Showing posts with label Benedict Cumberbatch. Show all posts
Showing posts with label Benedict Cumberbatch. Show all posts

Movie Review: Doctor Strange in the Multiverse of Madness (2022)

“I love you in every universe.”

Salah satu kelebihan yang kini dinikmati Marvel Cinematic Universe ialah flexibility, bagaimana sejak awal telah membentuk pondasi yang kuat bagi kelompok superhero mereka yang kemudian dapat diutak-atik sesuai dengan kebutuhan konsep yang coba disajikan. Aksi mix and match itu telah berjalan dengan baik sejak awal, hingga the blip terjadi, momen ketika Thanos snapping his fingers dan mengubah “tatanan” yang telah tersusun. Penyesuaian dilakukan sejak major event itu, diawali dengan ‘WandaVision’ yang terjadi tiga minggu pasca ‘Endgame’ kini Marvel mengembangkan dunia mereka dengan travel through the multiverse. Ya, that “Spider-Man reunion” thing adalah permulaan. ‘Doctor Strange in the Multiverse of Madness’: an example of imagination triumph over the programmed of commercial calculation. (Warning: the following post might contains mild spoilers)


Movie Review: Spider-Man: No Way Home (2021)

“And with great power, there must also come great responsibility.”

Sudah siap bertemu lebih banyak “Spider-Man” di masa depan? Setelah lima tahun ditangani Sam Raimi dan Sony bangun ulang kembali di bawah kendali Marc Webb, tahun 2017 yang lalu karakter Spider-Man menemukan rumah barunya setelah resmi masuk ke Marvel Cinematic Universe. Tugasnya langsung berat, ikut bertarung di ‘Infinity War’ dan ‘Endgame’ lalu kembali bersama Fury tahun 2018. Menariknya di sisi lain Sony's Spider-Man Universe (SSU) juga sedang dibangun, sudah ada dua film ‘Venom’ yang akan disusul ‘Morbius’ dan ‘Kraven the Hunter.’ And let’s not forget about ‘Spider-Man: Into the Spider-Verse’, film animasi cantik yang membuktikan ide multiverse connecting multiple universes itu adalah intan yang berpotensi menjadi berlian. ‘Spider-Man: No Way Home’: Marvel's best deluxe package.


Movie Review: The Power of the Dog (2021)

“A man was made by patience in the odds against him.”

Perubahan adalah sesuatu yang tidak dapat dihindari, mereka yang memilih untuk “menyesuaikan diri” dengan perubahan serta secara aktif merangkulnya akan lebih mudah untuk berkembang. Tentu tidak semua perubahan membawa sesuatu yang positif, perlu filter yang ketat di sana dan penolakan terhadap sesuatu yang bersifat negatif juga bukan sesuatu yang tabu untuk dilakukan, namun satu hal yang penting jangan sampai sikap perfeksionis dan juga egois milikmu justru menjadi sebuah boomerang yang berbalik melukaimu. Hal tersebut berputar-putar secara manis di sini, salah satu film terbaik tahun ini yang “menuntutmu” untuk menemukan hadiah besar. The Power of the Dog’: a beautifully made drama that plays with words, eyes, and feelings.


Movie Review: The Electrical Life of Louis Wain (2021)

“Cats that do not look and live like Louis Wain cats are ashamed of themselves.”

Kamu mungkin pernah melihat scenes di film atau serial, dan mungkin juga pernah melakukannya di kehidupan nyata, momen di mana beberapa pengunjung berdiri dalam waktu cukup lama di depan lukisan di pameran lukisan. Memang akan tampak aneh jika dilihat dari sudut pandang paling simple, itu hanya lukisan kenapa harus diamati selama itu? Sesuatu yang sebenarnya tidak tepat karena dalam karya yang mereka ciptakan setiap Artist tentu saja menyuntikkan isu, ide, dan juga pesan untuk berbicara tentang sesuatu, hal yang jika dapat klik dengan pengunjung maka akan menghasilkan “sengatan listrik” yang menarik. Karakter utama film ini, Louis Wain, percaya electricity was something so extraordinary and strange that the human mind was barely able even to comprehend it.The Electrical Life of Louis Wain’ : the Wes Anderson film made by someone else.


Movie Review: The Courier (2020)

“I really can't believe I'm actually having lunch with spies.”

