Showing posts with label Hirokazu Kore-eda. Show all posts
Showing posts with label Hirokazu Kore-eda. Show all posts

Movie Review: Broker (2022)

“Thank you for being born.”

Mengapa begitu mudah untuk lupa bersyukur? Padahal bersyukur tidak sulit untuk dilakukan dan bahkan pada dasarnya tidak membutuhkan biaya, cukup dengan mengucapkan terima kasih atas segala berkat yang kamu miliki, pemberian dari Sang Pencipta. Banyak sebenarnya penyebab mengapa bersyukur semakin “disepelekan” oleh banyak orang, tekanan dan harapan yang duniawi adalah salah satu contohnya, kerap membuat manusia jatuh ke dalam masalah baik itu dari sikap egois, serakah, rasa takut, dan masih banyak lagi. Tapi bukankah manusia adalah tempatnya salah dan dosa? Jadi tidak heran jika suatu waktu manusia bisa menjadi domba yang nakal dan keluar dari kawanan, karena ia ragu akan tuntunan dari gembalanya. ‘Broker’: fleeing from the past.


Movie Review: Shoplifters (2018)


Dari kisah tentang dua saudara yang terpisah jarak dan ingin bertemu, anak yang telah dibesarkan ternyata tertukar ketika bayi, hingga kemunculan saudara tiri yang tidak dikenal, konflik-konflik tadi selalu sukses diolah oleh seorang Hirokazu Kore-eda untuk menghantarkan tema favoritnya kepada penonton. Makna dan kekuatan yang dimiliki oleh kata “keluarga”, itu kembali dihadirkan oleh Kore-eda di film terbarunya ini, kali ini menggunakan para pencuri! 'Shoplifters (Manbiki Kazoku)': another masterful family drama from Hirokazu Kore-eda.

Movie Review: After the Storm [2016]


Sebenarnya apa hal paling penting dari kebahagiaan yang dimiliki setiap manusia? Apakah kamu memiliki kewajiban membuat orang yang kamu sayangi merasa bahagia? Atau apakah tugas paling penting yang harus kamu lakukan adalah hanya untuk hidup bahagia sesuai dengan yang kamu inginkan? Lalu bagaimana jika kamu hidup bahagia tapi kebahagiaan kamu justru membuat orang yang kamu sayangi tidak bahagia? Bagaimana jika menciptakan keseimbangan, kamu bahagia dan orang yang kamu sayangi juga bahagia? Itu isi film terbaru dari Hirokazu Kore-eda ini, After the Storm (Umi yori mo Mada Fukaku), observasi lembut pada interaksi manusia berisikan sebuah refleksi tentang kebahagiaan. Sweet and sensitive, it’s a heartbreaking and heartwarming drama.

Review: Our Little Sister [2015]


Our Little Sister banyak mengingatkan saya pada Another Year, sebuah observasi dengan nada lembut terhadap karakter dalam konsep menyaksikan kehidupan sehari-hari yang sepintas tampak sepele namun menghasilkan berbagai isu tentang duka dan suka kehidupan yang dikemas dengan begitu menawan. Seperti itulah film ini, sebuah “petualangan” yang mungkin akan Studio Ghibli hasilkan jika mereka membuat film live-action, seperti sebuah pagelaran lukisan yang berisikan berbagai lukisan tentang hidup yang tidak sekedar memanjakan mata dan pikiran kamu saja namun juga menyentuh dan mempermainkan hati serta emosi. Hirokazu Koreeda best movie since Still Walking, Our Little Sister is an art from an artist, an exquisite drama.

Movie Review: Like Father, Like Son (2013)


"At what point does a father truly become a father?"

Banyak orang tua yang pasti punya penafsiran berbeda terkait pertarungan antara uang dan kasih sayang, melihat anaknya terus tumbuh dari melintasi empat, lima, dan enam tahun menciptakan semangat yang membara untuk bekerja lebih giat demi masa depan mereka, tapi celakanya justru perlahan menjauhkan mereka dari “another real job” mereka sebagai orang tua, memberikan perhatian seperti bermain bersama dengan kegiatan sederhana. Ladies and gentlemen, Mansion dan Ferrari belum menjadi keinginan dari anak berusia enam tahun, mereka dapat merasa bahagia hanya dengan mandi bersama orangtua mereka di dalam sebuah bak mandi ukuran kecil yang sempit. Money can get you closer into happiness, but they still can’t buy that thing directly. Like Father, Like Son (Soshite Chichi ni Naru), captivating, affecting, charming.    

Movie Review: I Wish (Kiseki) (2011)


Apakah anda percaya dengan eksistensi “mantan saudara kandung?” Tidak bagi saya. Sejauh apapun anda terpisah, sekecil apapun kesempatan yang anda miliki untuk berkumpul kembali, dia tetaplah saudara anda. Koichi (Koki Maeda), 12 tahun, tinggal di Kagoshima bersama ibu beserta kakek dan neneknya. Ratusan mil diutara pulau Kyushu, tepatnya di Hakata, Fukuoka, Ryunosuke (Ohshirô Maeda), adik dari Koichi, tinggal bersama ayah mereka, yang berprofesi sebagai pemain band. Koichi mendapatkan info sebuah kereta listrik akan menghubungkan kedua kota tadi, yang kemudian menjadi awal dari proses mewujudkan harapan mereka.