Siapa yang tidak merasa
kesal ketika ia dikhianati, apalagi ketika dikhianati oleh teman sendiri, tapi
apakah usaha balas dendam yang bersifat “menghancurkan” merupakan sesuatu yang
normal? Mungkin, karena di dalam sebuah kompetisi selalu ada dua kelompok
dengan cara bermain yang berbeda: fair
play dan foul play, mereka yang mencoba kembali menang dengan cara meningkatkan kualitas yang mereka miliki, adapula mereka mencoba
menang dengan cara “menjatuhkan” lawannya. Menggunakan musik dan kisah cinta
segitiga hal tadi merupakan basic dari film ini, ‘Love, Lies (Hae-eohwa)’, a quite pretty but not so "sticky" love story.
Showing posts with label Love. Show all posts
Showing posts with label Love. Show all posts
Review: Love (2015)
"What is your ultimate
fantasy?"
Unsimulated
sex
dimana dua atau lebih pemeran melakukan "seks" yang tidak di simulasi, alias real
sex, sebenarnya bukan “barang baru" di dunia cinema, sebut saja seperti The Bunny Game yang mengejutkan itu
serta Stranger by the Lake yang rilis
dua tahun lalu. Oh ya, Nymphomaniac.
Namun mayoritas diantara mereka kehadirannya lebih seperti “sweeter” dimana
posisi serta perannya untuk menguatkan misi dan isi dari cerita. Gaspar Noé ingin menerapkan hal tersebut
di film terbarunya ini, Love, yang
bahkan ia sokong dengan penggunaan 3D yang terhitung cukup oke, tapi apakah itu
mampu menguatkan misi dan isi dari cerita? A
love story with hardcore sex from the producer of Blue Is the Warmest Colour.
Review: Love, Rosie (2014)
"It's never too late to fall for a mate."
Buat saya tidak ada film yang sempurna, selalu saja
ada hal-hal negatif yang mampu
mengganggu eksistensi hal-hal positif, begitupula sebaliknya dimana hal-hal
positif dalam kuantitas kecil juga mampu untuk menutup bagian negatif yang ia
miliki jika mampu di olah dengan baik. Love,
Rosie melakukan itu, ia tidak memberikan sesuatu yang benar-benar baru pada
genre romance, formulaic, tapi ia sukes menjadi salah satu cute rom-com tahun ini.



%2Bposter.jpg)