Aksi saling curi informasi rahasia di jaman sekarang ini sudah semakin mudah, tapi dulu semua harus dilakukan secara manual, termasuk dengan mengirimkan mata-mata ke dalam “kandang” musuh. Agar upaya tersebut dapat berjalan sesuai rencana ada di antara negara-negara yang sedang “saling sikut” tersebut yang merekrut jasa rakyat biasa dengan harapan gerak-gerik hingga cara bertutur mereka yang “mentah” itu dapat dengan mudah mengelabui musuh, amatir dengan resiko yang minimal. ‘The Courier’: a solid spy film with good narrative tension.


Movie Review: The Mauritanian (2021)

“You can't win a case if you don't believe your own shit.”

Tragedi 11 September 2001 meninggalkan tugas berat bagi pemerintah USA kala itu di mana salah satunya tidak hanya tentang bagaimana secepat mungkin menemukan pelaku dari aksi terorisme tersebut namun juga upaya memulihkan situasi negara yang mungkin diselimuti dengan rasa panik dan rasa takut. Salah satu cara yang kala itu diambil oleh George W. Bush sebagai Presiden USA adalah dengan mendirikan The Guantanamo Bay detention camp, berlokasi di negara Kuba dan menjadi tempat “menampung” orang-orang yang dicurigai terlibat terorisme. Celakanya sistem yang berlaku di sana adalah rough justice, penahanan tanpa batas waktu karena memang tidak ada pengadilan. A major breach of human rights. ‘The Mauritanian’ : terms and conditions apply.


Movie Review: 1917 (2019)



“I hoped today would be a good day. Hope is a dangerous thing.”

Apa yang kamu harapkan diberikan oleh sebuah film yang mengangkat tema peperangan? Kekacauan dan teror adalah contoh dua aspek penting dari war film, seberapa mampu ia membawa penonton masuk ke dalam medan peperangan tersebut untuk kemudian mengelilingi mereka dengan berbagai kekacauan dan meninggalkan kesan menakutkan dan teror setelahnya. Experience, itu salah satu elemen penting dari sebuah war film, elemen yang di tahun 2017 lalu sukses diberikan oleh ‘Dunkirk’. Bagaimana dengan film ini? ‘1917’ : a lovely battlefield experience.

Review: Zoolander 2 (2016)


"You and SpongeBob were my biggest influence ever!"

Berawal dari sinopsis yang terhitung berani dengan menggabungkan Perdana Menteri Malaysia, fashion, dan usaha pembunuhan menjadi satu Zoolander berhasil menjadi sebuah dumb and satire comedies yang menghibur, dan Derek Zoolander berhasil menjadi karakter komedi dengan gaya yang ikonik. Sadar akan keunggulan yang telah dihasilkan oleh pendahulunya itu masih di bawah kendali Ben Stiller dengan tumpukan cameo dari Katy Perry, Justin Bieber, Ariana Grande, Skrillex, Lewis Hamilton, Olivia Munn, Naomi Campbell, Susan Sarandon, hingga Susan Boyle, Zoolander 2 mencoba untuk melakukan hal serupa tapi tak sama. Ya, serupa tapi tak sama.

Review: Sherlock: The Abominable Bride (2016)


"Dead is the new sexy."

Secara personal saya punya hubungan cinta dan benci dengan series Sherlock, terdapat beberapa episode dari kumpulan kisah misterius penuh liku-liku plot cerdas yang meninggalkan rasa “mengganggu” meskipun mayoritas di antara mereka sukses menyajikan sebuah petualangan mendebarkan dan penuh gairah untuk diikuti dan diamati. Tidak tahu pasti apa maksud edisi special berjudul Sherlock: The Abominable Bride ini hadir di awal tahun ini, namun masih dengan teka-teki yang menarik berhasil memberikan sebuah penyegaran kecil yang menyenangkan.

Movie Review: The Hobbit: The Battle of the Five Armies (2014)


"Will you follow me, one last time?"

Sebelum bercerita terlalu jauh sebagai informasi awal yang mungkin juga akan terkesan telat bahwa The Hobbit merupakan adaptasi dari novel dengan judul sama yang memiliki ketebalan sebesar 320 halaman untuk versi English, dan 340 something untuk terjemahan Bahasa Indonesia. Jika informasi tadi merupakan sesuatu yang baru bagi anda maka anda tidak perlu merasa aneh pada keterkejutan yang bisa saja anda alami, karena dahulu saya juga mengalami hal yang sama. Benar, 320 lembar tadi coba diterjemahkan oleh Peter Jackson menjadi film yang ia pecah menjadi tiga bagian, dan dengan materi yang terbilang tipis hasilnya adalah: film pertama okay, film kedua kurang okay, dan finale terasa kering. The Hobbit: The Battle of the Five Armies, a dry and drudgery entertainment from an “ambitious” effort.

