakan, dari tradisi, ketekunan, kesetiaan, keberanian, kehormatan, hingga integritas. From the director who brought you Iron Man eight years ago film ini berhasil melakukan reimagining The Jungle Book kedalam presentasi yang tidak hanya hanya sekedar proporsional dalam konteks cerita namun juga menjadi sebuah petualangan gelap dan terang yang thrilling serta eye candy.

Review: Dumb and Dumber To (2014)


Dua puluh tahun atau dua dekade tentu bukan waktu yang singkat, bayi yang dahulunya masih belajar merangkak mungkin saja kini sedang melangkah keluar dari ruang resepsi pernikahannya, pasangan yang dahulunya penuh kemesraan ketika high school kini mungkin sedang pusing mempersiapkan anak mereka yang akan masuk middle school. Perubahan akan terjadi pada mayoritas hal yang ada didunia, yang sayangnya seperti dikalikan nol saja oleh Farrelly brothers di film ini, Dumb and Dumber To, upaya menghidupkan kembali duo penuh kegilaan yang telah menghilang selama dua dekade tanpa sebuah penyegaran yang mumpuni.

Review: St. Vincent (2014)


"Some people get better with age. Vincent is not one of them."

Dari judulnya saja film ini mungkin telah berhasil memberikan kesan aneh dan unik pada penontonnya, St. Vincent, Vincent sosok yang suci? Celakanya hal tersebut seperti sebuah sentilan manis yang sejak kehadirannya di bagian awal tidak pernah berhenti membuat penontonnya tersenyum hingga akhir, kemasan yang tidak mencoba terlalu kuat untuk terasa pintar namun dengan cara yang pintar berhasil memberikan sebuah hiburan komedi yang kuat. Another Golden Globe nomination for Peter Venkman? I gotta feeling.

Movie Review: The Grand Budapest Hotel (2014)


"The beginning of the end of the end of the beginning has begun."

Jika cara anda berekspresi masih belum memberikan rasa bosan bagi anda, maka belum ada alasan bagi anda untuk berubah demi memuaskan pendapat orang lain. Terdengar egois memang, namun yang mengerti cara agar anda dapat merasa bahagia adalah anda sendiri, itu yang masih diterapkan oleh Wes Anderson, namun uniknya ia kembali tidak hanya bergembira seorang diri bersama ide-ide miliknya, ia juga mampu mengajak penonton untuk bersenang-senang dalam fantasi penuh warna. The Grand Budapest Hotel, 2014 yummy orchestra.

Review: The Grand Budapest Hotel (2014)


"There are still faint glimmers of civilization left in this barbaric slaughterhouse that was once known as humanity."

Ketika selesai menyaksikan film ini ada satu pertanyaan aneh yang terlintas di pikiran saya, apa jadinya ya kalau Wes Anderson diminta untuk jadi sutradara film horror? Bisa atau tidak? Dia seperti punya aturan main bahwa filmnya harus colorful tentu saja dengan keunikan gambar simetris miliknya itu, tapi disisi lain ia juga ahli dalam menciptakan narasi yang tampak rumit bahkan kacau dan bergerak gegabah tapi dengan cepat mampu menjerumuskan penontonnya untuk terbuai kedalam mood dari imajinasi miliknya tersebut. Sebagai imajinasi terbarunya The Grand Budapest Hotel masih punya hal-hal tadi, keindahan yang rumit dalam petualangan yang bergerak cepat, super sweet and eye-catching a box of cakes. Two thumbs up.  

Movie Review: The Monuments Men (2014)


"Your lives are more important than a piece of art."

Film ini berhasil menjadi bukti terbaru dari betapa besarnya peran sebuah poster pada upaya membentuk ekspektasi calon penonton. Coba perhatikan poster diatas, sekumpulan pria yang jika anda coba telusuri lebih jauh punya kombinasi belasan nominasi Oscar di kantong mereka, berpakaian layaknya tentara dan seperti menjanjikan sebuah cerita bertemakan peperangan dengan permasalahan yang rumit dan kompleks. Stop, hapus ekspektasi itu, materi perang hanya menjadi sebuah dasar, karena ini adalah petualangan tanpa urgensi. The Monuments Men, it’s not a war battle, it’s just the picnic man.

Movie Review: Hyde Park on Hudson (2012)


Tujuan utama yang ingin disampaikan oleh sebuah film dengan bertemakan biografi adalah agar anda mengetahui kisah yang pernah dialami tokoh tersebut, dan mungkin bagi mereka yang sebelumnya telah mengetahui informasi tersebut dapat lebih memperdalam pengetahuan mereka. Hyde Park on Hudson akan mencoba mengajak anda lebih dekat kepada sosok Presiden ke 32 USA, dan salah satu tokoh paling terkenal dipertengahan abad ke-20, Franklin D. Roosevelt, yang ternyata pernah memiliki kisah asmara yang terlarang.

Movie Review: Moonrise Kingdom (2012)


"I love you, but you don't know what you're talking about."

Selalu ada masalah dalam cinta, dan akan ada cinta jika anda berusaha. Tidak heran banyak orang berkata “cinta itu perlu perjuangan”, “cinta tak bisa dipaksa”, karena fakta yang ada memang begitu. Moonrise Kingdom, akan membawa anda kepada kisah perjuangan cinta, dengan berbagai masalah yang menghadang, melalui sosok dua remaja berusia 12 tahun yang berhasil memberikan daya magisnya untuk rasa cinta yang mereka miliki.