Showing posts with label Paul Bettany. Show all posts
Showing posts with label Paul Bettany. Show all posts

TV Series Review: WandaVision - Part 3 (Felina)


"You are my sadness and my hope. But mostly, you're my love."

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: WandaVision - Part 2


“So you're saying the universe created a sitcom starring two Avengers?”


Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero anggota The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


TV Series Review: WandaVision - Part 1


“We are an unusual couple, ya know?”

Setelah pertempuran di Avengers: Endgame, dua superhero anggota The Avengers mencoba melanjutkan kehidupan mereka sebagai manusia biasa, menyembunyikan kekuatan super mereka dari para tetangga di lingkungan baru yang menawarkan kehidupan pinggir kota yang indah. Namun ketika mulai menikmati hidup sebagai orang normal sepasang kekasih tersebut mulai merasa curiga dengan segala sesuatu yang terjadi di dalam hidup mereka yang mulai dipenuhi dengan berbagai hal ganjil dan aneh.


Movie Review: Uncle Frank (2020)

"I have two words for you. No. Problem."

Bayi yang baru lahir otomatis “dipaksa” mengikuti aturan dan sistem yang telah dibuat oleh orang-orang yang sebelumnya telah lahir, dalam hal ini orangtua mereka. Namun apakah hal tersebut membuat bayi yang kemudian tumbuh menjadi manusia dewasa tersebut tidak memiliki hak untuk memilih, menentukan, dan melakukan apa yang ia inginkan? Pada beberapa hal itu bukan hal yang mudah karena people dictate who you are, namun keputusan akhir ada di tangan kamu, apakah kamu mau menjadi seperti yang kamu inginkan, atau justru kamu ingin menjadi seperti yang orang lain inginkan? ‘Uncle Frank’: imagination, life is your creation.


Review: Legend (2015)


"Me and my brother, we're gonna rule London!"

Bukankah menggunakan kata legenda sebagai judul film sudah menunjukkan bahwa film tersebut memiliki rasa percaya diri yang tinggi? Ya, benar, tapi terdapat makna lain selain itu, bisa sebagai cover misalnya untuk menutupi kekurangan yang ia miliki. Legend punya tiga hal yang ingin ia sampaikan, ia berniat memberikan kamu kekerasan penuh ketegangan dan ancaman, ia ingin memberikan kamu kisah cinta dengan bumbu asmara, dan ia ingin menggambarkan moral serta martabat dengan menggunakan perubahan. Pertanyaan setelah itu hanya satu, apakah Legend berhasil menjadi legenda?

Review: Mortdecai (2015)


"It made me feel dirty."

Ketika ia baru saja berakhir yang pertama terlintas di pikiran saya justru bukanlah apa saja hal-hal positif dan juga negatif yang dimiliki oleh Mortdecai secara garis besar, yang sesungguhnya dapat ditemukan dengan sangat mudah. Hal lain yang mengganggu pikiran saya adalah bagaimana Mortdecai justru menambah panjang daftar film milik Johnny Depp dimana ia memberikan performa yang “menyedihkan”, performa yang akan membuat kamu terkejut jika mengingat kembali di tahun 2003 hingga 2007 Captain Jack Sparrow pernah tiga kali bertarung di ajang Oscar pada kategori pemeran utama terbaik. Mortdecai is nearly awful, it’s all about mustache, about mustache, a lot of trouble.

Movie Review: Transcendence (2014)


"Humans are born, not programmed."

Anda pasti pernah mendengar prediksi yang mengatakan beberapa puluh tahun dari sekarang manusia tidak hanya akan bersaing dengan sesama manusia, melainkan juga teknologi yang mereka ciptakan. Positif dan negatif hadir pada obsesi manusia untuk terus bergerak maju, eksplorasi ilmu pengetahuan yang dapat menciptakan mahakarya namun dapat pula menghadirkan bencana. Isu tersebut yang dibawa oleh film ini, mempermainkan simbiosis antara manusia dan teknologi, seolah mengajak penonton untuk berseru “let’s set the limit.” Transcendence, clever ideas in tangled structure. It should be a love story.

Movie Review: Margin Call (2011)



Margin Call dalam bidang keuangan adalah kondisi yang terjadi ketika jumlah jaminan wajib dari suatu perusahaan berada dibawah batas minimum yang telah ditetapkan. Untuk mengatasi hal tersebut, ada tiga cara yang dapat investor lakukan, meminjam uang, menjual sekuritas, dan kontrak berjangka. Jika ketiga cara tersebut tidak dapat terlaksana, maka broker akan menjual surat berharga milik perusahaan untuk menutupi margin call yang terjadi. Sedikit membingungkan memang, namun film yang merupakan debut dari J.C. Chandor ini akan menyajikan tontonan yang jauh lebih simple dari yang anda bayangkan ketika membaca pengertian margin call tadi.