Showing posts with label Woody Harrelson. Show all posts
Showing posts with label Woody Harrelson. Show all posts

Movie Review: Venom: Let There Be Carnage (2021)

“Emotional pain, it hits much harder, and it lasts longer.”

Karakter Venom pernah muncul di film ‘Spider-Man 3’ tahun 2007 namun sekedar tempelan belaka, memang diperuntukkan oleh Sutradara Sam Raimi hanya “to make some of the real die-hard fans of Spider-Man finally happy.” President Marvel kala itu, Avi Arad, meminta Sam Raimi untuk tidak hanya fokus pada his favorite villains characters, “to incorporate Venom, to listen to the fans. Venom is the fan favorite. All Spider-Man readers love Venom.” Pesona Venom memang serupa Deadpool tapi butuh 11 tahun bagi Venom untuk pada akhirnya membuktikan pernyataan Avi Arad tadi, tiga tahun lalu menjadi box office success meskipun dari segi cerita dan tone tidak terasa kuat, termasuk koneksinya dengan Spider-Man. Motion capture maestro Andy Serkis didampuk sebagai Sutradara dan kali ini Venom ikut menulis cerita. ‘Venom: Let There Be Carnage’ : a compact enrichment.


Review: The Edge of Seventeen [2016]


"Are You even up there?!"

Masa remaja terutama periode coming-of-age di mana kamu mulai bertransisi dari remaja menuju dewasa kerap disebut sebagai masa-masa berisikan berbagai keindahan, tidak heran karena di sana kita mulai belajar banyak hal baru di dalam kehidupan. Tapi tidak semua orang bertemu dengan “keindahan” tadi, mereka yang menjalani masa remaja dengan perasaan tidak nyaman karena merasa memiliki berbagai “kekurangan” juga tidak kalah banyak jumlahnya. Tidak ada manusia yang sempurna dan di sini dengan mencampur drama bersama komedi dan tragedi ‘The Edge of Seventeen’ mencoba bercerita tentang hal tersebut. It's an adolescent story with heart, laugh, and authenticity. Also with a bit “horror” maybe.

Review: Now You See Me 2 (2016)


“The greatest magic trick ever created.”

Anggapan bahwa sebuah sajian yang thrilling harus memiliki "kehebohan" dalam presentasi yang bergerak cepat tidak sepenuhnya salah, namun tanpa “konteks” yang menarik di dalamnya tidak peduli seberapa heboh dan cepat gerak yang ia hasilkan sajian tersebut akan begitu mudah pula untuk terasa kosong. Mereka yang telah menyaksikan Now You See Me tentu akan paham atau mengerti bahwa Now You See Me 2 in the end punya potensi akan kembali berakhir sebagai sebuah rencana “cheat” atau manipulasi dengan menggunakan magic yang mencoba tampak luar biasa. Hal tersebut memang kembali terjadi di sini, namun kali ini in a bad way. Now You See Me 2 adalah another bullshit yang lebih “heboh” dan arogan.

Review: Triple 9 [2016]


"A deadly heist needs a killer distraction."

Sutradara John Hillcoat punya cara main yang unik, dari The Proposition dan Lawless semua mencoba mendorong sisi brutal ke panggung utama untuk mencuri perhatian penonton tapi di sisi lain Hillcoat juga menjaga agar kebrutalan itu terasa kering. Hal tersebut ia lakukan kembali di crime thriller penuh cast ternama ini, namun seperti judulnya yang merupakan kode dengan arti “officer needs help” itu Triple 9 ternyata tampil seperti sebuah rapat dengan agenda yang menarik namun berjalan dengan fokus yang lemah dan kemudian kehilangan arah. 

Review: The Hunger Games: Mockingjay – Part 2 [2015]


"But if you kill him, Katniss, all those deaths, they mean something."

