Showing posts with label Dakota Johnson. Show all posts
Showing posts with label Dakota Johnson. Show all posts

Movie Review: Cha Cha Real Smooth (2022)

“I'm sorry, growing up is hard.”

Tidak semua orang dalam hidupmu datang untuk tinggal, ada yang sebatas singgah lalu pergi setelah “membantumu” belajar berbagai hal menarik tentang hal baik dan hal buruk di dunia ini. Ya, saya pernah menggunakan kalimat serupa tapi memang itu merupakan salah satu bagian dalam kehidupan yang selalu menarik untuk diulik dengan berbagai cara, lewat drama keluarga misalnya hingga tentu saja kisah cinta. Kali ini hal tersebut bergabung dengan bagian lain dari perjalanan hidup manusia, yakni proses self-discovery, di masa muda yang masih penuh dengan kobaran api semangat dan juga ambisi tinggi, berhadapan dengan kenyataan hidup yang kadang mampu membanting jatuh mimpi yang sudah kadung digantung terlalu tinggi. Ya, tumbuh dewasa itu sulit. ‘Cha Cha Real Smooth’: goofy drama comedy with authentic empathy.


Movie Review: Persuasion (2022)

“All that is meant for one, is meant to find the one.”

“Kalau masih cinta, jangan memaksa untuk move on.” Lantas bagaimana cara agar dapat segera melupakan dan memulai kembali kisah cinta yang baru? Saya juga tidak tahu jawabannya, karena cara cinta bekerja di setiap orang tentu berbeda-beda, ada yang hanya butuh satu minggu untuk langsung melupakan dan mencoba memulai kembali, tapi ada pula yang berjuang untuk menghapus memory indah bersama sang mantan kekasih dalam hitungan tahun bahkan lebih dari setengah dekade. Hal apa sebenarnya yang menyebabkan perbedaan tersebut, sehingga ada yang mudah tapi ada pula mereka yang kesulitan? When pain is over, the remembrance of it often becomes a pleasure. ‘Persuasion’: a Bridgerton knock-off.


Movie Review: The Lost Daughter (2021)

"We are obliged to do so many stupid things. From childhood, even."

Seorang anak adalah pusaran kecemasan, dan hal tersulit untuk dibicarakan adalah hal-hal yang kita sendiri tidak dapat mengerti. Kombinasi itu berpotensi membawa masalah bagi wanita yang baru saja menyandang status sebagai seorang Ibu, berawal dari baby blues kemudian depresi postpartum dan berakhir di psikosis postpartum, wanita akan terkejut ketika ia harus menjadi seorang anak perempuan namun juga Ibu secara bersamaan, struggling to be both. Titik awalnya adalah rasa tidak percaya diri namun jika perasaan seperti itu berkepanjangan maka dapat menyebabkan ibu jatuh dalam keadaan depresi dan berujung pada masalah mental. Film ini mencoba membawamu mengamati hal tersebut dengan menggunakan cermin dan kilas balik. The Lost Daughter’: a dodgy drama.


Movie Review: Our Friend (2019)

“If I had the world to give, I'd give it to you as long as you live.”

Saya percaya peran dari keluarga dan sahabat itu sama pentingnya dalam kehidupan seseorang, tapi terkadang ada beberapa sahabat yang kemudian sangat klik dengan kamu dan lantas membuatnya merasa lebih “nyaman” ketimbang keluarga. Sesuatu yang terasa sangat wajar memang karena pada dasarnya keluarga bersifat “given” sejak kamu lahir, beberapa karena koneksi orangtuamu dan tidak dapat kamu ubah, kamu “dipaksa” untuk menyesuaikan diri dengan mereka. Berbeda dengan sahabat, mereka eksis di kehidupanmu karena “memenuhi syarat” yang telah kamu tetapkan. ‘Our Friend’ : because friends are the family you choose.


Review: Fifty Shades Darker (2017)


"I don't know whether to worship at your feet or spank you."

