Showing posts with label Thomas Mann. Show all posts
Showing posts with label Thomas Mann. Show all posts

Movie Review: Halloween Kills (2021)

“He creeps, he kills, he goes home.”

Sejak terror pertamanya di film ‘Halloween’ tahun 1978 yang lalu, Michael Myers telah mengukuhkan diri sebagai salah satu iconic figure in the horror genre, identik dengan horror slasher di mana aksi pembunuhan massal kejam menggunakan chef's knife telah menjadi signature yang lekat dengannya. Tiga tahun lalu Sutradara film ‘Pineapple Express’ disokong blockbusters for pennies maestro, Jason Blum, sukses menghadirkan retroactive continuity dari film tersebut dan mengubahnya menjadi profit sebanyak 25 kali dari budget, maka tidak heran jika kelanjutannya kemudian muncul, film ke-12 dari Halloween film series. ‘Halloween Kills’: moving sideways with a lot of blood.


Review: Blood Father (2016)


"My name is John Link, and I’m a real success story."

Seorang wanita muda sedang berada dalam bahaya yang kemudian membuat sang ayah terlibat dengan mengotori tangan miliknya untuk menyelamatkan sang putri, tampak seperti Taken bukan? Konsep muncul masalah lalu diteruskan dengan aksi kejar berisikan usaha balas dendam seperti ini sudah sangat familiar, mayoritas yang mencoba melakukannya kerap terjerat penyakit klise revenge-thriller seperti terlalu tipis, terlalu lesu, dan terlalu berantakan. ‘Blood Father’ bukan salah satu dari mereka, memberikan kejutan yang banyak mengingatkan pada impresi yang diberikan Cop Car tahun lalu yang berhasil mencuri perhatian lewat kesederhanaan dan efektifitas yang ia berikan. Warm but nasty, it feels like mad Max doing a ‘Taken’.

Review: Me and Earl and the Dying Girl (2015)


"One last thing. Hot girls destroy your life. That's just a fact."

Judulnya memang terkesan mencoba untuk meninggalkan kesan lucu, faktanya film ini memang sebuah kisah coming-of-age yang lucu, tapi di balik itu Me and Earl and the Dying Girl memiliki sesuatu yang menjadikannya tidak sama seperti film drama komedi bertemakan romance dan persahabatan kelas standar. Ini seperti menyaksikan film Wes Anderson tanpa keterlibatan Wes Anderson di dalamnya, mencampur sedih dan tawa bahagia, sebuah petualangan visual dan emosi yang meninggalkan penonton dengan perasaan campur aduk yang segar dan menyenangkan.

Greg Gaines (Thomas Mann) merupakan pelajar SMA yang gemar membuat parodi dari film-film terkenal bersama sahabatnya Earl (RJ Cyler), dengan lebih dari 40 buah film parodi telah berada di filmografi mereka. Greg punya konsep menarik dalam kehidupan di sekolahnya, ia tidak pernah mencoba terlalu akrab dengan siswa lain di luar Earl dan guru mereka Mr. McCarthy (Jon Bernthal). Hasilnya, remaja yang dalam tekanan untuk memutuskan kemana ia akan melanjutkan studi itu menjadi anggota dari banyak kegiatan ekstrakurikuler. Namun kehidupan Greg suatu ketika berubah, sang ibu (Connie Britton) meminta Greg untuk “menghibur” Rachel Kushner (Olivia Cooke), teman sekelas yang terasa asing bagi Greg, remaja yang telah didiagnosis mengidap leukemia.



Pada awalnya ini terkesan predictable, mungkin banyak disebabkan oleh cerita yang memang masih sangat sederhana, tapi secara perlahan-lahan dan penuh percaya diri Alfonso Gomez-Rejon membuat cerita dan karakter bukan cuma sekedar mencuri perhatian penonton tapi membuat mereka jatuh hati serta kemudian mencintai cerita dan juga karakter. Sulit untuk tidak mengikut sertakan nama Wes Anderson dalam pembahasan karena Me and Earl and the Dying Girl sangat kental dengan rasa unik khas Wes Anderson, baik itu dari presentasi visual hingga bagaimana Alfonso Gomez-Rejon memainkan unsur drama, komedi, persahabatan, hingga romance secara seimbang dan juga sangat sopan.