Sampai kapan tren membagi bagian penutup dari sebuah film series yang jadi populer sejak dilakukan oleh Harry Potter lima tahun yang lalu itu akan bertahan? Dari segi finansial tentu saja bagus, lahan jadi bertambah banyak dan lebar yang juga bisa dimanfaatkan untuk menggambarkan cerita dan karakter menjadi lebih dalam dan detail. Tapi bagaimana jika sumber dari bagian penutup itu pada dasarnya tidak punya materi yang gemuk, seperti novel yang menjadi sumber The Hunger Games: Mockingjay – Part 2 ini? Riskan.    

Review: The Hunger Games: Mockingjay Part 1 (2014)


"The courage of one will change the world."

Film pertama dari bagian terakhir trilogy The Hunger Games ini bisa dibilang sedikit salah langkah dalam memainkan strategi yang mereka miliki, dan pusatnya seperti mayoritas keluhan dari banyak penonton terletak pada keputusan mereka untuk membagi satu novel menjadi dua. Kesalahan berasal pada film kedua, Catching Fire, yang secara mengejutkan menaikkan ekspektasi kita pada trilogy ini secara drastis, memberikan lompatan yang terbilang cukup besar pada sisi daya tarik jika dibandingkan dengan film pertamanya, yang juga mempengaruhi penilaian terhadap The Hunger Games: Mockingjay Part 1. We're at the start, the colours disappear. 

Movie Review: The Hunger Games: Mockingjay – Part 1 (2014)


“If we burn, you burn with us!”

Damn you Harry Potter, karena upaya empat tahun lalu untuk memanfaatkan potensi box-office dengan membagi film terakhir menjadi dua bagian kini perlahan akan bahkan telah menjadi trend baru yang menarik untuk dicoba. Bukan perlakuan yang merupakan sebuah dosa memang, namun masalahnya adalah tidak semua film adaptasi layak mendapatkan treatment seperti itu, tidak semua buku atau novel memiliki materi yang mumpuni untuk dipecah menjadi beberapa bagian, tentu ada hal positif, namun tidak sedikit pula hal negatif yang dapat muncul. Bagian pertama dari film terakhir trilogi perjuangan di negeri Panem ini menderita karena hal terakhir tadi, The Hunger Games: Mockingjay - Part 1, a bit forced, feeble, faint, and facile formality fission for farewell.

Movie Review: The Hunger Games: Catching Fire (2013)


"Every revolution begins with a spark."

I am a Tribute, that’s for sure. Namun anehnya antusiasme pada film kedua dari TheHunger Games ini sejak awal sesungguhnya tidak begitu besar, karena imo Catching Fire adalah buku paling lemah di antara dari tiga novel karya Suzanne Collins. Catching Fire hanya berisikan pengulangan dengan bumbu trik politik, ibarat sebuah jembatan yang menghubungkan The Hunger Games dengan ledakan besar pada Mockingjay. Hal tersebut juga akan dihadirkan oleh The Hunger Games: Catching Fire, sebuah memorable popcorn movie yang di eksekusi dengan penuh rasa percaya diri, surprisingly become a solid and full enjoyment ride, nearly awesome.

Movie Review: Now You See Me (2013)


"Look closely, because the closer you think you are, the less you’ll actually see."

Kalimat tersebut sebenarnya punya sebuah tugas yang sangat besar, sebagai bentuk dari peringatan dini atau mungkin petunjuk film ini kepada calon penontonnya pada cara terbaik untuk dapat menikmati suguhan yang akan ia berikan. Layaknya aksi sulap, mereka ingin agar anda tidak terlalu serius meskipun akan ada balutan tema heist didalamnya. Ya ya, don't take it too serious, he said. Oke, i'll take it lightly, i said from beginning. But, seriously, it was a farce, gentlemen.

Movie Review: Seven Psychopaths (2012)


Psikopat, unik dan berbahaya, karena dibalik tampilan normal yang mereka miliki psikopat merupakan sebuah threat terselubung yang dapat mengancam nyawa anda. Mereka bisa tampil lucu dan lembut, tapi mereka dapat berubah menjadi makhluk buas yang manipulatif, melakukan tindakan kriminal tanpa rasa empati dan toleransi. Seven Psychopaths, film komedi Inggris yang akan membawa anda bermain-main bersama para psikopat. Ya, para, karena dia punya tujuh orang psikopat.