Showing posts with label Alexander Skarsgård. Show all posts
Showing posts with label Alexander Skarsgård. Show all posts

Movie Review: Passing (2021)

"I'm beginning to believe that no one is ever completely happy, free, or safe."

Bagian pembuka sebuah film, tentunya di luar opening credits yang berisikan daftar production companies dan anggota penting lain, merupakan “kata pengantar” film tersebut, bagian yang harus digunakan sebaik mungkin agar dapat meraih perhatian serta membuat penonton merasa tertarik, lalu ingin tahu dan penasaran seperti apa kelanjutan dari bagian pembuka tersebut. Film yang diproduksi dalam kurun waktu kurang dari satu bulan ini dapat dikatakan merupakan salah satu film di tahun 2021 dengan bagian pembuka paling menarik yang telah saya tonton sejauh ini, kemudian bergulir menjadi drama yang mempertahankan kesederhanaannya ketika berbicara tentang sesuatu yang tidak sederhana. Passing’ : an agile presentation about identity acceptance.


Movie Review: Godzilla vs. Kong (2021)

“The myths say that their ancestors fought each other in a great war.”

Setelah ‘Godzilla’, kemudian ‘Kong: Skull Island’ yang lantas disusul oleh ‘Godzilla: King of the Monsters’ yang menarik itu, tidak butuh waktu lama bagi penonton untuk dapat menyaksikan “pertunjukkan utama” yang tentu telah dinantikan sejak berita terbentuknya rencana membangun “MonsterVerse” muncul. Ya, masing-masing telah mendapatkan jatah film mereka sendiri dan kini saatnya mereka bertarung, seperti Batman melawan Superman tapi versi monster. Pertanyaannya ialah, mampukah sajian ini bersikap adil dan seimbang? ‘Godzilla vs. Kong’ : a lovely clash of the titans.


Movie Review: The Legend Of Tarzan [2016]


"He is no normal man."

Jika kamu tanya Google berapa banyak film Tarzan yang telah diproduksi maka kamu akan menemukan jumlah yang terhitung besar, dari fitur layar lebar, film animasi, hingga parodi. Pertanyaannya bukan apakah penting atau tidak untuk memproduksi kembali film pahlawan hutan yang dibesarkan oleh para kera yang sudah dilakukan berulang kali namun apakah produk yang dihasilkan tersebut mampu memberikan penonton pengalaman berpetualang bersama Tarzan yang terasa menyenangkan. Ya, sesederhana itu. The Legend of Tarzan, the most recent edition of the apeman adventure with hazy and gloomy swing.

Review: The Diary of a Teenage Girl (2015)


"I had sex today. Holy shit."

Apakah kamu pernah merasa takut untuk menjadi dewasa? Meninggalkan masa muda kamu yang identik dengan jiwa bebas untuk kemudian melangkah maju ke jenjang yang lebih tinggi dimana kamu akan menemukan tuntutan pada tanggung jawab yang lebih besar pada kehidupan kamu. The Diary of a Teenage Girl ingin menggambarkan hal tersebut, bagaimana coming of age memang menjadi periode atau proses yang tidak akan otomatis berjalan dengan mudah tapi di sana kita akan menentukan siapa diri kita yang sebenarnya, merasakan aksi memberontak, cinta, kecewa, cemas, tanggung jawab, pesta, hingga seks.

Review: The Giver (2014)


"When people have the power to choose, they choose wrong."

Berbicara potensi film ini punya peluang yang cukup besar untuk menjadi sensasi baru di kelompok young-adult pada dunia perfilman, selain karena materinya yang dianggap sebagai nenek moyang The Hunger Games, Divergent, dan lain-lain itu telah menjadi reading lists di middle school USA, Kanada, hingga Australia, tapi juga sedang booming-nya kesuksesan dari film dengan tema young-adult juga jelas layak untuk di coba. Namun meskipun punya Jeff Bridges, Meryl Streep, Katie Holmes, hingga Taylor Swift, The Giver hanya terasa seperti sebuah usaha setengah hati.    

Movie Review: The East (2013)


"Poison our habitat, we'll poison yours."

Sebenarnya apa makna dari kata adil? Apakah penggambaran dari kondisi sama rata yang pada akhirnya menjadikan kejahatan harus di balas pula dengan kejahatan? Bukannya dengan menyakiti orang yang telah menyakiti banyak orang hanya justru menjadikan kita sama buruknya dengan mereka? Pertanyaan tadi digunakan sebagai pondasi oleh Zal Batmanglij dan Brit Marling pada kolaborasi kedua mereka, The East, sebuah thriller yang mumpuni. Ya, mumpuni.

Movie Review: Disconnect (2012)

 

"He can turn on your camera, he can watch you."

Dibalik kekuatan besar yang ia miliki, ada dua hal yang dapat anda peroleh dari kebebasan yang diberikan oleh internet, entertainment dan punishment. Facebook dan twitter sebagai media berkomunikasi, arena “show-off” makanan bernama instagram, sentuh layar dan anda sudah dapat membaca berita tanpa perlu membeli koran, bahkan membeli pakaian dan tiket pesawat tanpa perlu terjebak kemacetan. Tentu sebuah opsi untuk mempermudah hidup, membangun sebuah koneksi yang sangat luas, namun juga punya potensi untuk "memutuskan" koneksi yang sesungguhnya jauh lebih penting, hubungan sosial di dunia nyata. Disconnect: simple, intens, fokus, disconnect.

Movie Review: What Maisie Knew (2012)


Having a child is not as easy as you think about, itu mengapa tidak sedikit pasangan suami istri yang memilih tidak ingin terburu-buru untuk memiliki anak. Mereka akan membawa sebuah perubahan, menjadi anugerah terindah yang memberi warna dan semangat baru, namun di lain sisi juga menjadi sebuah tanggung jawab yang sangat besar. What Maisie Knew, diadaptasi dari novel abad 19, sebuah perpaduan brilliant antara pertanyaan “Apa itu orangtua yang baik?”, bersama sindiran “Don't be a parents if you still have a lot of asshole attitude!”