Iya, Me and Earl and the Dying Girl terasa mempesona karena ia tidak mencoba mengikat kamu pada satu dari empat bagian tadi, justru mencampur mereka dengan nikmat. Me and Earl and the Dying Girl punya kisah persahabatan sebagai pondasi utama tapi tidak dipoles secara berlebihan, penonton dengan cepat merasakan kehangatan dari hubungan antara Greg dan Earl. Setelah itu eksis lalu muncul Rachel, dan koneksi antara tiga karakter utama juga dengan cepat dan efektif terbangun. Itu mengejutkan jika melihat dua karakter utama pada dasarnya merupakan remaja yang seolah terlalu santai dalam menghadapi masa depan dan tenggelam dalam hobby mereka. Greg dan Earl mencuri simpati dan empati, lalu Rachel masuk menjadi jembatan menuju kisah menemukan "jalan pulang".



Me and Earl and the Dying Girl pada dasarnya merupakan kisah dari tiga remaja yang “hilang” dalam kehidupan mereka, lalu menciptakan simbiosis sehingga saling membantu untuk menemukan jalan pulang. Sama seperti drama dengan emosi yang tidak mencoba terlalu keras menjadi sebuah tearjerker, proses bertumbuhnya karakter juga tampil natural, Me and Earl and the Dying Girl bercerita secara tenang dan hangat dengan mengandalkan keintiman dan rasa relatable yang telah terbangun antara cerita, karakter, dan penonton sebagai senjata utama. Memiliki animasi stop-motion, memiliki lelucon yang beberapa di antara mereka berhasil menciptakan momen lol, tapi hati selalu teguh berdiri sebagai pusat utama Me and Earl and the Dying Girl meskipun ia selalu berpindah dari gelap dan terang dengan gerak cepat.



Selain eksekusi Alfonso Gomez-Rejon yang oke, skenario yang asyik, editing yang manis, kinerja cast juga punya andil besar dalam kesuksesan yang dicapai Me and Earl and the Dying Girl. Thomas Mann menjadikan Greg sebagai remaja norak yang charming, punya karisma tersembunyi yang manis. RJ Cyler membuat Earl sebagai penyeimbang bagi Greg dengan cara yang tepat, saya suka cara ia menjadi penggambaran sisi “I don’t give a” dari dunia remaja. Dan Olivia Crooke menjadi pelengkap yang cantik, berperan sebagai gadis yang sedang sekarat ia mencuri simpati dan empati tapi memiliki kehangatan yang membuat Rachel begitu mudah untuk dicintai karena pertolongan secara tidak langsung yang juga ia berikan kepada Greg dan Earl. Pemeran pendukung seperti Molly Shannon dan Nick Offerman juga menjalankan tugas mereka dengan baik.




Me and Earl and the Dying Girl merupakan sebuah prestasi sinematik yang cantik, membawa penonton menyaksikan kisah coming-of-age berisikan persahabatan di mana tiga remaja saling menyembuhkan satu sama lain. Tidak hanya menarik tapi cerita dan karakter begitu mudah untuk dicintai, dengan nada yang ringan dan ritme yang tepat menjadi sebuah petualangan visual dan emosi yang menggambarkan “kehidupan” sebagai sebuah renungan yang serius tanpa mencoba terlihat dan terasa terlalu serius dan kaku. Hasilnya, energi yang konsisten sejak awal hingga akhir menjadikan finale terasa begitu menyayat hati. An "authentic" emotional journey.












Cowritten with rory pinem

Movie Review: Beautiful Creatures (2013)

 

Everything has a price. Ketika anda mencoba untuk mengikuti cara dari sesuatu yang pernah menuai sukses, maka di sisi lain anda juga harus siap menerima resiko bahwa hal yang akan anda lakukan itu mungkin akan tidak menuai sukses seperti apa yang anda harapkan, apalagi jika anda menggunakan formula yang sama tanpa memberikan sebuah “warna” baru yang memikat sebagai pembeda. Beautiful Creatures? Ciptaan yang indah?