Showing posts with label Rebel Wilson. Show all posts
Showing posts with label Rebel Wilson. Show all posts

Movie Review: Jojo Rabbit (2019)


“Not everyone is lucky enough to look stupid.”

Ada banyak materi cerita yang sebenarnya ada di kategori "riskan" untuk diceritakan kembali ke dalam bentuk media film, apalagi jika digunakan sebagai bahan utama komedi penuh lelucon. Salah satunya adalah Adolf Hitler, sosok penguasa Jerman dan pemimpin Partai Nazi, pria radikal yang telah dikenal dengan image “kejam” mungkin hampir di seantero dunia. Bagaimana jika Adolf Hitler digunakan sebagai lelucon, di film ini ia bahkan dilabeli sebagai "pathetic little man who can't even grow a full mustache." ‘Jojo Rabbit’ : a good anti-hate satire comedy. 

Review: The Brothers Grimsby [2016]


"One secret agent, one complete idiot."

Dari menjadi Ali G seorang pemimpin wannabe gangsters, lalu menjadi reporter asal Kazakhstan di Borat (yang memberinya nominasi screenplay Oscars), lalu menjadi seorang fashion reporter di Bruno, hingga mengambil inspirasi dari beberapa pemimpin diktator dan kemudian menjadi penguasa negeri ciptaannya sendiri Republic of Wadiya di The Dictator, Sacha Baron Cohen seperti belum lelah untuk kembali menyapa penonton dalam tampilan yang “unik” tentu saja dengan rasa komik yang kental. The Brothers Grimsby kembali mencoba membawa Sacha Baron Cohen lengkap dengan formula andalannya, namun apakah itu berhasil bekerja dengan baik karena konsep The Brothers Grimsby ternyata sedikit berbeda dari film-film Sacha Baron Cohen tadi.

Review: How to Be Single (2016)


"Welcome to the party."

Philophobia atau rasa takut untuk jatuh cinta dan terlibat ikatan asmara serta emosional secara mendalam sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang aneh, karena tidak semua orang ketika mencoba move on memiliki gejolak emosi yang baik terhadap cinta mereka di masa lalu. Menggunakan konsep “wanita bisa” lalu bermain-main bersama persahabatan serta cinta How to Be Single mencoba untuk menjadi sebuah komedi romantis dengan gaya metropolis.

Review: Night at the Museum: Secret of the Tomb (2014)


"Why don't you take a picture, it'll last longer!"

Film ketiga dari kehidupan malam di museum yang pertama kali hadir delapan tahun yang lalu ini seperti sebuah kendaraan sewaan dengan durasi sewa yang belum habis sehingga membuat sang peminjam memilih untuk mengisi waktu sisa tadi dengan berputar-putar tanpa arah. Memang ada momen lucu, memang ada momen ketika nostalgia pada karakter hadir kehadapan kita, tapi Night at the Museum: Secret of the Tomb tidak berhasil menjadi sebuah perpisahan yang akan dikenang lama oleh penggemarnya.

Movie Review: Pitch Perfect (2012)


Setiap tahun pasti akan ada film yang secara teknis dapat dikatakan tidak begitu memuaskan, namun disisi lain mampu membuat anda ingin menyaksikannya kembali. Hal itu biasanya terjadi karena film tersebut punya satu elemen kunci yang mampu menghibur anda, dan membekas di ingatan anda. Pitch Perfect adalah salah satu contohnya, punya satu elemen kunci yang mampu tampil menghibur, dan sedikit mampu menebus dosa besar yang ia ciptakan.