Showing posts with label Timothy Spall. Show all posts
Showing posts with label Timothy Spall. Show all posts

Movie Review: Spencer (2021)

Beauty is useless. Beauty is clothing.

Di bagian awal film yang dibuka dengan tulisan “a fable from a true tragedy” ini ada satu scene seekor burung yang telah mati dan menjadi bangkai tergeletak di jalan satu arah, disorot dari sudut close-up dengan mengambil fokus pada bangkai tadi kemudian dari arah kejauhan perlahan lima buah mobil milik pasukan Britania Raya bergerak mendekat ke bangkai tersebut. Dari arah bawah kamu melihat mobil-mobil tersebut satu per satu melintas, tiga mobil tidak melindas bangkai tadi namun tidak ada yang tahu bagaimana nasib bangkai burung tadi setelah dua mobil tersisa telah melintas. Bangkai burung tersebut seolah menggambarkan situasi karakter utama film ini, Lady Diana, istri pertama Pangeran Charles, pewaris takhta kerajaan Britania Raya. ‘Spencer’: she set fire to the rain.


Movie Review: Denial [2016]


"I think I called him a liar and also fire of history."

Salah satu hal yang menjadi bagian dari sejarah di masa lalu dan dapat kita temukan di kehidupan sekarang ini adalah mereka yang mencoba untuk “menolak” eksistensi dari berbagai peristiwa maupun aksi yang sebelumnya pernah terjadi. Memang ada arsip tapi hal tersebut tidak serta merta akan membuat opini dan ideologi dari semua orang otomatis akan sama sehingga akan selalu ada deniers di sana. Hal tersebut coba diceritakan oleh film ini, Denial, dengan menggunakan peristiwa Holocaust sebagai bahan utamanya dan berdasarkan dari sebuah kisah nyata yang berisikan moral integrity di dalamnya. It’s a compelling courtroom drama.

Review: Mr. Turner (2014)


"The sun is God! Ha ha ha!"

Pada dasarnya saya juga tidak tahu sama sekali dengan sosok J. M. W. Turner sebelum menyaksikan film ini, seorang pelukis asal Inggris yang dikatakan memiliki sikap radikal dibalik karya-karya miliknya yang epic. Nah, kondisi tersebut sebenarnya justru menghasilkan sebuah kesulitan yang besar bagi film ini karena dengan begitu tugasnya untuk memperkenalkan saya pada sosok Turner menjadi lebih sulit, tapi menariknya ia berhasil membuat saya menikmati sajian yang ia berikan tapi juga menjadikan saya mengagumi sosok Turner yang tidak saya kenal sama sekali di awal tadi. Sebuah pencapaian yang memukau bukan? Gorgeous. 

Movie Review: Upside Down (2012)


Gravitasi, sebuah gaya yang menarik anda menuju inti bumi, gaya tarik yang selayaknya patut kita syukuri karena berhasil melindungi umat manusia dari hal-hal "aneh". Tapi, ada pula sesuatu yang kita sebut cinta, sebuah rasa yang sering disebut sebagai anugerah terindah Tuhan kepada ciptaannya. Cinta dilabeli sebagai power yang dapat mengalahkan semuanya, bahkan untuk dua insan yang terpisah di dua dunia yang saling berhadapan, atas dan bawah. Upside Down, jawaban atas sebuah pertanyaan, what if love was stronger than gravity?