Showing posts with label Olga Kurylenko. Show all posts
Showing posts with label Olga Kurylenko. Show all posts

Movie Review: Black Widow (2021)

“Pain only makes us stronger.”

Sejujurnya buat saya kemunculan film ini terasa sedikit aneh, setelah sekian lama dinantikan film standalone bagi salah satu karakter wanita di ‘The Avengers’ itu justru hadir setelah penonton tahu bagaimana Natasha sacrifice herself di ‘Avengers: Endgamedan berujung kematian. Mengapa memberikan backstory yang tentunya akan berisikan eksplorasi terhadap masa lalu bagi karakter yang mungkin tidak akan lagi berpartisipasi dalam future films the Marvel Cinematic Universe dalam kapasitas yang penting? Well, tidak ada yang abadi dan Marvel Studios sangat paham akan hal itu, dan lewat film ini mereka justru membuka pintu baru bagi karakter Black Widow. ‘Black Widow’ : a cute family drama comedy.


Review: The Water Diviner (2014)


Penonton mana yang tidak suka ketika mereka dibawa berjalan oleh sebuah film untuk kemudian bertemu dengan banyak warna variatif, dari gelap menuju terang kemudian bertemu dengan warna yang sedikit sendu. Tapi hal tersebut tidak lantas justru membuat film tersebut merasa santai dan tenang karena keputusan untuk menjadi tampak berwarna harus ia sokong pula dengan tanggung jawab agar semua warna tadi dapat bercampur dengan baik dan saling mendukung satu dengan lainnya, karena kesalahan kecil dapat menghasilkan dampak yang signifikan. Nah, itu yang akan kamu temukan pada The Water Diviner.

Movie Review: The November Man (2014)


"Cause after you passed through, nothing lived."

Coba perhatikan poster diatas, ia punya seorang pria dengan perawakan tangguh seolah siap beraksi tanpa ampun untuk menghabisi lawan-lawannya, pria lain yang tampak sedang berlari dengan kecepatan tinggi seperti singa mengejar mangsanya, dan wanita berpakaian seksi yang mungkin saja akan terasa menggoda jika hanya diliat sepintas. Film ini mengubah hal-hal menarik yang menjanjikan tadi menuju arah yang berbeda, The November Man, an ex James Bond with an ex Bond Girl run around Belgrade.

Review: The November Man (2014)


"A spy is never out of the game."

Sebut saja The November Man sebagai upaya yang dilakukan oleh Pierce Brosnan untuk tidak melupakan rasanya menggenggam pistol dan terlibat dalam cerita tensi tinggi, dimana setelah melepaskan tugasnya sebagai James Bond, aktor kawakan ini lebih sering bermain di ranah drama serta komedi, dari Mama Mia! hingga Love Is All You Need. Untungnya usaha tersebut tidak tampil begitu buruk. 

Movie Review: Vampire Academy (2014)


Mungkin banyak yang beranggapan bahwa premis merupakan faktor kunci dari sebuah film di bagian awal, namun sebenarnya di atas premis ada sesuatu yang jauh lebih penting: konsep. Ya, apa yang ingin ia gambarkan, dan bagaimana cara ia menghadirkan eksekusi pada penggambaran tadi, dua hal dasar yang sangat penting. Hal tersebut yang tidak hadir dalam kapasitas yang kuat pada film ini, seolah terombang-ambing dalam rasa bingung, Vampire Academy, a movie who doesn't know what she wanna be. Frankly to say, they suck from beginning.    

Movie Review: To The Wonder (2012)

 

Bagi saya, sebuah film yang mengandalkan bahasa visual adalah sebuah film yang egois. Bukan berarti ia punya tingkat kesulitan dalam cara pemahaman yang berbeda dari film pada umumnya (menurut saya itu sama saja), meskipun ketimbang dipadati dengan dialog-dialog untuk membawa penontonnya masuk dan berpetualang kedalam cerita, ia justru didominasi tampilan visual disertai dialog yang minim. Dampaknya, ia sangat sangat menuntut para penontonnya untuk harus berada dalam kondisi dimana mood mereka sedang baik agar dapat ikut menikmati semua pesan yang ia usung. Menyenangkan, sometimes.

Movie Review: Oblivion (2013)


Berbeda genre, beda pula perlakuan yang harus anda berikan dalam menilai baik dan buruknya paket yang ditawarkan oleh sebuah film. Jika saya menilai komedi dilihat dari sukses tidaknya ia membuat saya tertawa, dan siap dengan hal bodoh dan konyol, horror diukur dari tingkat keberhasilannya dalam menakut-nakuti saya, lain pula dengan Sci-fi, dimana saya secara khusus selalu menarik peran cerita sedikit lebih kebelakang, dan lebih mengharapkan sebuah inovasi baru yang mampu membawa saya ikut berimajinasi dalam konteks yang lebih ilmiah ketimbang sebuah fantasi.

Movie Review: Seven Psychopaths (2012)


Psikopat, unik dan berbahaya, karena dibalik tampilan normal yang mereka miliki psikopat merupakan sebuah threat terselubung yang dapat mengancam nyawa anda. Mereka bisa tampil lucu dan lembut, tapi mereka dapat berubah menjadi makhluk buas yang manipulatif, melakukan tindakan kriminal tanpa rasa empati dan toleransi. Seven Psychopaths, film komedi Inggris yang akan membawa anda bermain-main bersama para psikopat. Ya, para, karena dia punya tujuh orang psikopat.