Showing posts with label Rodrigo Santoro. Show all posts
Showing posts with label Rodrigo Santoro. Show all posts

Review: Ben-Hur (2016)


"Racing is a blood sport, if you lose, you die."

Rilis 57 tahun yang lalu, meraih 12 nominasi Oscars dan hanya kalah di satu kategori saja dan membuatnya menjadi film peraih Oscars terbanyak selama hampir empat dekade sebelum akhirnya disamai oleh Titanic di tahun 1997, “Ben-Hur (1959)” dianggap sebagai one of the greatest films ever made terutama pada genre religious. Dengan pencapaian memukau yang diraih oleh satu dari lima film adaptasi novel Ben-Hur yang telah eksis sebelumnya itu pertanyaan utama yang muncul adalah apa yang ingin dilakukan dan dicapai oleh film ini yang disebut sebagai re-adaptation, reimagining, and new interpretation of the novel? Dengan teknologi terkini tentu saja visual akan terasa lebih baik, tapi hanya itu? A shallow re-adaptation, reimagining, new interpretation of the novel and remake for the classic one, it’s a $100 million C-movie. Oscars worthy? Hah.

Review: Jane Got a Gun (2016)


"I will kill you."

Sejak pertama kali diumumkan akan diproduksi pada tahun 2012 yang lalu film ini telah mengalami banyak masalah dengan Natalie Portman sebagai anggota asli yang bertahan di posisi aslinya hingga akhir. Dari Michael Fassbender, lalu Jude Law, hingga Bradley Cooper, kemudian ditinggal oleh sutradara, hingga kasus bangkrut rumah produksi, Relativity Media, akhirnya proyek bermasalah dengan judul Jane Got a Gun ini sukses menemukan senjata yang akan ia gunakan dan berhasil menyapa penonton. Pertanyaan berikutnya adalah apakah senjata itu punya peluru yang cukup atau tidak? Jane masih butuh Thor!

Review: The 33 (2015)


"I knew this place was dangerous!"

Kecelakaan pertambangan Copiapó yang terjadi pada tahun 2010 merupakan salah satu perisitiwa menakutkan yang dapat membunuh 33 penambang yang terperangkap di bawah tanah. Usaha penyelamatan yang memakan waktu 69 hari menjadi perhatian dunia kala itu, dan fakta bahwa 33 orang penambang tadi berhasil tetap hidup dan selamat dari maut yang siap menghampiri mereka kapanpun itu menjadi sebuah kisah perjuangan hidup yang inspiratif. Jangan heran lima tahun kemudian muncul film yang berusaha menggambarkan kembali kisah yang memang layak dibawa ke layar lebar tersebut. Masalahnya adalah apakah The 33 mampu menghadirkan magic dari kisah ajaib tersebut?

Movie Review: Focus (2015)


“Congratulations, you’re a criminal.”

Tema yang ia bawa memang tidak begitu istimewa terlebih dengan sokongan sinopsis yang dapat dikatakan cukup sulit untuk dengan mudah menarik atensi penonton, namun dibalik itu justru ada fokus lain yang terasa lebih menarik dari film terkait dua bintang utamanya. Apakah Will Smith dapat kembali kedalam trek yang “sehat”? Apakah Margot Robbie berhasil memanfaatkan kesempatan yang ia miliki untuk terus bergerak maju setelah The Wolf of Wall Street? Uniknya fokus yang kurang fokus tadi ternyata tidak hanya menjadi sajian pembuka bagi film ini. Focus: an undynamic trick picnic.

Movie Review: 300: Rise of an Empire (2014)


"Better we show them, we chose to die on our feet, rather than live on our knees!"

This is Sparta!!! Apa yang ada dipikiran anda ketika mendengar kalimat itu? Seorang pria yang bermimpi menjadi Superman namun sayangnya hanya punya celana dalam dan tak bisa melindungi kumpulan otot miliknya? Tidak hanya itu, namun sebuah kalimat sederhana dari para pria dengan perawakan kekar yang bukan hanya mampu menunjukkan semangat mereka, namun juga sanggup membuat kita sebagai penonton mengangkat tangan dan berteriak “ahoo, ahoo, ahoo.” Ia tidak megah, namun 300 punya keunikan yang menjadikannya sebagai sebuah kenangan. Kemasan past, present, dan future dari 300 ini tidak punya hal tersebut, 300: Rise of an Empire, it’s about scream, blood, slow motion, and abs!!! Without dignity. Oh, also British who fight for Greece!!! Bland. Borefest.