Showing posts with label Antonio Banderas. Show all posts
Showing posts with label Antonio Banderas. Show all posts

Movie Review: Official Competition (2021)

“We're going to make a f**king great film.”

Tahukah kamu bahwa scene paling populer di ‘Basic Instinct’ ternyata direkam tanpa knowledge dari sang Aktris, Sharon Stone, yang merasa ditipu oleh Paul Verhoeven, hal yang kemudian dibantah oleh sang Sutradara. Aktor berkelahi dengan Sutradara, atau dengan sesama Aktor, atau Sutradara yang justru bersitegang dengan para crew memang bukan hal baru pada proses produksi sebuah film, karena film sendiri pada dasarnya merupakan sebuah kumpulan ide yang lantas berkombinasi setelah saling mencocokkan satu sama lain. Itu mengapa dibutuhkan tahap persiapan yang sangat matang baik dari sisi teknis hingga tentu saja para Aktor yang akan menjalani proses rehearsal terlebih dahulu. Apa jadinya jika proses development sebuah film sudah dilanda banyak masalah? ‘Official Competition (Competencia oficial)’: a clever look at the vanity in the film business.


Movie Review: Uncharted (2022)

“They're not gone. They're just lost.”

Video games dan cinema, sebuah hubungan yang selama ini tampak menarik serta potensial untuk menghasilkan keuntungan tapi hasil akhirnya lebih sering membuat penonton umum frustasi. Cukup banyak film yang mencoba mengadaptasi template video games ke layar lebar namun di antara mereka jumlah yang sukses berakhir di level oke terasa minim dan kerap mengecewakan seperti nama besar beberapa tahun terakhir: Monster Hunter, Mortal Kombat, dan Resident Evil: Welcome to Raccoon City. Meskipun memang dibanding film berbasis video games rilisan beberapa tahun sebelumnya kualitas mereka cenderung semakin positif, Sonic the Hedgehog dan Detective Pikachu terasa oke, dan tahun lalu ada Werewolves Within. Film ini di kelas yang mana? ‘Uncharted’: much ado about nothing.


Review: Knight of Cups (2016)


"Dreams are nice, but you can't live in them."

Sejauh ini telah menyutradarai delapan buah film dalam 46 tahun karirnya di industri film, Terrence Malick secara mengejutkan menghadirkan tiga di antaranya dalam kurun waktu lima tahun terakhir. Apakah Terrence Malick sedang memiliki banyak ide? Sepertinya begitu dengan dua film lain dijadwalkan rilis tahun ini. Di film terbarunya ini Terrence Malick kembali memberikan apa yang penonton inginkan dari “film Terrence Malick”, namun sebagai penonton yang masih belum lulus dari Malick's School for Gifted Youngsters selalu ada perasaan waspada terhadap karya Terrence Malick karena, well, it's gonna be forever, or it's gonna go down in flames. So, bagaimana dengan Knight of Cups? Keindahan yang hampa, atau kehampaan yang indah.

Review: The 33 (2015)


"I knew this place was dangerous!"

Kecelakaan pertambangan Copiapó yang terjadi pada tahun 2010 merupakan salah satu perisitiwa menakutkan yang dapat membunuh 33 penambang yang terperangkap di bawah tanah. Usaha penyelamatan yang memakan waktu 69 hari menjadi perhatian dunia kala itu, dan fakta bahwa 33 orang penambang tadi berhasil tetap hidup dan selamat dari maut yang siap menghampiri mereka kapanpun itu menjadi sebuah kisah perjuangan hidup yang inspiratif. Jangan heran lima tahun kemudian muncul film yang berusaha menggambarkan kembali kisah yang memang layak dibawa ke layar lebar tersebut. Masalahnya adalah apakah The 33 mampu menghadirkan magic dari kisah ajaib tersebut?

Review: The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water (2015)


"Welcome to the apocalypse, Mr. Squidward. I hope you like leather."

Tidak bisa dipungkiri memang hal utama yang menjadikan film ini berhasil meraih atensi yang sangat besar adalah pilihannya untuk menghadirkan karakter-karakter yang sudah sangat familiar itu kedalam bentuk live action, memberikan penonton kesempatan untuk menyaksikan SpongeBob, Patrick, Squidward, Mr. Krabs, hingga Plankton tidak hanya melakukan aksi gila mereka di Bikini Bottom namun masuk ke dunia di atas mereka, menciptakan kekacauan yang lebih besar dengan wujud yang juga lebih besar. The SpongeBob Movie: Sponge Out of Water is a good entertainment with crazy good explosion. "Hilarious".

Movie Review: The Expendables 3 (2014)


"Morons need friends."

Sikap optimis tentu merupakan sesuatu yang wajib di miliki oleh setiap orang, rasa percaya diri serta ambisi untuk terus menjadi lebih besar dan lebih baik, tapi ada pula sikap yang kita sebut realistis, sikap yang mampu mengingatkan kita mana limit yang harus di pecahkan dan mana limit yang harus di jaga sebagai upaya untuk tidak melahirkan hal buruk dan negatif. Edisi ketiga parade otot ini tetap berusaha memecahkan batasan yang ada dihadapan mereka, The Expendables 3, that dream team becomes too far, too crowded, too foolish.   

Movie Review: Ruby Sparks (2012)


Bermain dengan imajinasi tentu saja adalah hal yang sangat menyenangkan. Dalam imajinasi anda dapat menciptakan sebuah gambaran fiktif sesuai dengan apa yang anda inginkan, meskipun belum tentu akan menjadi nyata. Calvin Weir-Fields  (Paul Dano), pria muda yang merupakan seorang novelis best seller, sedang berada dalam tekanan karena belum menghasilkan karya baru. Mengikuti saran dari psikiater yang ia temui secara periodik, Calvin menuliskan imajinasinya tentang seorang wanita muda yang ia dapatkan melalui mimpinya. Dan, wanita itu menjadi nyata.