Showing posts with label Kathryn Hahn. Show all posts
Showing posts with label Kathryn Hahn. Show all posts

TV Series Review: WandaVision - Part 3 (Felina)


"You are my sadness and my hope. But mostly, you're my love."

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: WandaVision - Part 2


“So you're saying the universe created a sitcom starring two Avengers?”


Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero anggota The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: WandaVision - Part 1


“We are an unusual couple, ya know?”

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero anggota The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


Review: Bad Moms (2016)


"We have to bring down the perfect moms."

Kamu pasti pernah mendengar lagu Indonesia yang berjudul ‘Kasih Ibu’, salah satu liriknya berbunyi “…tak terhingga sepanjang masa. Hanya memberi, tak harap kembali…” Yup, tidak perlu palu ajaib, teknologi canggih, hingga kemampuan terbang kesana kemari, ibu merupakan salah satu superhero. Tapi apakah mereka sosok “sempurna” yang harus tetap berjuang untuk menjadi contoh “sempurna” bagi anak-anaknya meskipun mereka bukan sosok yang “sempurna”? Mama bear always a dear one, helicopter parent dan lain sebagainya, namun this moms mencoba menjadi Freddie Mercury, they want to break free with a crazy party. It’s like watching the female version of The Hangover.

Review: Captain Fantastic (2016)


"We’ve created a paradise."

Saya percaya setiap film maupun karya dalam bentuk apapun punya pesan yang ingin ia sampaikan ketika tampil dan bercerita di hadapan penonton lewat berbagai bentuk, konflik, dan intrik, namun bukan berarti untuk mencapai hal tersebut mereka kemudian tampil “menggurui” dan justru membuat tingkat “kenikmatan” yang dihasilkan terasa biasa bahkan kurang memuaskan. Captain Fantastic berhasil menjadi sebuah drama dan komedi yang memiliki isi menarik, “mengganggu” pikiran penonton, menyampaikan isu heartwarming dan kritis dalam bentuk petualangan yang fun, sebuah satir terhadap kehidupan sosial yang santai tapi serius dan membuat penontonnya teringat pada 'Little Miss Sunshine'. The best captain this year so far.    

Review: This Is Where I Leave You (2014)


"It's hard to see people from your past when your present is so cataclysmically screwed up."

This is where we bond. This is where we love. This is where we share. This is where we connect. This is where we gossip. This is where we vent. This is where we accept. This is where we remember. This is where we grow up. This is where we trust. So, This Is Where I Leave You.

Movie Review: We're the Millers (2013)

 

"You never really know until you know."

Tentu saja ada alasan mengapa manusia dijuluki sebagai makhluk sosial, karena mereka perlu orang lain disekitarnya untuk menjadikan hidup mereka bertumbuh, salah satunya mungkin membuka jalan untuk menemukan apa yang selama ini tidak mereka dapatkan. We're the Millers coba membawa hal tersebut dalam petualangan bodoh, bagaimana hal palsu yang justru menuntun empat orang menuju kebahagiaan. Yap, sekali lagi, ini bodoh, klasik, standard, predictable, namun secara mengejutkan tampil menghibur dan menyenangkan.