Movie Review: Penguins of Madagascar (2014)


"You just mermaid my day."

Ketika saya mencoba mengajak beberapa rekan untuk nonton bersama film ini jawaban dari mereka mayoritas punya satu inti yang serupa: malas, ada yang mengatakan kurang menarik, bahkan ada pula yang mengatakan ini hanya akan mengikuti jejak Planes sebagai sebuah spin-off yang tidak menghibur. Memang sebuah pemikiran yang sangat wajar mengingat Madagascar yang menjadi induk awalnya juga sudah kurang menarik, tapi rasa pesimis itu pula yang menjadikan apa yang diberikan oleh film ini terasa mengejutkan. Penguins of Madagascar, stupid, silly, & satisfying spin-off scooter.

Review: The Imitation Game (2014)


"Sometimes it is the people no one imagines anything of who do the things that no one can imagine."

Film yang berada di baris terdepan pada pacuan untuk menjadi film terbaik di tahun 2014 ini sukses besar memberikan saya sebuah pukulan besar ketika ia sudah berakhir, karena sepanjang 114 menit durasinya saya seolah kekurangan kesempatan untuk memalingkan atensi darinya, biografi dari pria bernama Alan Turing yang menjadi pahlawan pada perang dunia kedua yang justru kental dengan elemen spy serta thrill yang terus dijaga dengan ketat, terus membuat apa yang The Imitation Game tampilkan terasa menarik dengan cara yang cerdas, nakal, tapi juga terasa intim, menjadi salah satu thriller termanis yang hadir setelah Argo.

Movie Review: August: Osage County (2013)


"I just want to make it better."

Sebenarnya apa makna sesungguhnya dari sebuah keluarga? Apakah keluarga hanya sebuah komunitas kecil dimana anda saling membantu dalam sebuah kesatuan, selalu bersatu saat menikmati suka dan menghadapi duka ketika masih bersama, namun kemudian menghapus hal tersebut ketika telah berpisah saat melangkah ke jenjang kehidupan yang lebih jauh. Dengan menggunakan konflik pernikahan film ini akan menggambarkan berbagai isu klasik dengan tema keluarga, August: Osage County, a dramatization parade about dysfunctional family.

Movie Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)


"You are being used, hobbit,"

Walaupun tidak mampu tampil mencapai standard yang telah ia ciptakan lewat The Lord of the Rings, kehadiran The Hobbit: An Unexpected Journey tahun lalu sangat tidak layak diberikan label sebagai sebuah presentasi yang buruk dari seorang Peter Jackson. Lagipula masih mudah untuk memaafkan An Unexpected Journey jika menilik statusnya sebagai film pertama sebuah trilogi. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi The Desolation of Smaug, yang celakanya justru tidak memberikan sebuah perkembangan yang mengagumkan.

Movie Review: 12 Years a Slave (2013)


"I don't want to survive. I want to live."

Rasisme sebenarnya bukan sebuah masalah, melainkan suatu budaya yang sudah lahir sejak ratusan tahun yang lalu, sebuah penyakit yang tidak bisa hilang dalam sekejap. Butuh proses, butuh alarm yang berfungsi untuk terus mengingatkan kita pada betapa kejinya tindakan tidak manusiawi tersebut. 12 Years a Slave sukses besar dalam menjadi alarm paling baru, seperti menyaksikan Django Unchained dalam warna yang lebih gelap, dengan cara sederhana menghadirkan pengamatan yang intens dan mengerikan dari isu kemanusiaan. Oscar?  

Movie Review: Star Trek Into Darkness (2013)


Masihkah tersimpan di memori anda tentang kasus The Mandarin, archenemy Iron Man yang justru menjadi objek utama lelucon dibalik kisah heroik Tony Stark? The Mandarin dapat menjadi bukti bahwa keberhasilan para pahlawan (superhero) untuk tampil memikat tidak hanya bertumpu pada dirinya sendiri, namun juga berkat pertolongan daya tarik dari masalah yang ia hadapi, salah satunya adalah kemampuan musuh utamanya dalam menebar ancaman. Star Trek Into Darkness punya hal penting tersebut.