Showing posts with label Martin Freeman. Show all posts
Showing posts with label Martin Freeman. Show all posts

Review: Whiskey Tango Foxtrot (2016)


"I wanted out of my mildly depressive boyfriend, I wanted to blow everything up."

Begitu banyak hal menarik yang dapat “dimanfaatkan” dari proses mencari, meliput, serta memproduksi berita yang dilakukan oleh wartawan, bukan hanya dari proses bagaimana berita itu diperoleh, dibentuk, hingga disajikan kepada penonton namun terdapa sisi kecil lain yang tidak kalah menarik. Contohnya seperti bagaimana mereka membangun pendekatan dengan sumber informasi, menjaga hubungan dengan orang-orang “penting” di sekitar, hingga bagaimana usaha mereka bertahan hidup untuk dapat kembali pulang ke kasur kesayangan mereka di rumah. Whiskey Tango Foxtrot (mari singkat saja menjadi WTF) mencoba membawa penonton merasakan pengalaman jurnalistik tersebut dalam perpaduan drama dan komedi, seperti sebuah soft drinks yang oke.

Review: Sherlock: The Abominable Bride (2016)


"Dead is the new sexy."

Secara personal saya punya hubungan cinta dan benci dengan series Sherlock, terdapat beberapa episode dari kumpulan kisah misterius penuh liku-liku plot cerdas yang meninggalkan rasa “mengganggu” meskipun mayoritas di antara mereka sukses menyajikan sebuah petualangan mendebarkan dan penuh gairah untuk diikuti dan diamati. Tidak tahu pasti apa maksud edisi special berjudul Sherlock: The Abominable Bride ini hadir di awal tahun ini, namun masih dengan teka-teki yang menarik berhasil memberikan sebuah penyegaran kecil yang menyenangkan.

[Special Feature] Fargo, smart and funny morally ambiguous


"Some roads you shouldn't go down because maps used to say there'd be dragons there. Now they don't, but that don't mean the dragons aren't there."

Hype yang ia ciptakan memang tidak begitu besar, namun sejak tahun lalu Fargo telah menjadi bagian dari rorypnm’s most anticipated tv-series. Yap, Fargo yang itu, black-comedy crime pemenang Oscar tahun 1996, menjadi basic dari jagoan terbaru FX ini. Enam episode pertama berada dibawah kendali sosok berpengalaman yang telah bermain-main di berbagai tv-series seperti Californication, It's Always Sunny in Philadelphia, Parks and Recreation, The Office, Scrubs, 30 Rock, hingga Breaking Bad, dengan cerita disusun oleh novelis yang pernah berkontribusi di Bones, serta yang terpenting ikut melibatkan Coen Brothers, baik di bagian produksi hingga writing credit. So, is it that great? Not yet, but the first impression is absolutely impressive. It’ll be easy to love "Fargo" if you already love "Fargo".

Movie Review: The Hobbit: The Desolation of Smaug (2013)


"You are being used, hobbit,"

Walaupun tidak mampu tampil mencapai standard yang telah ia ciptakan lewat The Lord of the Rings, kehadiran The Hobbit: An Unexpected Journey tahun lalu sangat tidak layak diberikan label sebagai sebuah presentasi yang buruk dari seorang Peter Jackson. Lagipula masih mudah untuk memaafkan An Unexpected Journey jika menilik statusnya sebagai film pertama sebuah trilogi. Namun hal tersebut tidak berlaku bagi The Desolation of Smaug, yang celakanya justru tidak memberikan sebuah perkembangan yang mengagumkan.

Movie Review: The World's End (2013)


Apakah menjadi dewasa adalah sebuah proses alamiah dimana ia akan muncul dan menghampiri anda ketika saatnya telah tiba, atau justru merupakan sesuatu layaknya harta karun yang hanya dapat anda dapatkan dengan berupaya untuk menemukannya. Enam tahun berlalu, mereka kembali, film ketiga dari The Three Flavours Cornetto trilogy, Simon Pegg dan Nick Frost, tidak ada zombie, tidak ada polisi gila, hanya dengan obsesi pada beer dan masuk kedalam petualangan sci-fi comedy dengan sentuhan apocalypse, The World's End, menyenangkan.

Movie Review: The Hobbit: An Unexpected Journey (2012)


Setelah tertidur hampir 9 tahun sejak terakhir kali ia muncul, akhirnya para hobbit itu kembali. Meraih 11 piala Oscar di film terakhirnya, menjadikan beban yang diemban The Hobbit sangat besar. Ini adalah prekuel dari The Lord of the Rings trilogy, kembali ke 60 tahun sebelum LOTR, dimana Bilbo Baggins (Martin Freeman) didatangi oleh Gandalf (Ian McKellen), dan diminta bergabung bersama 13 kurcaci lainnya untuk merebut kembali harta karun yang diambil oleh Smaug sang naga.