Showing posts with label Judy Greer. Show all posts
Showing posts with label Judy Greer. Show all posts

Movie Review: Halloween Kills (2021)

“He creeps, he kills, he goes home.”

Sejak terror pertamanya di film ‘Halloween’ tahun 1978 yang lalu, Michael Myers telah mengukuhkan diri sebagai salah satu iconic figure in the horror genre, identik dengan horror slasher di mana aksi pembunuhan massal kejam menggunakan chef's knife telah menjadi signature yang lekat dengannya. Tiga tahun lalu Sutradara film ‘Pineapple Express’ disokong blockbusters for pennies maestro, Jason Blum, sukses menghadirkan retroactive continuity dari film tersebut dan mengubahnya menjadi profit sebanyak 25 kali dari budget, maka tidak heran jika kelanjutannya kemudian muncul, film ke-12 dari Halloween film series. ‘Halloween Kills’: moving sideways with a lot of blood.


Movie Review: Uncle Frank (2020)

"I have two words for you. No. Problem."

Bayi yang baru lahir otomatis “dipaksa” mengikuti aturan dan sistem yang telah dibuat oleh orang-orang yang sebelumnya telah lahir, dalam hal ini orangtua mereka. Namun apakah hal tersebut membuat bayi yang kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa tersebut tidak memiliki hak untuk memilih, menentukan, dan melakukan apa yang ia inginkan? Pada beberapa hal itu bukan hal yang mudah karena people dictate who you are, namun keputusan akhir ada di tangan kamu, apakah kamu mau menjadi seperti yang kamu inginkan, atau justru kamu ingin menjadi seperti yang orang lain inginkan? ‘Uncle Frank’: imagination, life is your creation.


Movie Review: Buffaloed (2019)


“I was grooming myself to be the next Warren Buffet.”

Capitalism is shit? Memang tidak semua manusia di dunia ini menyukai sistem yang dapat dikategorikan “keras” tersebut, namun perkembangan jaman seolah mempermudah sistem ekonomi tersebut untuk berkembang semakin besar. Dan semakin menarik? Dapat dikatakan demikian, karena sistem kapitalisme memaksa setiap orang untuk dapat “bergerak cepat” dan seolah telah menyiapkan hadiah menarik bagi mereka yang berani, mereka inovatif, dan mereka yang thinking out of the box. Hal tersebut hadir di film ini dalam bentuk perpaduan drama dan komedi. ‘Buffaloed’ : because fine is like mediocrity's dumb cousin.

Review: Ant-Man [2015]


"This is not some cute tech like the Iron Man suit!"

Kehadiran Ant-Man ini sebenarnya cukup unik bukan hanya karena wujud superhero itu sendiri yang akan membuat kita bertanya-tanya tapi juga karena status Ant-Man juga tidak sembarangan, ia melanjutkan baton dari Avengers: Age of Ultron dan kemudian menjadi penutup fase dua dari Marvel Cinematic Universe. Keputusan yang unik dan berani karena dengan Avengers sendiri memiliki tim yang tidak sembarangan lantas mengapa Marvel justru memilih pahlawan berukuran semut ini? Sama seperti dua tahun sebelumnya ternyata Marvel ingin sebuah keseimbangan, dan Ant-Man berhasil masuk secara halus kedalam dunia mereka.

Review: Men, Women & Children (2014)


"Everyone's searching for a better connection."

Film ini bisa dikatakan menjadi salah satu film yang paling diantisipasi di tahun ini, dengan alasan utama tentu saja Jason Reitman. Oke, selain kegagalannya di Labor Day yang membosankan itu apa dihasilkan oleh Jason Reitman sebagai sutradara selalu terasa menarik, dari Thank You for Smoking, Juno, Up in the Air, hingga Young Adult. Ada satu kesamaan diantara mereka, teknik bercerita yang dingin. Hal itu kembali hadir di film terbarunya ini, Men, Women & Children, tapi sayangnya sedikit terlalu dingin.

Movie Review: Carrie (2013)


"Don't play with a young girl heart."

Di awal kemunculan berita bahwa akan diproduksi sebuah remake bagi Carrie muncul sebuah pertanyaan tunggal, “apa yang ingin mereka capai?” Bahkan Stephen King, penulis novelnya, berujar hal yang sama, dan banyak penikmat film yang juga pasti akan sepakat bahwa Carrie edisi pertama karya Brian De Palma yang rilis tahun 1976 itu sudah berada di level kualitas dan kepuasan yang cukup tinggi. Carrie, punya fokus yang berbeda, hadir bukan untuk menakut-nakuti penontonnya.