Showing posts with label Adam Driver. Show all posts
Showing posts with label Adam Driver. Show all posts

Movie Review: House of Gucci (2021)

"I don't consider myself to be a particularly ethical person, but I am fair."

Gucci salah satu fashion house yang mendefinisikan the high-flying luxury, sejak didirikan pada tahun 1921 oleh Italian businessman and fashion designer yang kala itu masih sebatas berjualan koper kulit impor di kota Florence, Italia, di balik kesuksesan menjadi simbol wealth, style, and power saat ini, dulu Gucci pernah mengalami masalah bahkan di tahun 1991 hingga tahun 1993 keuangan mereka dalam kondisi buruk, dan jika ditarik lebih jauh kebelakang mereka pernah punya masalah internal dalam bentuk perselisihan antar anggota keluarga dari tahun 1981 hingga 1987. Dua permasalahan tersebut menjadi akar konflik film ini: persaingan, perang keluarga, dan tragedi. ‘House of Gucci’ : an 158 minutes of chaos and when it shines, it shines.


Movie Review: Marriage Story (2019)


“You should've considered my happiness too.”

Jika di dalam sebuah hubungan sepasang kekasih memiliki karakter yang sama-sama “keras kepala” maka sangat mudah untuk menebak apa yang akan terjadi selanjutnya, yaitu timbulnya gesekan dan pertengkaran. Keduanya childish, keduanya egois, keduanya sama-sama tidak mau mengalah, jika hal-hal tersebut terus dipertahankan maka kedamaian akan sulit ditemukan di dalam hubungan tersebut. Atau mungkin bisa ditemukan, terus berlanjut hingga ke jenjang pernikahan hingga pada akhirnya bertemu dengan sebuah ledakan besar, yaitu perceraian. ‘Marriage Story’ : an intimate story about love and marriage. Beautiful.

Review: Silence (2016)


"I pray but I’m lost. Am I just praying to silence?"

Martin Scorsese merupakan salah satu “finest” director yang pernah dimiliki oleh industri film, dari Raging Bull, kemudian Goodfellas, hingga yang terbaru The Wolf of Wall Street, Scorsese selalu berhasil menunjukkan mengapa ia disebut sebagai seorang “Master”, dia mampu mengolah berbagai materi berbeda menjadi sebuah sajian yang sangat impresif dan berjenis “tidak untuk dilupakan”. Lewat film terbarunya ini, Silence, Martin Scorsese kembali sukses meneruskan pencapaiannya itu, not only poignant and engrossing this one is one of the best cinematic experience from Martin Scorsese.

Review: Paterson [2016]


"Without love, what reason is there for anything?"

Terdapat sebuah quote yang menarik dari Misaeng, yaitu “life is an endless repetition, only those who don’t get tired of repetition can be successful.” Pasti ada mereka yang tidak setuju tapi jika dilihat secara luas seperti itulah kehidupan setiap manusia, kamu bangun, mandi, makan, beraktivitas, hingga kembali makan, mandi, lalu tidur. And repeat. Lingkaran tadi itu masih bisa terasa indah tapi dengan syarat harus kamu isi dengan ‘dream’, jika tidak maka kamu akan terjebak dalam rutinitas yang monoton. Setelah bermain dengan para vampire di karya terbarunya ini, Paterson, Jim Jarmusch mencoba bercerita tentang hal tersebut tentu saja masih dengan teknik “dreamy” andalannya. Feels like ‘Room’ meets ‘Moonrise Kingdom’ and a horror for everyday life, it’s an empowering tragicomedy.

Review: Midnight Special (2016)


"Dad. It's okay. "

Seorang anak telah diculik, segera temukan karena dia merupakan anak yang sangat berbahaya! Di tangan sutradara dengan visi seadanya premis menjanjikan tadi punya potensi menjadi sebuah petualangan sci-fi dengan rasa E.T. yang standar, namun di tangan sutradara Take Shelter serta Mud ide tadi tumbuh ke berbagai arah dengan fokus utama yang kuat, sebuah presentasi penuh misteri menggoda yang menangkap atensi sejak awal hingga akhir Midnight Special perlahan mengungkap sebuah konflik klasik dengan cara yang hangat dan kuat, provokasi lembut dengan pertanyaan sederhana tentang seberapa jauh kamu akan berjuang untuk orang yang kamu kasihi, sayangi, dan cintai.

Movie Review: Star Wars: The Force Awakens (2015)


"Chewie, we're home."

Membangunkan kembali salah satu franchise paling terkenal di bumi setelah tertidur selama sepuluh tahun bukan pekerjaan yang sulit, namun jika disertai dengan kewajiban untuk memperbaiki citra atau image yang sempat dibawa turun satu level oleh tiga buah prekuel adalah bukan sebuah tugas yang mudah. Seperti judul yang ia gunakan, The Force Awakens merupakan upaya kebangkitan yang dilakukan oleh Star Wars, memberikan perputaran dan nafas yang baru dan segar dengan mencampur old and new, sebuah nostalgia penuh sukacita bagi fans yang tetap mampu membuat penonton baru untuk jatuh cinta. Star Wars: The Force Awakens, a new hope in a new start.

Review: While We're Young (2015)


"Life never gets old."

Wes Anderson, Noah Baumbach, dan Spike Jonze, tiga pria tadi lahir di tahun yang sama tapi ternyata kesamaan mereka tidak hanya sampai di situ saja. Anderson, Baumbach, dan Jonze akan mengingatkan kamu pada beberapa kata serupa di setiap karya mereka: unik, ringan, charming, dan thoughtful. Film terbaru dari Noah Baumbach ini masih bermain-main di kata-kata tadi, tidak lagi bermain di black and white seperti Frances Ha namun melalui While We're Young ia kembali memberikan sebuah drama komedi yang akan menjadi sebuah kenangan yang menarik bagi penontonnya. Insightful and joyful dramedy.

Review: This Is Where I Leave You (2014)


"It's hard to see people from your past when your present is so cataclysmically screwed up."

This is where we bond. This is where we love. This is where we share. This is where we connect. This is where we gossip. This is where we vent. This is where we accept. This is where we remember. This is where we grow up. This is where we trust. So, This Is Where I Leave You.

Movie Review: Frances Ha (2013)


"Sometimes it's good to do what you're supposed to do when you're supposed to do it."

Apakah anda pernah berpikir seperti ini, “Ah, santai saja, aku masih muda, masih banyak kesempatan,” padahal pada dasarnya anda adalah seseorang yang punya mimpi sangat besar. Faktanya hal tersebut yang justru tidak menjadikan anda fokus untuk mengejar mimpi tersebut, bahkan merusak semua potensi besar yang anda miliki. Frances Ha coba bercerita mengenai hal tersebut, sederhana, dalam sentuhan hitam dan putih, sebuah petualangan studi karakter yang singkat dengan sedikit warna coming-of-age, dimana kehidupan, cinta, dan persahabatan membentuk kombinasi antara frustasi dan motivasi yang memikat.