Showing posts with label Paul Giamatti. Show all posts
Showing posts with label Paul Giamatti. Show all posts

Movie Review: Jungle Cruise (2021)

“All legends are born in truth.”

Disney already has their own magic also tried-and-tested ingredients. Ya, itu benar dan tidak heran jika mayoritas film yang ditelurkan oleh studio Walt Disney kerap memiliki signature yang sangat khas, termasuk saat mereka mencoba membuat atau memperluas waralaba milik mereka. Kali ini bukan dari film kartun melainkan dari sebuah wahana hiburan Jungle Cruise di Disneyland, simulasi pelayaran perahu yang membawa pengunjung seolah sedang berkeliling dunia, menjadi dasar bagi upaya Disney untuk mencoba perutungannya mengulangi kesuksesan yang pernah diraih oleh Pirates of the Caribbean. A direct hit? ‘Jungle Cruise’ : a generic but energetic tame adventure.

 

Review: Morgan (2016)


"I’m starting to feel like myself."

Sebuah science fiction psychological thriller berjudul Ex Machina berhasil menjadi salah satu kejutan terbesar di industri film tahun lalu, memainkan isu klasik tentang teknologi yang digunakan untuk mencoba memprovokasi dan “mempermainkan” penontonnya lalu in the end will leave you breathless. Isu yang sama coba dihadirkan kembali oleh film ini, Morgan, sebuah science fiction horror dengan fokus utama pada sebuah eksperimen “manusia menciptakan manusia” yang sedang terancam gagal. It’s an alike-but-not-alike imitation and an action-horror version of Ex Machina.

Review: The Little Prince [2015]


"Growing up is not the problem, forgetting is."

Paman saya pernah mengatakan bahwa hal terindah yang ia alami sebagai orang tua adalah ketika melihat anaknya yang masih berusia lima tahun berlari-lari di ruang tamu dengan mainannya. Dia juga pernah melontarkan dua hal yang salah satunya membuat saya merasa aneh kala itu, pertama bahwa ia tidak ingin anaknya tumbuh dewasa, dan ia ingin anaknya menikmati menjadi “anak-anak”. Dua hal itu yang jadi isu utama dari The Little Prince, hubungan dua arah antara dewasa dan anak-anak yang dikemas dalam bentuk animasi yang cukup manis.

Review: Straight Outta Compton (2015)


"People are scared of you guys. They think you're dangerous, but the world needs to hear it."

Straight Outta Compton adalah bintang yang tak terduga di box-office tahun ini, enam hari sejak rilis berhasil meraih $67 juta dollar, berhasil meraih hati dan cinta bukan hanya dari penonton umum namun juga para pengamat film. Apa yang menyebabkan film ini mendadak menjadi hit yang mencuri atensi skala besar? Strategi marketing serta pengaruh sosok ternama seperti Dr. Dre dan Ice Cube di balik layar? Mungkin saja, namun dibawah kendali sutradara The Italian Job film yang menyandang status sebagai sebuah biopic ini layak mendapatkan cinta tersebut.

Movie Review: The Amazing Spider-Man 2 (2014)


I like to think Spider-Man gives people hope.

Di edisi pertama reboot miliknya dua tahun lalu itu superhero jenius dengan gerak cepat dan refleks yang memikat ini berhasil membuktikan bahwa ia tidak menjadi sesuatu yang totally useless ketika kembali beraksi bersama tubuh dibalut latex ketat itu hanya lima tahun setelah ia melakukan aksi terakhirnya. Sukses menampar sikap pesimis, beban yang sedikit berkurang, edisi kedua ini berhasil tampil lepas untuk menawarkan kembali cerita familiar itu dalam sebuah petualangan yang menyenangkan masih dengan aksi terbang dan melayang di antara gedung pencakar langit kota New York. The Amazing Spider-Man 2: Rise of Electro, when music and action sequence kill a bit draggy story minus. I'll simply say it's on again, it's on again. 

Movie Review: Saving Mr. Banks (2013)


"You don't know what she means to me." 

Tidak dapat dipungkiri pasti ada memori kelam dari masa lalu yang masih sangat sulit untuk anda lupakan, kebanyakan dari mereka berasal dari benda-benda kenangan yang masih menyimpan makna dari peristiwa tersebut. Bagaimana cara keluar dari problema tersebut? Saving Mr. Banks coba menggambarkan situasi tersebut, kisah yang bercerita dengan sangat tenang, namun punya salah satu performa paling kuat di tahun ini.     

Movie Review: 12 Years a Slave (2013)


"I don't want to survive. I want to live."

Rasisme sebenarnya bukan sebuah masalah, melainkan suatu budaya yang sudah lahir sejak ratusan tahun yang lalu, sebuah penyakit yang tidak bisa hilang dalam sekejap. Butuh proses, butuh alarm yang berfungsi untuk terus mengingatkan kita pada betapa kejinya tindakan tidak manusiawi tersebut. 12 Years a Slave sukses besar dalam menjadi alarm paling baru, seperti menyaksikan Django Unchained dalam warna yang lebih gelap, dengan cara sederhana menghadirkan pengamatan yang intens dan mengerikan dari isu kemanusiaan. Oscar?  

Movie Review: Turbo (2013)

 

“No dream is too big, and no dreamer is too small.”

There can be miracles when you believe. DreamWorks kembali membuktikan makna dari nama yang mereka pakai, salah satu studio animasi yang mampu membawa para penontonnya untuk tidak pernah berhenti bermimpi. Kali ini mereka menggunakan para siput, hewan yang dikenal memiliki gerak yang sangat lambat, dan memasukkan mereka kedalam dunia balap mobil Indy 500. Sederhana, predictable, manis, dengan eksekusi yang tidak sebesar ambisi.

Movie Review: Rock of Ages (2012)


Semua tindakan yang anda lakukan pasti memiliki resiko. Hal tersebut yang ingin Adam Shankman sampaikan melalui karya terbarunya ini, film drama musikal berbalut komedi berjudul Rock of Ages. Dengan latar tahun 1987, Shankman akan mengajak anda menyaksikan perjuangan yang dihadapi karakter dalam cerita, dari seorang wanita muda yang datang ke Hollywood dan langsung jatuh cinta kepada seorang pria, istri seorang walikota yang mencari perhatian media massa, pemilik sebuah klub yang berusaha mempertahankan klub miliknya, hingga blunder dari seorang manager yang rakus akan uang.