Sulit untuk menampik bahwa ‘Fifty Shades of Grey’ merupakan sebuah erotic romantic drama film yang terasa medioker meskipun ia berhasil meraup $571 juta, lebih dari sepuluh kali lipat dari budget yang ia punya. Hingga ketika review ini ditulis penerusnya, ‘Fifty Shades Darker’ ternyata telah menjadi “follow-up” yang baik bagi ‘Fifty Shades of Grey’ di box office, namun pertanyaannya adalah bagaimana dengan kualitas yang ia punya? Apakah saga berisikan jeratan asmara di antara Mister Grey dan Anastasia yang dipenuhi BDSM itu berkembang ke arah yang lebih baik ketimbang kontes saling bertatap mata di antara dua jiwa yang “rusak” untuk kemudian diselesaikan dengan having sex?

Review: A Bigger Splash [2015]


"We're all obscene. Everyone's obscene. That's the whole point."

Konsep koleksi, seleksi, dan resepsi dalam hubungan asmara mungkin memang sulit untuk diterima oleh banyak orang tapi sesungguhnya itu merupakan sesuatu yang baik. Ya, selalu akan ada rumput tetangga yang lebih “hijau” dari rumput milikmu, dan tugas kamu adalah tetap teguh untuk yakin bahwa rumput yang kamu punya adalah yang terbaik untukmu. Dasar dari sistem rumput yang lebih hijau tadi digunakan oleh A Bigger Splash, di bawah kendali sutradara I Am Love (io sono l'amore) menggambarkan persaingan cinta yang dingin dan hangat, lucu dan sensual. Lord Voldemort tampil rock 'n' roll di sini.

Review: How to Be Single (2016)


"Welcome to the party."

Philophobia atau rasa takut untuk jatuh cinta dan terlibat ikatan asmara serta emosional secara mendalam sebenarnya bukan merupakan sesuatu yang aneh, karena tidak semua orang ketika mencoba move on memiliki gejolak emosi yang baik terhadap cinta mereka di masa lalu. Menggunakan konsep “wanita bisa” lalu bermain-main bersama persahabatan serta cinta How to Be Single mencoba untuk menjadi sebuah komedi romantis dengan gaya metropolis.

Review: Cymbeline (2015)


“Where is our daughter?”

Membentuk kembali Shakespeare's plays kedalam tampilan baru merupakan sebuah pekerjaan yang tidak mudah apalagi ketika ia tidak hanya dibentuk ulang namun diterjemahkan dan di modifikasi kedalam bentuk yang sedikit berbeda. Perlu sensitifitas yang begitu tinggi untuk dapat berhasil melakukan hal tersebut dengan baik, Kenneth Branagh berhasil melakukan itu di Henry V dan Hamlet, Joss Whedon dengan Much Ado About Nothing, serta Ralph Fiennes juga oke membentuk kembali Coriolanus, meskipun disisi lain tidak sedikit pula yang gagal atau kurang berhasil salah satunya play Romeo and Juliet, dan yang terbaru, Cymbeline.

Review: Fifty Shades of Grey (2015)


"If you were mine, you wouldn't be able to sit down for a week."

Fifty Shades of Grey is like a foreplay without climax. Ya, mayoritas dari kamu pasti sudah tahu bahwa tema yang dibawa oleh film yang berhasil menciptakan kehebohan dengan menjadi film R-rated dengan penjualan tercepat dalam sejarah Fandango ini adalah seks, apa yang ia jual adalah relationship penuh gairah membara, dan apa yang kita harapkan sebagai penonton adalah hiburan yang mampu menggoda hingga membakar gairah dan imajinasi kita. Jika anda merupakan salah satu penonton yang mencintai novelnya, maka bersiaplah kecewa. Jika anda bagian dari tim yang bahagia ketika Twilight Saga telah berakhir, maka bersiaplah untuk waspada. A softcore porn version of Cinderella. (Warning: review contains some strong image who might be an age-inappropriate content).

Movie Review: Need for Speed (2014)


"Racers should race, cops should eat donuts." 

Mayoritas dari kita pasti pernah mengalami hal ini, ketika sedang mengemudi dengan santai dan penuh rasa tenang secara tiba-tiba muncul beberapa kendaraan dari belakang yang melewati kita dengan akselerasi dalam gerakan kencang disertai deru yang menggebu. Ada dua opsi sebenarnya, pertama kita akan menganggap aksi berani mereka tersebut sebagai sesuatu yang keren, namun bisa pula menjadi jengkel dan menilai bahwa tindakan tersebut merupakan sesuatu yang berbahaya bahkan menjurus tolol. Film ini seperti bermain diantara dua opsi tadi, Need for Speed, full of unnecessary and stupid things, but still quietly fun adventure.