Showing posts with label Jack O'Connell. Show all posts
Showing posts with label Jack O'Connell. Show all posts

Movie Review: Little Fish (2021)


“Can I kiss you?”

Pandemi Covid-19 dapat dikatakan menjadi salah satu penyebab mengapa ide yang coba disajikan oleh film ini berhasil bekerja dengan baik, dan tentu saja mencapai target. Seperti kita ketahui bersama pandemi itu menciptakan situasi penuh dengan kecemasan di berbagai belahan dunia, semua orang menjadi waspada di mana mereka seperti dipaksa untuk mengubah mimpi mereka menjadi jauh lebih sederhana untuk saat ini, yakni untuk tetap terhindar dari virus Covid-19 dan dapat bertahan hidup. Lantas bagaimana setelah vaksin ditemukan? ‘Little Fish’ : all we could do was wait.


Review: Money Monster (2016)


"Without risk there is no reward."

Di fitur layar lebar ketika tampil sebagai seorang aktris di depan kamera Jodie Foster merupakan salah satu ahli dalam hal berbicara kepada penonton melalui karakternya, namun ketika ia mencoba duduk di depan layar monitor sebagai sutradara fitur yang ia hasilkan biasa-biasa saja. Home for the Holidays, The Beaver, mereka tidak buruk namun sulit pula untuk dikatakan sebagai kemasan yang benar-benar kuat. Mampir sejenak ke layar televisi dengan menyutradarai Orange Is the New Black serta House of Cards kini Jodie Foster kembali mencoba untuk berbicara sebagai sutradara lewat Money Monster, berkisah tentang praktek bisnis di Wall Street yang ternyata bukan merupakan kemasan drama thriller kelas monster.

Review: ’71 (2014)


Salah satu hal paling menyakitkan jika berbicara tentang kekerasan atau hal-hal brutal adalah ketika mereka di tampilkan kepada kita secara tenang, rasa sakit yang dihasilkan kerap lebih besar ketimbang jika kekerasan tersebut di kemas dengan cepat dan kemudian berlalu. Yann Demange seperti mencoba menerapkan konsep tersebut dalam film debutnya ini, '71, mencoba mengurung penonton bersama karakter yang sedang dalam kondisi terkurun untuk kemudian berjuang hingga merasakan sakit yang ia alami. Well, itu cukup berhasil.

Movie Review: Unbroken (2014)


"If you can take it, you can make it."

Pernyataan terkait keinginannya untuk pensiun dari dunia film sebagai aktris tentu saja menjadikan kita semakin yakin bahwa Angelina Jolie sudah jatuh cinta untuk berkarya di balik layar sebagai sutradara, profesi yang sudah ia mulai tiga tahun yang lalu. Ada sebuah pertumbuhan yang menarik dari seorang Angelina Jolie di film keduanya sebagai sutradara ini namun sayangnya ibarat seorang pematung ia merupakan sosok yang mampu mengolah sebongkah kayu menjadi berbagai bentuk yang menarik tapi celakanya ia belum mampu memolesnya untuk tampak menarik dan memikat dalam jangka waktu yang lama. Unbroken, a stiff biography which can't toying his audience.

Movie Review: Starred Up (2014)


"We're all different on the inside."

Banyak orang masuk dan terperangkap di dalam suatu masalah bukan disebabkan oleh hal-hal yang berada disekitar mereka, sering kali justru ketidakmampuan mereka untuk mengendalikan atau mengontrol diri yang membawa mereka masuk kedalam kegelapan tersebut, tidak mampu menerapkan cara positif dan kemudian memilih memberikan respon dengan menggunakan kekerasan dan aksi brutal ketika tekanan yang begitu besar datang menghampiri mereka. Ya, self-management, dan itu diceritakan oleh film ini dengan menggunakan penjara sebagai arena bermainnya. Starred Up, an intense, sharp, and genuine drama.

Movie Review: 300: Rise of an Empire (2014)


"Better we show them, we chose to die on our feet, rather than live on our knees!"

This is Sparta!!! Apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kalimat itu? Seorang pria yang bermimpi menjadi Superman namun sayangnya hanya punya celana dalam dan tak bisa melindungi kumpulan otot miliknya? Tidak hanya itu, namun sebuah kalimat sederhana dari para pria dengan perawakan kekar yang bukan hanya mampu menunjukkan semangat mereka, namun juga sanggup membuat kita sebagai penonton mengangkat tangan dan berteriak “ahoo, ahoo, ahoo.” Ia tidak megah, namun 300 punya keunikan yang menjadikannya sebagai sebuah kenangan. Kemasan past, present, dan future dari 300 ini tidak punya hal tersebut, 300: Rise of an Empire, it’s about scream, blood, slow motion, and abs!!! Without dignity. Oh, also British who fight for Greece!!! Bland. Borefest.

Movie Review: This Is England (2006)


Shaun (Thomas Turgoose), tinggal bersama ibunya Cynthia (Jo Hartley), setelah kehilangan ayahnya yang tewas setelah ikut serta dalam perang Falklands setahun yang lalu. Shaun masih dihantui memori bersama ayahnya, yang membuat dia lebih senang menyendiri. Hal Ini menjadikan ketika ia diganggu sekelompok anak jahil disekolahnya, ia melawan. Dalam perjalanan pulang, Shaun bertemu kelompok skinhead, dengan pemimpin bernama Woody (Joseph Gilgun), yang anehnya memberikan perhatian yang lebih kepada Shaun. Merasa cocok dengan teman barunya, Shaun memutuskan berubah menjadi skinhead.