Showing posts with label Meryl Streep. Show all posts
Showing posts with label Meryl Streep. Show all posts

Movie Review: Don't Look Up (2021)

“Everything is theoretically impossible until it is done.”

Mengantisipasi musnahnya manusia akibat potensi resiko bencana global yang kini tampak semakin menakutkan itu berbagai pihak mulai berlomba untuk menjelajahi antariksa, mencoba menemukan solusi baru yang bisa digunakan untuk menghindar dari bencana yang berasal dari dua sumber, yakni risiko antropogenik akibat ulah manusia seperti global war hingga overpopulation, serta risiko non-antropogenik yang disebabkan alam, seperti erupsi dan asteroid impact event. Tapi pertanyaannya sederhana: siapa yang tahu tanggal pasti kiamat akan terjadi? Dulu katanya di tahun 1999, 2012, semua berlalu aman lantas membuat isu “kiamat” mulai dipertanyakan karena bersifat tidak pasti. Dampak dominonya risiko eksistensial tampak normal serta skeptisisme juga semakin mendominasi, and that, my friend, is the real horror. ‘Don't Look Up’ : amusing script clumsily cooked.


Movie Review: Little Women (2019)


“I love it. It’s romantic.”

Bakat bercerita di dalam media film layar lebar yang ia punya sebenarnya sudah terlihat sejak ia menjadi co-writer untuk Noah Baumbach pada film ‘Frances Ha’ yang kemudian naik ke level berikutnya di ‘Mistress America’. Namun ‘Lady Bird’ adalah pembuktian terbesar dari seorang Greta Gerwig yang membawa namanya naik semakin tinggi dan kemudian masuk ke dalam kategori “filmmaker to watch”. Gerwig punya style yang unik, ia membuat semua tampak santai namun terasa tajam, dan itu kembali ia sajikan di film ini. Little Women: compelling and charming, it’s a film that has to be seen.

Movie Review: Mary Poppins Returns (2018)


“Mary Poppins, it is wonderful to see you!”

Mary Poppins, practically perfect in every way. Ya, itu memang, because it's Supercalifragilisticexpialidocious! Menjadi salah satu karakter paling ikonik yang pernah hadir di industri perfilman dunia, butuh waktu selama lima dekade dan empat tahun untuk Mary Poppins mendapat kesempatan berikutnya untuk menyapa para penonton, kesempatan untuk menyuntikkan energi gembira sesuai dengan prinsipnya, yaitu in every job that must be done, there is an element of fun. Hasil akhirnya? ‘Mary Poppins Returns’: a spoonful of sugar.

Review: Florence Foster Jenkins (2016)


"Music is my life."

Apakah sikap menyerah merupakan sebuah pilihan? Mungkin iya, mungkin tidak, semua tergantung pada seberapa besar dan keras niat serta usaha yang kamu miliki untuk mencapai apa yang kamu inginkan. Hal tersebut yang coba digambarkan oleh film ini, Florence Foster Jenkins, karya terbaru dari sutradara Dangerous Liaisons, High Fidelity, The Queen, dan Philomena dengan menggunakan sebuah kisah nyata tentang seorang wanita yang kurang paham pada nada dan irama namun ingin menjadi seorang penyanyi. It’s a good enough boat for Meryl Streep to slaying awards season later.

Review: Ricki and the Flash (2015)


"No, mom, I am sick, that's why I'm in therapy."

Berbicara tentang potensi sulit untuk tidak memasukkan Ricki and the Flash kedalam list film paling diantisipasi tahun ini jika menilik tim yang ia miliki. Jonathan Demme (The Silence of the Lambs) memegang kendali di bangku sutradara, cerita di tulis oleh Diablo Cody (Juno, Young Adult), dan senjata utama mereka juga tidak sembarangan, Meryl Streep (kamu bisa isi dalam kurung ini sesuka hatimu). Ricki dan Flash pada akhirnya dengan baik memang mampu menyelesaikan kisah menarik tentang keluarga yang telah retak, namun dengan kombinasi seperti di atas tadi ia seharusnya berada di posisi yang lebih tinggi.

Review: Into the Woods (2014)


"Anything can happen in the woods."

Into the Woods ini adalah sebuah film yang mampu menghipnotis penontonnya. Mengapa? Sejak awal kamu dapat menilai dan merasakan bahwa ia punya beberapa kelemahan mendasar dari sebuah drama musikal tapi kehadiran mereka lama-kelamaan bukan semakin terasa mengganggu justru mulia berkurang secara perlahan karena kecerdikan film ini membawa penontonnya untuk seolah merasa terlibat di dalam sebuah pertunjukan menyenangkan yang mereka sajikan.

Review: The Giver (2014)


"When people have the power to choose, they choose wrong."

Berbicara potensi film ini punya peluang yang cukup besar untuk menjadi sensasi baru di kelompok young-adult pada dunia perfilman, selain karena materinya yang dianggap sebagai nenek moyang The Hunger Games, Divergent, dan lain-lain itu telah menjadi reading lists di middle school USA, Kanada, hingga Australia, tapi juga sedang booming-nya kesuksesan dari film dengan tema young-adult juga jelas layak untuk di coba. Namun meskipun punya Jeff Bridges, Meryl Streep, Katie Holmes, hingga Taylor Swift, The Giver hanya terasa seperti sebuah usaha setengah hati.    

Movie Review: August: Osage County (2013)


"I just want to make it better."

Sebenarnya apa makna sesungguhnya dari sebuah keluarga? Apakah keluarga hanya sebuah komunitas kecil dimana anda saling membantu dalam sebuah kesatuan, selalu bersatu saat menikmati suka dan menghadapi duka ketika masih bersama, namun kemudian menghapus hal tersebut ketika telah berpisah saat melangkah ke jenjang kehidupan yang lebih jauh. Dengan menggunakan konflik pernikahan film ini akan menggambarkan berbagai isu klasik dengan tema keluarga, August: Osage County, a dramatization parade about dysfunctional family.

Movie Review: Hope Springs (2012)


Mempertahankan sesuatu akan selalu lebih sulit daripada ketika anda meraihnya. Begitupula dengan cinta, dimana awalnya pasti akan sangat indah, namun belum tentu dapat berakhir dengan indah, apalagi ketika telah berjalan selama 31 tahun. Hal tersebut dialami oleh sepasang suami istri yang telah berada diusia senja mereka, Arnold (Tommy Lee Jones), dan Kay (Meryl Streep), telah tidur di ranjang yang berbeda, dan kamar yang berbeda pula, dalam periode yang cukup panjang, akibat gairah cinta yang telah hilang.