Showing posts with label Ben Kingsley. Show all posts
Showing posts with label Ben Kingsley. Show all posts

Movie Review: Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings (2021)

“It's time to show the world who I really am.”

Setelah “seleksi” di grand finale ‘Avengers: Endgame yang lalu kini masuk ke phase four cinematic universe milik mereka Marvel mencoba untuk melakukan beberapa penyegaran, dimulai dengan ‘Black Widow’ yang berhasil menuntun penonton pada rencana yang akan dilakukan Marvel terhadap masa depan karakter tersebut, bulan depan akan rilis ‘Eternals’ yang jika kamu lihat line-up cast miliknya semua adalah nama baru, dan tentunya karakter baru. Film ini juga menjadi bagian dari usaha isi ulang yang dilakukan Marvel pada jajaran superhero milik mereka, Marvel's first film with an Asian lead, Asian Director, and a predominantly Asian cast. This time for Asia. ‘Shang-Chi and the Legend of the Ten Rings’ : In the Mood for Tony Leung.


Review: The Jungle Book (2016)


"The jungle is no longer safe for you."

The Jungle Book merupakan kumpulan cerita yang timeless, cerita yang ketika kamu baca kembali masih akan terasa menarik dan semakin tinggi jenjang usia ketika kamu membacanya maka akan semakin luas pula kerangka acuan serta perspektif yang akan kamu temukan dan rasakan, dari tradisi, ketekunan, kesetiaan, keberanian, kehormatan, hingga integritas. From the director who brought you Iron Man eight years ago film ini berhasil melakukan reimagining The Jungle Book kedalam presentasi yang tidak hanya hanya sekedar proporsional dalam konteks cerita namun juga menjadi sebuah petualangan gelap dan terang yang thrilling serta eye candy.

Review: Life (2015)


Hidup merupakan petualangan yang “menyenangkan”, seperti perpaduan antara manisnya gula, asinnya garam, dan asamnya lemon. Fakta itu yang coba digambarkan oleh film terbaru dari Anton Corbijn, menggunakan sorot terhadap kehidupan aktor James Dean sebagai jalan dalam sebuah perjalanan bersama seorang fotografer beberapa bulan sebelum kematiannya. Sayangnya kata dasar dari kata terakhir tadi menjadi bagian penting dari Life, karena Life tidak mampu dengan mudah untuk hidup, ada mati yang hadir di sampingnya.

Review: Night at the Museum: Secret of the Tomb (2014)


"Why don't you take a picture, it'll last longer!"

Film ketiga dari kehidupan malam di museum yang pertama kali hadir delapan tahun yang lalu ini seperti sebuah kendaraan sewaan dengan durasi sewa yang belum habis sehingga membuat sang peminjam memilih untuk mengisi waktu sisa tadi dengan berputar-putar tanpa arah. Memang ada momen lucu, memang ada momen ketika nostalgia pada karakter hadir kehadapan kita, tapi Night at the Museum: Secret of the Tomb tidak berhasil menjadi sebuah perpisahan yang akan dikenang lama oleh penggemarnya.

Review: Exodus: Gods and Kings (2014)


"Once brothers, now enemies."

Ia memang punya Alien dan Gladiator di daftar filmography, tapi karya-karya Ridley Scott selalu hit or miss bagi saya dalam jumlah yang berimbang, bahkan bukan hanya ketika ia menjadi sutradara hal yang sama juga terjadi ketika ia menjadi produser. Masih membekas di ingatan bagaimana Robin Hood jatuh datar empat tahun lalu, bahkan tahun lalu dengan cast yang sangat menjanjikan Ridley Scott seperti kehilangan magic miliknya di Prometheus dan menjadikan The Counselor sebagai thriller yang ompong, dan magic itu masih belum kembali di Exodus: Gods and Kings. Lost in Egypt.

Review: The Boxtrolls (2014)


"When trouble strikes, friends stack together."

Sembilan tahun yang lalu Laika menjadi sebuah kejutan ketika kolaborasi mereka dengan Tim Burton menghasilkan sebuah animasi yang berani bermain dengan tema gelap, Corpse Bride, yang saat itu berhasil masuk nominasi Oscar. Ternyata mereka tidak menjadi sensasi sesaat, karena studio animasi stop-motion ini berhasil mengulang kesuksesan yang sama dengan dua karya mereka selanjutnya, Coraline dan ParaNorman. The Boxtrolls? 

Movie Review: Ender's Game (2013)


“In the moment when I truly understand my enemy, understand him well enough to defeat him, then in that very moment I also love him.”

Tentu saja bukan merupakan hal yang tabu jika sebuah film memiliki begitu banyak ide yang ingin ia tampilkan, itu justru menarik, namun dengan satu syarat mutlak dimana ia harus di eksekusi dan dikombinasi dengan tepat. Ender’s Game adalah contohnya, punya banyak ide dan isu dan yang cantik, dari unsur politis, sosial, peperangan, hingga hal sederhana seperti bullying. Ender’s Game, seperti terjemahan baku, adalah permainan milik Ender. This is not a game!! Really?

Movie Review: Iron Man 3 (2013)


Selain menciptakan sebuah standar baru bagi film yang mengusung tema super hero, kesuksesan yang diraih The Avengers tahun lalu ikut memberikan dampak positif bagi beberapa karakter yang ia miliki yang menurut saya kurang begitu megah ketika ia berdiri sendiri, seperti Captain America dan Hulk. Namun timbul satu pertanyaan, bagaimana nasib dari karakter yang telah terkenal, apakah mereka masih mampu tampil memikat ketika kembali menjalankan tugasnya masing-masing? Salah satunya adalah leader The Avengers dalam hal popularitas, Iron Man