Showing posts with label Nicole Kidman. Show all posts
Showing posts with label Nicole Kidman. Show all posts

Movie Review: Being the Ricardos (2021)

“I need you to help me save my marriage.”

Ketika kamera telah diinstruksikan rolling dan kata “action” terucap dari Sutradara, maka seorang aktor atau pemeran harus telah menjadi karakter yang ia mainkan dan mengesampingkan hal lain yang tidak berkaitan dengan lakon yang berlangsung itu. Hal tersebut mungkin terkesan simple namun sebenarnya tidak mudah apa lagi jika “hal lain” tadi berkaitan dengan masalah personal yang di dalamnya emosi serta amarah telah berkuasa. Sama seperti judulnya karakter utama film ini mencoba untuk tetap menjadi karakter yang ia perankan di sebuah television sitcom populer tidak peduli pada fakta bahwa dirinya mengalami guncangan akibat berbagai macam masalah yang seolah sengaja datang bersamaan. Being the Ricardos’: hit cruising altitude at peace.


Movie Review: Aquaman (2018)


“Atlantis has always had a king. Now it needs something more.”

Warner Bros. pada awalnya seolah merasa "gengsi" untuk membuat DC Extended Universe mereka keluar dari tone “dark” yang sedari awal diusung. Namun menariknya di ‘Wonder Woman’ justru hadir sedikit pergeseran tone yang membuahkan hasil sangat positif. Beban kemudian berpindah ke pundak Aquaman dengan tantangan utama yang masih sama: mampukah film selanjutnya di DC Extended Universe tidak hanya sekedar meneruskan kesuksesan ‘Wonder Woman’ meraih cinta dari penonton, namun juga menjadi an engaging superhero movie with more “good” fun? Aquaman: a wild and weird rollercoaster.

Review: Lion (2016)


"I have to find my way back home." 

Salah satu hal menarik dari setiap awards season adalah: film apa yang akan The Weinstein Company pilih sebagai "jagoan" mereka? Tahun ini awalnya terdapat tiga opsi, pertama film yang dibintangi Michael Keaton dan bercerita tentang McD dan berikutnya adalah film dengan cerita berlatar belakang Indonesia yang shooting di Thailand dan dibintangi oleh Matthew McConaughey. Dua film tersebut menariknya sampai saat ini justru berada di belakang film ini, Lion, yang secara “star factor” terasa lebih kecil ketimbang dua film tadi. But actually The Weinsteins know what they're doing here, memilih untuk “mendorong” Lion di awards-season ternyata sebuah keputusan yang sangat beralasan because this one is an emotional movie about life with Google Earth.

Review: Genius (2016)


"We really making books better, or just making them different."

Sebagai seorang penulis pemula di blog ini (and not superbly good on “playing” with bahasa) saya merasakan banyak manfaat ketika tulisan saya (yang saya inginkan) menjalani proses editing terlebih dahulu sebelum dipublikasikan. Awalnya memang terasa kurang rela ketika tulisan saya di “modifikasi” sedemikian rupa meskipun skalanya sangat kecil, namun ternyata dampaknya sangat besar, tulisan saya menjadi lebih padat dengan ide dan point yang ingin disampaikan tetap eksis pula. Hubungan antara penulis dan editor itu yang coba diceritakan oleh film ini lengkap dengan berbagai gesekan di dalamnya, Genius, a good enough biographical drama even though did not live up its title.

Review: Secret in Their Eyes (2015)


"The truth lies in the most unexpected places."

Judul yang mereka miliki dalam bahasa Inggris memang hanya berbeda di the pada bagian depan, tapi perbedaan hasil yang diberikan oleh film ini dengan The Secret in Their Eyes (El secreto de sus ojos) cukup besar. The Secret in Their Eyes merupakan sebuah crime thriller yang menjadi wakil Argentina di ajang 82nd Academy Awards di mana ia berhasil menjadi film berbahasa asing terbaik. Secret in Their Eyes? Ini merupakan drama misteri dengan bumbu romance yang mencoba “menipu” penontonnya.

Movie Review: Paddington (2014)


"Families always stick together."

Film yang merupakan kolaborasi dua production company dari UK dan Perancis (Heyday Films dan StudioCanal) dimana satu diantara mereka merupakan sosok penting di balik salah satu film series paling popular bernama Harry Potter ini seperti jawaban atas kerinduan penonton pada sebuah film keluarga di akhir tahun. Bukan menandakan bahwa beberapa tahun terakhir tipe family movie menjadi arena yang kering namun sulit untuk menemukan film yang mampu membawa kita kembali merasakan hiburan akhir tahun misalnya seperti yang di berikan Home Alone di layar televisi Indonesia hampir setiap tahunnya, hiburan yang sederhana dan menyenangkan. Paddington, a fun adventure with happy little bear.

Review: Before I Go To Sleep (2014)


"Don't. Trust. Anyone."

Sangat mudah untuk jatuh kedalam perangkap yang dibuat oleh sebuah film dengan misteri sebagai jualan utamanya, terlebih dengan kesan ambigu yang mereka ciptakan kita bukan hanya berperan sebagai penonton yang menunggu namun secara perlahan akan mencoba untuk ikut mencari tahu jawaban dari berbagai pertanyaan yang ia berikan. Tapi film tipe seperti selain mudah untuk mencuri atensi penontonnya juga sangat mudah untuk kehilangan atensi, kehilangan daya tarik. Penyakit itu dialami film ini, Before I Go To Sleep.

Movie Review: Stoker (2013)


Seseorang pernah berkata kepada saya, “selalu persiapkan dirimu dalam setiap detik yang kau lalui, karena kau tidak tahu apa yang mungkin terjadi padamu satu jam, satu menit, bahkan satu detik kemudian”. Well, sangat sangat benar. Jika anda ingin mencari pembuktian termudah, maka Stoker adalah pilihan yang sangat tepat, film berbahasa inggris pertama dari sutradara korea yang pernah menelurkan salah satu film asia terbaik yang pernah saya tonton, Oldboy.