Showing posts with label Essie Davis. Show all posts
Showing posts with label Essie Davis. Show all posts

Movie Review: Nitram (2021)

"Just because I don't cry doesn't mean I'm not hurting."

Tentu ada alasan mengapa tunagrahita atau individu yang memiliki keterbelakangan mental dikategorikan sebagai Anak Berkebutuhan Khusus (ABK), karena fungsi kondisi intelektualnya yang terganggu menjadi hambatan untuk memproses hal-hal normal, bukan hanya dari segi fisik saja tapi juga secara emosional, mental, sosial, serta potensi kecerdasan. ABK yang tidak menerima “pelayanan” terfokus sejak kecil cenderung akan mengalami kesulitan dalam adaptasi perilaku yang muncul di masa perkembangannya. Diklasifikasikan ke dalam tiga kelas yakni ringan, sedang, dan berat, kemampuan intelektual umum dan adaptasi sosial yang di berada bawah rata-rata bisa menjadi boomerang yang berbahaya jika tidak diberikan pengawasan khusus. ‘Nitram’: being independent doesn't mean being alone.


Movie Review: Babyteeth (2019)

“This is the worst possible parenting I can imagine.”

Karakter yang didiagnosa mengidap kanker lalu mencoba untuk menemukan rasa bahagia dengan melakukan hal-hal “gila”, bukankah itu sesuatu yang terasa familiar? Dengan karakter utama remaja yang sedang beranjak dewasa maka kamu mungkin sudah pernah saksikan di film ‘The Fault in Our Stars’ atau jika pernah bermain sedikit lebih jauh maka ada ‘Me and Earl and the Dying Girl’ yang terasa lebih nikmat. Film ini mencoba menampilkan kisah serupa seperti dua film tersebut tadi, kisah coming-of-age yang menggunakan rumus dan pola yang sama namun dilengkapi dengan sensitivity yang manis sehingga membuat cerita young adult ini bukan sebatas daur ulang yang malas. ‘Babyteeth’ : I just wanna live, don't really care about what happens to me.


Review: The Babadook (2014)


'I promise to protect you if you promise to protect me.'

Selalu sulit ya untuk menemukan film terbaru yang memang benar-benar memberikan sesuatu yang baru kepada penontonnya, baik dari segi cerita sampai penggunaan formula yang ia pakai ketika bercerita. Jangan heran kalau kelak kita akan semakin sering menemukan film-film remake serta film adaptasi ketimbang film dengan naskah orisinil. Tapi tidak salah bukan, asalkan mereka berhasil memberikan kita para penonton hiburan yang menyenangkan. Itu yang saya rasakan dari The Babadook, tidak ada yang baru, tampil dengan cara yang klasik, tapi sejak awal hingga akhir tidak pernah berhenti memberikan sensasi yang menarik. 

Movie Review: The Babadook (2014)


“Let me in! Let me in!”

Mana diantara dua opsi berikut yang menurut anda akan memberikan sensasi menonton yang lebih mengasyikkan: secara konsisten terus disajikan berbagai materi horor dari gimmick klasik hingga jump scare, atau justru masuk kedalam petualangan dimana anda hanya di beri tahu bahwa ada sesuatu yang menyeramkan disana namun kemudian dilepas untuk bermain-main secara liar bersama imajinasi yang perlahan membentuk sendiri rasa takut anda? For me opsi kedua lebih mengasyikkan, dan film ini punya hal tersebut, The Babadook, a very good classic haunted house & psychological horror. Gripping. Riveting!